BRIN Dorong Riset Genetik untuk Lawan Penyakit Parasit Ikan

BRIN menyoroti pentingnya pemanfaatan riset molekuler dan genomik dalam pengendalian penyakit parasit pada ikan. Melalui webinar internasional, dipaparkan temuan terbaru mengenai respons imun ikan hingga perubahan lebih dari 2.000 gen akibat infeksi parasit sebagai dasar pengembangan strategi budidaya yang lebih berkelanjutan.

BRIN Dorong Riset Genetik untuk Lawan Penyakit Parasit Ikan
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN menilai teknologi genomik dan biologi molekuler menjadi kunci pengembangan pengendalian penyakit parasit ikan yang lebih efektif.
  • Peneliti menemukan 2.084 gen pada ikan kod Baltik mengalami perubahan ekspresi akibat infeksi parasit.
  • Hingga kini belum tersedia vaksin yang sepenuhnya efektif untuk mengatasi white spot disease, salah satu penyakit parasit paling berbahaya pada ikan air tawar.

RIAUCERDAS.COM, CIBINONG - Pemanfaatan teknologi biologi molekuler dinilai menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan strategi pengendalian penyakit parasit pada ikan yang lebih efektif.

Melalui webinar internasional, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan berbagai hasil penelitian terbaru yang mengungkap respons imun hingga perubahan genetik ikan saat terinfeksi parasit.

Webinar bertajuk Fish Host Responses to Parasitic Infection: From Natural Resistance to White Spot Disease to Transcriptomic Responses of Baltic Cod (Gadus morhua) Infected with Contracaecum osculatum diselenggarakan oleh Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN pada Jumat (26/6/2026) lalu.

Kegiatan tersebut menghadirkan peneliti dari dalam maupun luar negeri untuk membahas perkembangan riset interaksi antara ikan dan parasit.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, mengatakan penyakit akibat infeksi parasit masih menjadi ancaman besar bagi sektor akuakultur, terutama white spot disease atau ichthyophthiriasis yang disebabkan protozoa Ichthyophthirius multifiliis.

"White spot merupakan salah satu penyakit parasit paling penting pada ikan air tawar di dunia, sementara hingga kini belum tersedia vaksin yang sepenuhnya efektif," ujarnya dikutip dari laman BRIN, Kamis (2/7/2026).

Menurut Puji, pengendalian penyakit tersebut selama ini masih banyak mengandalkan bahan kimia yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan.

Karena itu, pendekatan berbasis ilmu pengetahuan perlu terus dikembangkan melalui kolaborasi riset dan peningkatan kapasitas peneliti.

Kepala Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar BRIN, Fahrurrozi, menambahkan bahwa pemahaman mengenai hubungan antara inang dan parasit menjadi fondasi penting dalam membangun sistem akuakultur yang sehat dan berkelanjutan.

"Infeksi parasit dapat menghambat pertumbuhan ikan, melemahkan sistem imun, meningkatkan tingkat kematian, hingga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan," kata dia.

Dalam sesi pemaparan, Research and Development Biologist Snaptun A/S, Denmark, Heidi Mathiessen, menjelaskan bahwa ketahanan alami ikan terhadap white spot disease sangat dipengaruhi respons imun bawaan pada fase awal infeksi yang melibatkan sel imun seperti neutrofil dan makrofag.

Ia juga menyebut perkembangan teknologi seperti RNA sequencing, in vivo imaging, dan penyuntingan gen berbasis CRISPR/Cas membuka peluang untuk mengidentifikasi gen yang berperan dalam ketahanan alami ikan terhadap infeksi parasit.

Sementara itu, peneliti Pusat Riset Perikanan Budidaya Air Tawar BRIN, Huria Marnis, memaparkan hasil analisis transkriptomik pada hati ikan kod Baltik (Gadus morhua) yang terinfeksi larva nematoda Contracaecum osculatum.

Melalui analisis RNA sequencing terhadap 20 sampel ikan, tim peneliti menemukan sebanyak 2.084 gen mengalami perubahan ekspresi akibat infeksi parasit.

"Analisis transkriptomik menunjukkan bahwa infeksi Contracaecum osculatum memengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan pertumbuhan, metabolisme, dan respons imun. Temuan ini menunjukkan adanya dampak fisiologis yang signifikan pada ikan kod Baltik," ujar Huria.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa infeksi parasit tidak hanya memengaruhi sistem kekebalan tubuh, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan dan metabolisme ikan secara menyeluruh.

Melalui penyelenggaraan webinar internasional ini, BRIN berharap pertukaran pengetahuan dan hasil riset di bidang parasitologi ikan, imunologi, serta genomik fungsional dapat memperkuat kolaborasi ilmiah dan mendorong lahirnya inovasi baru untuk mendukung sektor perikanan dan akuakultur Indonesia yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan. (*)