Muhammadiyah Dorong Guru Madrasah Bertransformasi di Era AI
Muhammadiyah menilai guru madrasah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan. Guru didorong menjadi fasilitator, inovator, dan motivator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
RINGKASAN BERITA:
- Muhammadiyah menegaskan guru harus bertransformasi menjadi fasilitator, inovator, dan motivator di era kecerdasan buatan.
- Kemenag mencatat jumlah guru madrasah di Indonesia mencapai 821.519 orang hingga Januari 2026, dengan mayoritas berstatus non-ASN.
- Muhammadiyah akan mendorong penerapan Deep Learning dan pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan daya saing madrasah.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) mendorong perlunya perubahan peran guru di lingkungan Madrasah Muhammadiyah.
Guru kini tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan harus mampu menjadi fasilitator dan penggerak pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Muhammadiyah yang digelar secara daring oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kegiatan bertema “Peningkatan Mutu Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Muhammadiyah” tersebut diikuti pimpinan madrasah, guru, tenaga kependidikan, serta pengelola pendidikan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menegaskan transformasi pendidikan menjadi kebutuhan mendesak seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi yang mengubah pola belajar peserta didik.
“Peran guru saat ini tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan karena peserta didik dapat mengakses berbagai sumber belajar secara mandiri melalui teknologi,” ujar Didik Suhardi.
Menurutnya, kehadiran berbagai platform digital membuat peserta didik memiliki akses luas terhadap informasi.
Karena itu, guru dituntut mampu mengarahkan, membimbing, dan mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik agar tidak sekadar menjadi pengguna informasi.
“Dengan teknologi dan sumber daya modern seperti Google, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Guru harus bertransformasi menjadi fasilitator, inovator, dan motivator yang mampu membimbing peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi,” ujarnya.
Didik menjelaskan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, pembelajaran berbasis proyek, serta tata kelola pendidikan yang adaptif menjadi faktor penting dalam menciptakan madrasah yang unggul dan kompetitif.
Ia menyebut Muhammadiyah juga akan mendorong implementasi konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di lingkungan madrasah sebagai upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Sementara itu, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama, Fesal Musaad, menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk Muhammadiyah, untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi dalam membangun madrasah yang unggul, bermutu, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Fesal.
Ia juga mengungkapkan bahwa hingga Januari 2026 terdapat 821.519 guru madrasah di Indonesia yang terdiri atas aparatur sipil negara, PPPK, dan guru non-ASN.
Mayoritas tenaga pendidik tersebut masih berstatus non-ASN sehingga diperlukan berbagai kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan status kepegawaiannya.
Menurut Fesal, kualitas pembelajaran di madrasah sangat bergantung pada kompetensi dan profesionalisme guru.
Karena itu, Kementerian Agama terus menjalankan berbagai program peningkatan mutu guru melalui penguatan kualifikasi akademik, sertifikasi, pengembangan keprofesian berkelanjutan, hingga program peningkatan kesejahteraan.
Dalam forum yang sama, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Iwan Junaedi, menyebut peningkatan kualitas guru menjadi faktor utama dalam mewujudkan transformasi pendidikan Muhammadiyah.
Ia menjelaskan Muhammadiyah saat ini mengelola lebih dari satu juta peserta didik di berbagai jenjang pendidikan.
Potensi tersebut dinilai menjadi modal besar dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Selain penguatan kompetensi guru, Muhammadiyah juga mendorong pengembangan kepemimpinan kepala sekolah dan kepala madrasah, digitalisasi layanan pendidikan, penguatan mutu pembelajaran, serta perluasan jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.
Melalui diskusi tersebut, Muhammadiyah dan Kementerian Agama menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat kualitas guru dan tenaga kependidikan sebagai fondasi utama peningkatan mutu pendidikan Islam di Indonesia. (*)