BRIN Kembangkan Material Baru untuk Produksi Hidrogen Hijau

BRIN berhasil mengembangkan komposit NiFe-LDH/Ag₃PO₄ yang mampu meningkatkan kinerja proses pemisahan air untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen. Inovasi ini membuka peluang pengembangan energi hidrogen yang lebih efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan di masa depan.

BRIN Kembangkan Material Baru untuk Produksi Hidrogen Hijau
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN mengembangkan komposit NiFe-LDH/Ag₃PO₄ yang mampu meningkatkan efisiensi produksi hidrogen melalui proses pemisahan air.
  • Material baru tersebut mencatat nilai overpotential rendah sebesar 156,6 mV, menandakan kinerja elektrokatalitik yang lebih baik dibanding material penyusunnya.
  • Inovasi ini berpotensi mendukung pengembangan hidrogen hijau sebagai sumber energi bersih dan berkelanjutan di Indonesia.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia terus dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Salah satu terobosan terbaru yang dikembangkan adalah material komposit NiFe-LDH/Ag₃PO₄ yang berpotensi meningkatkan efisiensi produksi hidrogen hijau melalui proses pemisahan air (water splitting).

Pengembangan material tersebut menjadi bagian dari riset untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat sekaligus mendukung transisi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Peneliti Pascadoktoral Pusat Riset Katalisis BRIN, Yusuf Mathiinul Hakim, menjelaskan bahwa hidrogen saat ini menjadi salah satu alternatif energi bersih yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung sistem energi masa depan.

Menurutnya, material NiFe-LDH selama ini banyak digunakan sebagai katalis berbasis logam transisi karena memiliki biaya produksi yang relatif rendah serta kemampuan elektrokimia yang cukup baik.

Namun, keterbatasan konduktivitas masih menjadi kendala utama yang memengaruhi performanya dalam reaksi evolusi hidrogen.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, tim peneliti BRIN mengembangkan komposit heterostruktur dengan menggabungkan NiFe-LDH dan Ag₃PO₄ yang berfungsi sebagai material semikonduktor pendukung.

“Pendekatan ini diharapkan mampu memodulasi struktur elektronik serta memperkuat interaksi antarfasa pada komposit dengan menggunakan X-ray Diffraction (XRD) dan Raman Spectroscopy,” kata Yusuf, dikutip dari laman BRIN, Minggu (14/6/2026).

Penelitian tersebut berfokus pada sintesis komposit heterostruktur NiFe-LDH/Ag₃PO₄ sebagai material elektrokatalis yang dinilai memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari biaya produksi yang relatif ekonomis, ramah lingkungan, hingga aktivitas permukaan yang baik untuk mendukung reaksi kimia.

Hasil pengujian menunjukkan performa material komposit tersebut lebih unggul dibandingkan masing-masing material penyusunnya.

Dari sisi elektrokimia, komposit NiFe-LDH/Ag₃PO₄ memiliki nilai electrochemical surface area (ECSA) yang jauh lebih tinggi, menandakan tersedianya lebih banyak situs aktif untuk berlangsungnya reaksi.

Pada pengujian Linear Sweep Voltammetry (LSV), komposit NiFe/AP mencatat nilai overpotential terendah sebesar 156,6 milivolt.

Angka tersebut lebih baik dibandingkan material NiFe-LDH maupun Ag₃PO₄ yang digunakan secara terpisah.

“Peningkatan ECSA ini menunjukkan pembentukan heterostruktur mampu menyediakan lebih banyak situs aktif untuk reaksi,” terangnya.

Menurut Yusuf, peningkatan jumlah situs aktif menjadi faktor penting dalam mempercepat proses elektrokatalitik yang diperlukan untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.

Secara keseluruhan, hasil penelitian membuktikan bahwa rekayasa heterostruktur NiFe-LDH/Ag₃PO₄ efektif meningkatkan aktivitas elektrokatalitik pada proses pemisahan air.

Temuan tersebut dinilai menjanjikan untuk mendukung pengembangan teknologi produksi hidrogen yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Ke depan, inovasi ini berpotensi menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan energi hidrogen hijau di Indonesia, sekaligus memperkuat kontribusi BRIN dalam menghadirkan solusi teknologi yang mendukung target transisi energi bersih nasional. (*)