Peneliti Unri Kembangkan Yogurt Probiotik Berdaya Simpan 28 Hari dengan Teknologi Mikroenkapsulasi
Tim peneliti Universitas Riau mengembangkan yogurt probiotik menggunakan teknologi mikroenkapsulasi berbahan pati sagu dan whey protein. Inovasi ini membuat bakteri probiotik lebih tahan selama penyimpanan dan mampu bertahan melewati saluran pencernaan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.
RINGKASAN BERITA:
- Peneliti Universitas Riau mengembangkan yogurt probiotik yang mampu mempertahankan kualitas bakteri baik hingga 28 hari penyimpanan.
- Teknologi mikroenkapsulasi berbahan pati sagu dan whey protein melindungi probiotik dari asam lambung dan perubahan suhu.
- Inovasi ini memanfaatkan bahan baku lokal sehingga berpotensi mendukung pengembangan industri pangan nasional dan kemandirian pangan Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Tim peneliti Universitas Riau (Unri) berhasil mengembangkan yogurt probiotik dengan teknologi mikroenkapsulasi yang mampu mempertahankan kualitas bakteri baik hingga 28 hari penyimpanan pada suhu dingin.
Inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efektivitas probiotik sekaligus memperluas pengembangan pangan fungsional berbasis bahan baku lokal.
Riset tersebut dipimpin Prof. Dr. Evy Rossi, MSc yang bersama tim memanfaatkan teknologi mikroenkapsulasi untuk melindungi bakteri probiotik menggunakan lapisan alami dari pati sagu dan whey protein.
Teknologi ini dirancang agar bakteri tetap stabil selama penyimpanan dan mampu bertahan saat melewati asam lambung hingga mencapai saluran pencernaan.
Melalui teknologi tersebut, bakteri probiotik tidak mudah rusak akibat paparan asam lambung, garam empedu, maupun perubahan suhu.
Perlindungan ini menjadi faktor penting agar manfaat probiotik tetap optimal setelah dikonsumsi.
Dalam penelitian itu, tim menggunakan Lactobacillus plantarum VP3.3 dan Streptococcus thermophilus sebagai kultur starter yogurt.
Hasil pengujian menunjukkan penggunaan starter mikroenkapsulasi sebanyak 7 persen menghasilkan kualitas yogurt terbaik.
Produk yang dihasilkan memiliki pH 4,36, kadar asam laktat 0,99 persen, total bakteri asam laktat mencapai 10,00 log CFU/mL, viskositas 546,37 cP, serta total padatan 10,40 persen.
Selain memiliki karakteristik yang baik, jumlah bakteri probiotik pada yogurt tetap memenuhi standar hingga 28 hari penyimpanan pada suhu dingin.
Temuan ini menunjukkan teknologi mikroenkapsulasi mampu menjaga kualitas produk lebih lama dibandingkan metode konvensional.
Prof. Evy Rossi mengatakan inovasi tersebut membuka peluang lebih besar bagi pengembangan pangan fungsional seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi produk yang mendukung kesehatan.
“Inovasi ini juga memiliki nilai strategis karena memanfaatkan pati sagu, salah satu sumber daya lokal Indonesia, sebagai bahan utama dalam proses mikroenkapsulasi. Pemanfaatan bahan lokal tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas daerah, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor dalam industri pangan,” terangnya dikutip dari laman Unri, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, yogurt probiotik dengan daya simpan lebih panjang berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Produk tersebut dapat membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjadi alternatif camilan bergizi bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Di sisi lain, hasil penelitian ini juga dinilai berpotensi memperkuat industri pangan nasional.
Pemanfaatan teknologi mikroenkapsulasi dan bahan baku lokal diharapkan mampu mendorong lahirnya produk pangan fungsional bernilai ekonomi tinggi sekaligus mendukung pengembangan industri pangan berbasis inovasi dan kemandirian pangan Indonesia. (*)