Peneliti UGM Kembangkan Vaksin Newcastle Disease Berbasis Isolat Lokal

Peneliti UGM mengembangkan vaksin Newcastle Disease berbasis isolat lokal untuk menghadapi dominasi virus genotipe VII yang lebih ganas di Indonesia.

Peneliti UGM Kembangkan Vaksin Newcastle Disease Berbasis Isolat Lokal
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA :

  • UGM kembangkan vaksin ND berbasis isolat lokal yang lebih relevan dengan kondisi lapangan
  • Virus genotipe VII-i yang lebih ganas kini mendominasi di Indonesia
  • Vaksin kombinasi ND-AI disiapkan untuk perlindungan ganda unggas.

RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Upaya menghadapi ancaman virus ganas pada unggas mendorong peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan vaksin baru berbasis isolat lokal untuk penyakit Newcastle Disease (ND).

Inovasi ini dinilai penting karena virus yang beredar saat ini telah mengalami perubahan dan menjadi lebih virulen.

Penyakit ND yang disebabkan oleh Avian orthoavulavirus-1 masih menjadi ancaman utama dalam industri perunggasan nasional.

Penyakit ini diketahui sangat mudah menular dan dapat menyebabkan kematian tinggi, serta menurunkan produktivitas peternakan.

Pakar virologi veteriner dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Michael Haryadi Wibowo, menjelaskan bahwa dampak ND tidak hanya pada kematian unggas, tetapi juga pada penurunan produksi telur, gangguan pertumbuhan, hingga meningkatnya biaya pengendalian.

“Kondisi ini membuat ND menjadi salah satu faktor yang menghambat produktivitas dan keberlanjutan usaha peternakan unggas,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Kamis (16/4/2026).

Menurutnya, selama ini vaksin yang digunakan masih berbasis strain klasik seperti LaSota (genotipe II), sementara kondisi di lapangan telah berubah.

Virus yang kini dominan adalah genotipe VII, khususnya sub-genotipe VII-i yang lebih ganas.

“Berdasarkan hasil penelitian kami, kasus ND di Indonesia saat ini didominasi oleh virus genotipe VII-i yang bersifat virulen,” jelasnya.

Perbedaan antara virus dalam vaksin dan virus yang beredar menjadi tantangan utama dalam pengendalian penyakit ini.

Karena itu, diperlukan pembaruan vaksin agar lebih sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.

Melalui riset yang dilakukan, tim UGM berhasil mengembangkan isolat lokal virus ND yang memenuhi kriteria sebagai kandidat bahan dasar (seed) vaksin.

Isolat tersebut memiliki kemampuan berkembang yang baik dan stabil serta telah lolos uji molekuler.

Pengembangan ini juga melibatkan kerja sama dengan Balai Besar Veteriner Farma untuk menciptakan vaksin kombinasi ND dan Avian Influenza (ND-AI), yang diharapkan mampu memberikan perlindungan ganda terhadap penyakit unggas.

Selain sebagai solusi ilmiah, inovasi ini menjadi bagian dari refleksi satu abad sejak pertama kali penyakit ND ditemukan di Indonesia pada 1926 di Batavia.

Saat itu, penyakit ini dikenal sebagai Batavia Disease setelah diidentifikasi melalui penelitian laboratorium di Bogor.

Dengan pendekatan berbasis isolat lokal, vaksin yang dikembangkan diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit, menekan penyebaran virus, serta mendukung keberlanjutan industri perunggasan nasional. (*)