BRIN Kembangkan Biosensor Berbasis Smartphone, Solusi Alternatif Jaga Kualitas MBG

BRIN mengembangkan teknologi biosensor optikal yang memanfaatkan kamera smartphone untuk mendeteksi berbagai penyakit, seperti TBC, hepatitis, demam berdarah, hingga kanker. Sistem ini bekerja dengan membaca perubahan warna material sensitif sebagai indikator keberadaan target penyakit.

BRIN Kembangkan Biosensor Berbasis Smartphone, Solusi Alternatif Jaga Kualitas MBG
BRIN mengembangkan biosensor yang memanfaatkan kamera smartphone untuk mendeteksi penyakit melalui perubahan warna material. (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN mengembangkan biosensor yang memanfaatkan kamera smartphone untuk mendeteksi penyakit melalui perubahan warna material.
  • Teknologi ini tengah dikembangkan untuk mendeteksi TBC, hepatitis, demam berdarah, hingga kanker secara cepat dan akurat.
  • Selain kesehatan, biosensor juga diproyeksikan membantu pengawasan kualitas pangan, termasuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis.

RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi biosensor optikal yang memungkinkan deteksi berbagai penyakit melalui kamera smartphone.

Inovasi tersebut diharapkan menjadi solusi diagnosis dini yang lebih cepat, praktis, dan akurat, sekaligus berpotensi dimanfaatkan untuk pengawasan kualitas pangan dan lingkungan.

Teknologi tersebut dikembangkan para peneliti di Pusat Riset Elektronika (PRE), Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN.

Sistem sensor memanfaatkan perubahan warna pada material tertentu yang kemudian dibaca menggunakan kamera dan lampu kilat (flash) bawaan smartphone untuk menghasilkan informasi mengenai keberadaan suatu target.

Peneliti Ahli Utama PRE, Robeth Viktoria Manurung, bersama tim Kelompok Riset Bioelektronika dan Biosensing menjelaskan bahwa sistem tersebut menggunakan material sensitif seperti nanopartikel perak (Ag) berbentuk prisma maupun nanopartikel emas (Au).

“Materialnya dikombinasikan dengan komponen biologis sebagai elemen pengenal (detektor), di antaranya enzim, antibodi, DNA, dan aptamer. Secara mekanisme, perubahan sifat fisik material akibat interaksi dengan target akan dikonversi menjadi sinyal terukur, yang pada biosensor optikal umumnya berupa perubahan warna,” jelasnya dikutip dsri laman BRIN, Selasa (28/7/2026).

Robeth menerangkan, nanopartikel emas akan mengalami perubahan sifat optikal ketika berinteraksi dengan senyawa tertentu, misalnya biomarker kanker.

Perubahan tersebut ditandai dengan perubahan warna dari merah menjadi ungu yang menunjukkan adanya target yang dideteksi.

“Perubahan warna inilah yang kemudian dibaca oleh perangkat lunak aplikasi smartphone dengan memanfaatkan kamera dan lampu flash bawaannya. Selanjutnya, pergeseran panjang gelombang dari warna yang dihasilkan ini berkorelasi dengan jumlah bakteri, virus, atau material target yang terkandung dalam suatu sampel,” ujarnya.

Saat ini, Pusat Riset Elektronika BRIN tengah mengembangkan berbagai perangkat biosensor untuk mendeteksi sejumlah penyakit infeksi dan penyakit berbahaya, seperti tuberkulosis (TBC), hepatitis, demam berdarah, hingga kanker.

“Pengembangan ini diharapkan dapat mendukung sistem deteksi dini penyakit yang cepat dan akurat bagi masyarakat,” terang Robeth.

Selain bidang kesehatan, pengembangan biosensor juga diarahkan untuk mendukung pengawasan kualitas pangan.

Menurut Robeth, inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi pemerintah dalam menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama bagi siswa sekolah.

Ia menilai pengembangan teknologi biosensing menjadi langkah maju di bidang bioelektronika karena mampu menghadirkan perangkat diagnostik portabel yang lebih mudah diakses dan berpotensi meningkatkan efisiensi biaya di berbagai sektor pelayanan publik. (*)