Datang ke Dumai, Wamendikdasmen Dorong Sekolah Kembangkan Trigatra Bangun Bahasa
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menilai praktik pendidikan multikultural yang diterapkan Sekolah Maitreyawira di Kota Dumai menjadi modal penting dalam membentuk karakter murid. Dalam kunjungannya, ia juga mendorong penguatan Trigatra Bangun Bahasa dan transformasi digital pendidikan.
RINGKASAN BERITA:
- Wamendikdasmen menilai pendidikan multikultural di Sekolah Maitreyawira menjadi modal penting membangun karakter toleran dan empatik.
- Trigatra Bangun Bahasa ditekankan sebagai strategi menjaga identitas nasional sekaligus meningkatkan daya saing global murid.
- Indikator pendidikan Kota Dumai dinilai positif dengan rata-rata lama sekolah yang telah melampaui batas minimum nasional.
RIAUCERDAS.COM, DUMAI - Praktik pendidikan multikultural di Kota Dumai mendapat perhatian dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq.
Menurutnya, keberagaman budaya dan bahasa yang hadir di lingkungan sekolah dapat menjadi fondasi kuat dalam membentuk karakter murid yang toleran dan mampu hidup di tengah masyarakat yang majemuk.
Pandangan tersebut disampaikan Fajar saat menghadiri pentas seni di Sekolah Maitreyawira, Kota Dumai, Provinsi Riau, Jumat (5/6/2026).
Kehadirannya bersama Walikota Dumai, Paisal, disambut antusias oleh warga sekolah.
Di hadapan ratusan murid, Fajar mengajak sekolah untuk terus mengembangkan konsep Trigatra Bangun Bahasa sekaligus memperkuat transformasi digital dalam dunia pendidikan.
Ia menilai lingkungan sekolah yang diisi peserta didik dari berbagai latar belakang budaya serta penggunaan bahasa asing menjadi ruang pembelajaran yang baik untuk menumbuhkan empati dan sikap saling menghargai.
“Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Semakin dini murid dikenalkan pada keragaman bahasa dan budaya, maka semakin kuat kemampuan mereka untuk menghargai perbedaan dan hidup berdampingan secara harmonis,” ungkap Fajar.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menjelaskan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia.
Regulasi itu memuat konsep Trigatra Bangun Bahasa yang menekankan tiga aspek utama, yakni mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional, melestarikan bahasa daerah sebagai warisan budaya, serta menguasai bahasa asing untuk mendukung komunikasi global.
Menurutnya, ketiga unsur tersebut harus berjalan seimbang agar peserta didik tetap memiliki jati diri kebangsaan yang kuat tanpa kehilangan kemampuan bersaing di tingkat internasional.
“Jangan sampai kita kehilangan jati diri karena terlalu berorientasi pada bahasa asing. Sebaliknya, kita juga tidak boleh menutup diri dari perkembangan dunia global. Oleh karena itu, Trigatra Bangun Bahasa menjadi panduan untuk menjaga keseimbangan itu,” katanya.
Pada akhir sambutannya, Fajar menyampaikan bahwa sejumlah indikator pendidikan di Kota Dumai menunjukkan tren yang menggembirakan.
Ia menyebut rata-rata lama sekolah masyarakat Dumai telah melampaui batas minimum nasional, sementara angka harapan lama sekolah juga terus mengalami peningkatan.
Sementara itu, Wali Kota Dumai, Paisal, menyambut positif kunjungan Wamendikdasmen sebagai langkah mempererat kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan serta kualitas sumber daya manusia.
Menurut Paisal, kehadiran Wamendikdasmen menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap perkembangan pendidikan di Dumai yang dikenal memiliki keragaman suku, budaya, dan agama.
Ia menjelaskan kondisi masyarakat yang heterogen tersebut juga tercermin di sektor pendidikan, di mana sekolah negeri dan swasta berkembang bersama serta melayani peserta didik dari berbagai latar belakang.
“Keberadaan sekolah-sekolah swasta yang semakin berkembang menunjukkan bahwa kini masyarakat memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Ini juga menjadi simbol bahwa kualitas pendidikan di Dumai terus meningkat,” ujar Paisal.
Selain fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, Pemerintah Kota Dumai juga menjalankan Program Hikmat Pendidikan yang menempatkan pembentukan adab dan akhlak sebagai dasar pengembangan karakter peserta didik.
Program tersebut diterapkan di seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta.
“Kami ingin anak-anak Dumai tumbuh menjadi generasi yang beradab, berakhlak mulia, dan memiliki kompetensi yang unggul. Dengan karakter yang baik, kelak mereka akan menjadi dokter, guru, polisi, maupun profesi lainnya yang memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia,” ujar Paisal. (*)