BRIN Ungkap 260 Tumbuhan Langka Hanya Tersimpan di Satu Kebun Raya
BRIN mengungkap sebanyak 260 spesies tumbuhan terancam punah yang dikoleksi hanya berada di satu kebun raya. Temuan ini mendorong penguatan jaringan konservasi nasional agar koleksi cadangan tersedia dan risiko kepunahan akibat bencana atau penyakit dapat diminimalkan.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN menemukan 260 spesies tumbuhan terancam punah hanya tersimpan di satu kebun raya sehingga berisiko hilang jika terjadi bencana atau serangan penyakit.
- Sebanyak 361 spesies tumbuhan terancam punah telah dikonservasi dalam 2.370 spesimen hidup di lima Kebun Raya BRIN.
- BRIN akan memperkuat jaringan konservasi nasional dengan menyiapkan koleksi cadangan dan memperbanyak spesies langka di kebun raya lain.
RIAUCERDAS.COM, BOGOR - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan sebanyak 260 spesies tumbuhan terancam punah yang saat ini hanya tersimpan di satu kebun raya.
Kondisi tersebut dinilai berisiko karena koleksi dapat hilang apabila lokasi penyimpanan terdampak bencana atau serangan penyakit.
Temuan tersebut merupakan hasil analisis koleksi ilmiah tumbuhan hidup hingga Desember 2025 yang dilakukan terhadap lima Kebun Raya BRIN.
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup–KKI Kebun Raya Cibinong, Lutfi Rahmaningtyas, mengatakan secara keseluruhan terdapat 361 spesies tumbuhan berstatus terancam punah yang telah dikonservasi dalam 2.370 spesimen hidup di lima Kebun Raya BRIN.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan flora yang sangat besar sebagai salah satu negara megabiodiversitas.
Tercatat sekitar 30.466 spesies tumbuhan vaskular asli Indonesia atau setara dengan 8,7 persen dari total flora vaskular dunia, meski luas daratan Indonesia hanya sekitar 1,3 persen dari luas daratan dunia.
"Angka tersebut sangat signifikan, mengingat luas daratan Indonesia hanya mencakup 1,3 persen dari total luas daratan dunia," kata Lutfi dikutip dari laman BRIN, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan analisis dilakukan terhadap empat kategori dalam Daftar Merah IUCN, yakni Extinct in the Wild, Critically Endangered, Endangered, dan Vulnerable.
Lutfi menyebut kategori Endangered dan Vulnerable mendominasi sekitar 88,4 persen dari seluruh spesies yang dianalisis.
Hal itu menunjukkan sebagian besar spesies masih ditemukan di habitat aslinya, namun populasinya terus mengalami penurunan.
Dari total 361 spesies yang dikonservasi, sebanyak 214 spesies atau sekitar 59,3 persen merupakan flora asli Indonesia.
Di antaranya, 63 spesies merupakan tumbuhan endemik yang hanya ditemukan di Indonesia.
"Spesies endemik menjadi tanggung jawab nasional karena hanya ditemukan di Indonesia. Jika tumbuhan ini punah di Indonesia, maka tumbuhan ini juga tidak ditemukan di bagian lain di seluruh dunia," tegasnya.
Salah satu contoh spesies yang berstatus Extinct in the Wild adalah mangga kasturi (Mangifera casturi), yang kini hanya dapat diselamatkan melalui koleksi di kebun raya.
Selain menemukan 260 spesies yang hanya berada di satu kebun raya, analisis BRIN juga mencatat terdapat 29 spesies berstatus Critically Endangered dan 111 spesies yang tergolong tunggal ganda kritis.
Untuk mengurangi risiko hilangnya koleksi, BRIN akan melakukan verifikasi kondisi tanaman di lapangan, mengaudit asal-usul koleksi, mengevaluasi kemampuan perbanyakan, serta memperbanyak spesies terpilih sebagai koleksi cadangan di kebun raya lainnya.
Lutfi menilai lima Kebun Raya BRIN bersama 44 Kebun Raya Binaan perlu diposisikan sebagai satu jaringan konservasi nasional yang saling melengkapi.
Pengembangannya harus disesuaikan dengan tiga wilayah fitogeografi Indonesia, yakni Sunda Shelf, Wallacea, dan Sahul Shelf.
Menurutnya, keberhasilan sistem kebun raya nasional bergantung pada keseimbangan regional, spesialisasi, dan saling melengkapi antarkebun raya, bukan sekadar mengumpulkan koleksi di satu institusi.
"Tantangan utama konservasi tumbuhan terancam bukan sekadar membawa spesies masuk ke kebun raya, tetapi menjaga material tersebut tetap hidup, teridentifikasi valid, terlacak asal-usulnya, dan terintegrasi dalam jaringan koleksi nasional yang saling melengkapi," tandasnya. (*)