Riset BRIN: Pupuk Silika Mampu Tingkatkan Produktivitas Bawang Merah hingga 70 Persen
Penelitian BRIN menemukan aplikasi pupuk berbasis silika dapat meningkatkan produktivitas bawang merah asal true shallot seed (TSS) hingga 70 persen. Varietas Sanren tercatat memberikan respons terbaik terhadap perlakuan tersebut.
RINGKASAN BERITA:
- Penelitian BRIN menunjukkan pupuk silika mampu meningkatkan produktivitas bawang merah varietas Sanren hingga 70 persen.
- Aplikasi silika membuat tanaman lebih tahan terhadap patogen, meningkatkan fotosintesis, serta memperbesar jumlah dan ukuran umbi.
- Penelitian juga menemukan silika berpotensi menurunkan kandungan logam berat pada daun, sehingga mendukung kualitas hasil pertanian.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa penggunaan pupuk berbasis silika (Si) mampu meningkatkan produktivitas bawang merah secara signifikan.
Pada varietas Sanren yang berasal dari true shallot seed (TSS), peningkatan hasil panen bahkan mencapai sekitar 30 hingga 70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan (PRTP) BRIN, Arlyna Budi Pustika, mengatakan hasil tersebut diperoleh melalui penelitian terhadap tiga varietas bawang merah asal TSS, yakni Sanren, Lokananta, dan Merdeka, dengan perlakuan pupuk silika sebanyak 0, 5, dan 10 mililiter per liter.
"Hasil penelitian menunjukkan, varietas Sanren memberikan respons paling baik terhadap aplikasi silika," katanya seperti dikutip dari laman BRIN, Selasa (30/6/2026).
Menurut Arlyna, pemberian silika 10 mililiter per liter mampu meningkatkan kandungan silika pada daun varietas Sanren hingga 5,39 persen.
Ketebalan lapisan kutikula daun juga bertambah sekitar 121 persen dibandingkan tanaman tanpa perlakuan.
"Kondisi ini membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen sekaligus meningkatkan efisiensi fotosintesis," terangnya.
Perbaikan kondisi fisiologis tersebut berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman.
Jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan bertambah dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, sedangkan jumlah umbi meningkat dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman.
Diameter umbi juga bertambah dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter.
"Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren meningkat sekitar 30–70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika," ujar Arlyna.
Selain meningkatkan hasil panen, penelitian juga menunjukkan manfaat lain dari penggunaan silika.
Peneliti PRTP BRIN, Kristamtini, mengatakan tingginya penyerapan silika berkaitan dengan menurunnya kandungan logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun tanaman.
"Temuan ini membuka peluang penggunaan pupuk silika tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung kualitas dan keamanan hasil pertanian. Meski demikian, penelitian lanjutan terhadap kandungan logam berat pada umbi masih diperlukan," ujar Kristamtini.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa keberhasilan penerapan teknologi budidaya berbasis TSS dipengaruhi oleh pemilihan varietas.
Sanren menjadi varietas yang paling responsif terhadap aplikasi pupuk silika, sedangkan Merdeka menunjukkan respons sedang dan Lokananta relatif kurang responsif.
BRIN menilai hasil riset ini dapat menjadi referensi bagi petani dalam memilih varietas sekaligus menerapkan teknologi pemupukan yang tepat.
Selain meningkatkan produktivitas, pemanfaatan TSS juga dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan pada benih umbi sehingga mendukung sistem budidaya bawang merah yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara BRIN, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, dan The University of Queensland.
Hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Chilean Journal of Agricultural Research melalui artikel berjudul Use of Si-based Fertilizer Significantly Improves the Performance of 'Sanren' Botanical Seed-derived Shallot. (*)