Konsumsi Makanan Berbasis Tepung Berlebihan, Risiko Diabetes hingga Stroke Meningkat
Pakar kesehatan dari UMY mengingatkan konsumsi makanan berbasis tepung secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, dan stroke. Masyarakat diminta menerapkan pola makan seimbang serta mulai memanfaatkan sumber karbohidrat lokal sebagai alternatif.
RINGKASAN BERITA:
- Pakar UMY mengingatkan konsumsi makanan berbasis tepung secara berlebihan meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, hingga stroke.
- Makanan olahan tepung yang digoreng dinilai berpotensi memicu resistensi insulin dan obesitas jika dikonsumsi terus-menerus.
- Diversifikasi pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi, dan sagu didorong untuk menciptakan pola makan yang lebih sehat dan seimbang.
RIAUCERDAS.COM - Fenomena tingginya konsumsi makanan berbahan dasar tepung di Indonesia mendapat perhatian kalangan akademisi.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer, dr. Iman Permana, M.Kes., Ph.D., mengingatkan kebiasaan mengonsumsi makanan berbasis tepung secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular.
Menurut dr. Iman, tepung merupakan sumber karbohidrat yang dibutuhkan tubuh sebagai penghasil energi.
Namun, konsumsi yang melebihi kebutuhan kalori harian berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
"Tepung merupakan sumber karbohidrat yang pada akhirnya akan diubah menjadi glukosa sebagai sumber energi. Namun, apabila dikonsumsi secara berlebihan tanpa disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian, risikonya dapat meningkatkan kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, hingga stroke," katanya, dikutip dari laman UMY, Sabtu (11/7/2026).
Iman menjelaskan kebutuhan energi harian rata-rata orang dewasa sekitar 2.200 kalori bagi laki-laki dan 2.000 kalori untuk perempuan.
Namun, kebutuhan tersebut dapat berbeda sesuai usia, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan masing-masing.
Selain jumlah kalori, kualitas makanan juga menjadi faktor penting.
Dia menyebut banyak makanan olahan berbahan tepung, terutama yang digoreng, mengandung karbohidrat sederhana dan lemak jenuh dalam kadar tinggi.
Kondisi tersebut diperparah apabila minyak goreng digunakan berulang kali.
"Kalau pola makan seperti ini berlangsung terus-menerus, risiko terjadinya resistensi insulin akan meningkat. Ketika tubuh mulai kurang sensitif terhadap insulin, kadar gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan dan dalam jangka panjang dapat memicu obesitas maupun diabetes," kata dia.
Menurutnya, tingginya konsumsi makanan berbasis tepung dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari harga yang relatif murah, mudah diperoleh, hingga mampu memberikan rasa kenyang dalam waktu singkat.
Ia menjelaskan karbohidrat sederhana lebih cepat dicerna tubuh sehingga kadar gula darah meningkat dengan cepat.
Meski memunculkan rasa kenyang, efek tersebut tidak bertahan lama karena makanan segera diubah menjadi energi, sehingga seseorang lebih cepat merasa lapar dan terdorong untuk makan kembali.
Faktor ekonomi juga disebut berperan dalam membentuk pola konsumsi masyarakat.
Produk seperti mi instan, gorengan, dan aneka jajanan berbahan tepung menjadi pilihan karena harganya terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, dr. Iman menilai perubahan pola makan tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu.
Menurutnya, diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk meningkatkan literasi gizi masyarakat.
Ia mengatakan perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi mengenai manfaat dan risiko konsumsi makanan melalui berbagai program penyuluhan maupun pengabdian kepada masyarakat.
Selain edukasi, pemerintah juga didorong menghadirkan kebijakan yang mendukung ketersediaan pangan bergizi dengan harga yang terjangkau.
"Pemerintah perlu memastikan pasokan bahan pangan sehat seperti sayuran, telur, ikan, dan sumber protein lainnya tetap tersedia dengan harga yang stabil sehingga masyarakat memiliki pilihan pangan yang lebih baik," ungkapnya.
Iman juga mendorong diversifikasi pangan dengan memanfaatkan komoditas lokal, seperti jagung, ubi, singkong, dan sagu sebagai alternatif sumber karbohidrat.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang dapat mendukung pola makan lebih seimbang.
Ia menambahkan penelitian mengenai pola konsumsi masyarakat Indonesia masih perlu terus dikembangkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pangan di masa depan.
"Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang sangat beragam. Karena itu, diversifikasi pangan perlu terus didorong agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis sumber karbohidrat saja," terangnya.
Di sisi lain, kajian ilmiah mengenai pola konsumsi masyarakat juga perlu terus dikembangkan sebagai dasar penyusunan kebijakan pangan yang lebih baik.
Menutup pemaparannya, dr. Iman menegaskan bahwa penerapan pola makan sehat merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, pelaku industri pangan, dan masyarakat.
"Masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari. Bukan berarti tepung harus dihindari sama sekali, tetapi konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang serta aktivitas fisik yang cukup," tandasnya. (*)