FIKOM UMRI Bekali Mahasiswa Strategi Komunikasi Krisis Digital Bersama Akademisi Malaysia
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau menghadirkan akademisi Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Assoc. Prof. Dr. Nor’izah binti Ahmad, dalam International Guest Lecturer. Sekitar 200 mahasiswa mendapatkan pembekalan mengenai strategi komunikasi krisis, manajemen reputasi, dan pemanfaatan AI di era digital.
RINGKASAN BERITA:
- Sekitar 200 mahasiswa FIKOM UMRI mendapat pembekalan langsung dari akademisi UniMAP Malaysia mengenai strategi komunikasi krisis di era digital.
- Mahasiswa mempelajari simulasi penanganan krisis pada 30 menit pertama setelah isu viral muncul di media sosial serta studi kasus krisis di kawasan ASEAN.
- Narasumber menegaskan AI mampu membantu mendeteksi dan merespons krisis, tetapi tidak dapat menggantikan empati, integritas, dan kepemimpinan manusia dalam membangun kepercayaan publik.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) memperkuat kompetensi mahasiswa menghadapi tantangan komunikasi di era digital melalui International Guest Lecturer yang menghadirkan akademisi Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Malaysia, Assoc. Prof. Dr. Nor’izah binti Ahmad.
Kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat dan Program Studi Ilmu Komunikasi di Aula GR Lantai 3 Kampus Utama Umri.
Kuliah tamu internasional tersebut menjadi bagian dari upaya FIKOM Umri memperluas wawasan global mahasiswa sekaligus mendukung internasionalisasi pendidikan di lingkungan kampus.
Acara dibuka oleh Dekan FIKOM Umri, Jayus, S.Sos., M.I.Kom., didampingi Wakil Dekan Johan Faladhin, S.I.Kom., M.I.Kom., Ketua Program Studi Hubungan Masyarakat Ulmi Marsya, S.I.Kom., M.A., Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Khusnul Hanafi, S.I.Kom., M.I.Kom., serta dihadiri sejumlah dosen dan tenaga kependidikan.
Dalam sambutannya, Jayus menegaskan pentingnya menghadirkan akademisi internasional sebagai bagian dari peningkatan mutu pembelajaran.
“Forum seperti ini sangat penting untuk menambah wawasan dan pengalaman akademik mahasiswa. Mereka tidak hanya mempelajari teori di ruang kelas, tetapi juga memperoleh perspektif dan praktik terbaik dari akademisi internasional. Harapannya, mahasiswa FIKOM Umri semakin siap menghadapi tantangan dunia komunikasi yang terus berkembang di era digital,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Nor’izah menyampaikan materi bertajuk "Crisis Communication and Reputation Management in a Digital Society: Strategies for Building Public Trust in an Era of Viral Information."
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola penyebaran informasi, di mana setiap individu kini dapat menjadi penerbit, penyiar, sekaligus pemberi pengaruh melalui media digital.
Kondisi tersebut membuat organisasi harus mampu merespons krisis secara cepat, transparan, dan autentik untuk menjaga kepercayaan publik.
Peserta juga diperkenalkan pada tahapan perkembangan krisis, mulai dari issue, risk, hingga crisis, serta pentingnya membangun reputasi melalui komunikasi yang konsisten, terbuka, dan penuh empati.
Sebagai bagian dari pembelajaran, narasumber mengulas sejumlah kasus komunikasi krisis di kawasan ASEAN, seperti tragedi Malaysia Airlines MH370, AirAsia QZ8501, dan tragedi Stadion Kanjuruhan di Indonesia.
Melalui studi kasus tersebut, mahasiswa mempelajari pentingnya penyampaian informasi yang cepat, akurat, konsisten, dan berempati ketika organisasi menghadapi situasi darurat.
Mahasiswa juga mengikuti simulasi penanganan krisis digital dengan menyusun strategi komunikasi pada 30 menit pertama setelah sebuah isu viral muncul di media sosial.
Dalam simulasi itu, peserta diminta menentukan langkah verifikasi informasi, pihak yang harus dihubungi, hingga merancang pesan awal kepada publik.
Selain itu, Dr. Nor’izah memperkenalkan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam komunikasi krisis.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi potensi krisis, memantau percakapan publik, menganalisis sentimen masyarakat, serta membantu menyusun draf respons awal secara cepat.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan nilai-nilai dasar kepemimpinan dalam mengelola krisis.
AI, menurutnya, tetap membutuhkan peran manusia dalam menghadirkan empati, tanggung jawab, integritas, dan pengambilan keputusan agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Melalui penyelenggaraan International Guest Lecturer tersebut, FIKOM Umri berharap mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas mengenai praktik komunikasi krisis dan manajemen reputasi di tingkat global, sekaligus memperkuat jejaring akademik internasional serta kesiapan menghadapi perkembangan industri komunikasi di era digital. (rls)