BRIN Kembangkan Riset DNA untuk Identifikasi Korban, Forensik, hingga Kesehatan Mental
Kemajuan teknologi DNA dimanfaatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat identifikasi korban bencana, investigasi kriminal, hingga pengembangan layanan kesehatan berbasis genetika. Peneliti BRIN, Abdul Hadi Furqoni, menegaskan riset genetika manusia yang dikembangkannya diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi penanganan persoalan kemanusiaan dan kesehatan di Indonesia.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN mengembangkan riset genetika manusia untuk mendukung identifikasi korban bencana dan investigasi kriminal.
- Teknologi DNA juga diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis karakteristik genetik.
- Riset genetika BRIN ditujukan agar memberikan manfaat nyata bagi penanganan persoalan kemanusiaan dan kesehatan di Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Peneliti Pusat Riset Biomedis BRIN, Abdul Hadi Furqoni, menjelaskan bahwa fokus penelitiannya mencakup genetika manusia, DNA forensik, genetika populasi, dan genetika medis.
Berbagai riset tersebut memanfaatkan teknologi DNA untuk identifikasi manusia, analisis kekerabatan, pemetaan keragaman genetik masyarakat Indonesia, penelitian penyakit genetik, hingga pengembangan biomarker yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Menurut Abdul Hadi, salah satu penelitian yang menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah pemetaan karakteristik genetik sejumlah kelompok etnis di Indonesia, seperti Madura, Bali, Banjar Hulu, dan Tengger.
Hasil penelitian tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun basis data DNA nasional.
"Data tersebut memiliki nilai strategis dalam mendukung pengembangan database DNA nasional yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, terutama dalam identifikasi manusia pada kasus bencana massal," kata dia dikutip dari laman BRIN. Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi sehingga memerlukan sistem identifikasi korban yang cepat dan akurat.
Karena itu, penelitian genetika populasi menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung proses Disaster Victim Identification (DVI).
Selain pemetaan populasi, Abdul Hadi juga mengembangkan metode identifikasi kekerabatan menggunakan saudara kandung.
Pendekatan ini menjadi solusi ketika korban tidak lagi memiliki orang tua yang dapat dijadikan pembanding DNA.
"Melalui analisis hubungan genetik antar saudara kandung, proses identifikasi tetap dapat dilakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan identifikasi korban pada berbagai kasus bencana maupun kasus kemanusiaan lainnya," ujarnya.
Di bidang forensik, Abdul Hadi meneliti pemanfaatan touch DNA, yaitu jejak DNA yang tertinggal setelah seseorang menyentuh suatu benda.
Penelitian tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan identifikasi pelaku maupun korban dalam investigasi kriminal.
Berbagai sampel telah diuji, mulai dari jejak bibir, bercak biologis pada kain, cincin, masker, hingga barang bukti lain yang ditemukan di tempat kejadian perkara.
"Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan identifikasi pelaku maupun korban dalam kasus kriminal serta memperkuat penggunaan bukti ilmiah berbasis DNA dalam sistem peradilan dan penegakan hukum di Indonesia," kata Abdul Hadi.
Kontribusi Abdul Hadi juga menjangkau proyek internasional, yakni repatriasi kerangka tentara Jepang yang gugur pada Perang Dunia II di Biak, Papua.
Dalam proyek tersebut, ia bertugas melakukan analisis DNA terhadap sampel tulang yang telah mengalami degradasi akibat usia puluhan tahun.
Profil DNA yang berhasil diperoleh kemudian dibandingkan dengan DNA anggota keluarga di Jepang untuk memastikan identitas korban.
"Apabila hasil analisis menunjukkan kecocokan secara genetik, maka identitas individu dapat dipastikan dan kerangka tersebut dapat direpatriasi ke Jepang untuk dimakamkan secara layak oleh keluarganya," ungkapnya.
Menurut Abdul Hadi, proyek tersebut memiliki nilai ilmiah sekaligus nilai kemanusiaan karena membantu keluarga memperoleh kepastian mengenai anggota keluarganya yang hilang selama perang.
Selain itu, Abdul Hadi juga melakukan penelitian mengenai penyakit dan kelainan genetik, termasuk Down syndrome yang disebabkan trisomi kromosom 21.
Penelitian tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai hubungan perubahan genetik dengan manifestasi penyakit sekaligus mendukung pengembangan layanan kesehatan berbasis genomik.
"Studi mengenai kelainan genetik penting untuk meningkatkan pemahaman tentang hubungan antara perubahan genetik dan manifestasi klinis yang muncul pada individu, sehingga dapat berkontribusi pada pengembangan layanan kesehatan berbasis genomik di Indonesia," tutur dia.
Saat ini, ia juga mengembangkan penelitian mengenai hubungan faktor genetik dengan risiko bunuh diri dan berbagai gangguan kesehatan mental melalui pendekatan multidisiplin yang melibatkan genetika, psikologi, dan psikiatri.
Melalui pendekatan multidisiplin ini, BRIN berharap dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor biologis yang berperan dalam gangguan kesehatan mental.
Dalam jangka panjang, hasil penelitian ini berpotensi menjadi dasar pengembangan sistem deteksi dini dan strategi pencegahan yang lebih efektif. (*)