Riset di Bengkalis. BRIN Ungkap Hutan Gambut Berperan Menjaga Hujan Tropis
Penelitian BRIN bersama sejumlah universitas mengungkap fungsi baru hutan rawa gambut sebagai penguat pembentukan hujan di wilayah tropis. Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Climate Dynamics menunjukkan bahwa kerusakan gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi dan stabilitas iklim regional.
RINGKASAN BERITA:
- Penelitian BRIN membuktikan hutan rawa gambut berfungsi memperkuat pembentukan hujan melalui sirkulasi atmosfer alami, bukan hanya sebagai penyimpan karbon.
- Pengamatan radar cuaca di Pulau Bengkalis menunjukkan pola hujan harian yang konsisten dan didukung hasil simulasi atmosfer.
- Peneliti mengingatkan kerusakan gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional serta mengurangi stabilitas iklim tropis dalam jangka panjang.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Hutan rawa gambut Indonesia ternyata memiliki peran lebih luas daripada sekadar menjadi penyimpan karbon.
Penelitian terbaru yang dipimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap bahwa ekosistem gambut berfungsi memperkuat pembentukan hujan di kawasan tropis melalui mekanisme alami sirkulasi atmosfer.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Climate Dynamics terbitan Springer Nature pada 2026.
Hasil riset menunjukkan bahwa hutan rawa gambut berkontribusi menjaga ritme hujan harian sekaligus mendukung kestabilan iklim di wilayah tropis.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan hasil penelitian tersebut memberikan perspektif baru mengenai fungsi ekologis gambut.
Selama ini, perhatian lebih banyak diarahkan pada kemampuan gambut menyimpan karbon, padahal ekosistem tersebut juga memiliki peran penting dalam mengatur siklus hidrologi.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa hutan rawa gambut bukan hanya gudang karbon, tetapi juga berfungsi seperti mesin uap alami yang memperkuat sirkulasi angin darat-laut dan membantu menjaga ritme hujan harian di wilayah pesisir tropis," ujar Albertus dikutip dari laman BRIN, Senin (13/7/2026).
Riset dilakukan oleh tim gabungan BRIN bersama Kyoto University, Kobe University, Hokkaido University, IPB University, dan GMIT Mongolia dengan mengambil lokasi penelitian di Pulau Bengkalis, Provinsi Riau.
Wilayah tersebut dipilih karena sebagian besar areanya masih didominasi hutan rawa gambut alami sehingga dinilai ideal untuk mengkaji hubungan antara ekosistem gambut dan atmosfer.
Untuk mendukung penelitian, tim memasang radar cuaca polarimetrik X-band buatan Jepang di kompleks STAIN Bengkalis sejak Februari 2020.
Perangkat tersebut mampu memetakan distribusi hujan setiap lima menit dengan resolusi ratusan meter dalam jangkauan sekitar 50 kilometer.
Berdasarkan pengamatan selama Mei hingga Desember 2024, para peneliti menemukan pola hujan harian yang berlangsung secara konsisten.
Hujan di wilayah pedalaman Bengkalis umumnya terjadi pada siang hingga sore hari, sedangkan kawasan pesisir dan laut mengalami hujan pada tengah malam hingga menjelang subuh.
Pola tersebut mencerminkan sirkulasi angin darat-laut yang berlangsung secara teratur.
Untuk mengetahui mekanisme yang terjadi, tim menyusun model matematika atmosfer menggunakan tiga skenario berbeda, yakni wilayah pantai tanpa pulau, wilayah dengan pulau dan selat, serta pulau gambut yang memasukkan karakteristik kelembapan khas lahan gambut.
“Hasil simulasi menunjukkan bahwa keberadaan Pulau Bengkalis menciptakan konvergensi angin dari laut dan selat secara bersamaan sehingga pembentukan awan hujan menjadi jauh lebih kuat,” katanya.
Albertus menjelaskan, lahan gambut yang selalu lembap menghasilkan pasokan uap air dalam jumlah besar.
Saat uap air tersebut berubah menjadi awan, panas laten yang dilepaskan akan memperkuat arus udara naik sehingga menarik lebih banyak udara lembap dari laut ke daratan.
Proses ini membuat sirkulasi atmosfer di kawasan gambut lebih kuat dibandingkan wilayah non-gambut.
"Pulau gambut ternyata memperkuat sistem sirkulasi atmosfer secara alami. Semakin banyak uap air yang dilepaskan vegetasi gambut, semakin besar peluang terbentuknya awan dan hujan. Hasil ini konsisten dengan pengamatan radar maupun simulasi atmosfer yang kami lakukan," terangnya.
Penelitian tersebut juga memperkuat bukti ilmiah mengenai konsep biotic pump atau pompa biotik, yakni teori yang menyebutkan bahwa hutan melalui proses evapotranspirasi dapat membantu menggerakkan sirkulasi atmosfer dan memengaruhi distribusi hujan regional.
Hasil penelitian di Bengkalis menunjukkan kesesuaian antara teori, simulasi, dan pengamatan radar.
Menurut Albertus, temuan ini memiliki arti penting bagi kebijakan pengelolaan lahan gambut.
Kerusakan akibat pengeringan, penebangan, maupun kebakaran tidak hanya menghilangkan cadangan karbon, tetapi juga berpotensi mengganggu fungsi gambut sebagai pengatur hujan.
"Menjaga gambut bukan hanya menjaga karbon, tetapi juga menjaga hujan. Degradasi gambut berpotensi mengganggu siklus hidrologi regional dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi stabilitas sistem iklim tropis," tuturnya.
Tim peneliti merekomendasikan pengukuran langsung fluks panas laten menggunakan metode eddy covariance serta memasukkan mekanisme pengaruh gambut terhadap pembentukan hujan ke dalam model iklim global.
Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan akurasi prediksi curah hujan di kawasan Benua Maritim Indonesia.
Albertus menegaskan, keberadaan pulau-pulau gambut di Indonesia memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan iklim regional.
Selain berfungsi sebagai penyerap karbon, hutan rawa gambut juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan mekanisme alami pembentukan hujan.
"Pulau-pulau gambut dan hutan rawa gambut yang tersebar di tepi Pantai timur Sumatera, Kalimantan dan Papua, mungkin tampak kecil di peta, tetapi kontribusinya terhadap sistem iklim tropis sangat besar. Menjaga gambut berarti menjaga air, menjaga hujan, dan menjaga ketahanan Indonesia menghadapi perubahan iklim," tutup Albertus. (*)