Ikan Zebra Berpeluang Jadi Model Riset Tuberkulosis dan Kanker
Fakultas Biologi UGM menggelar workshop Fish Disease Models and Bioinformatics yang membahas pemanfaatan ikan zebra (zebrafish) sebagai hewan model dalam riset biomedis. Kegiatan ini juga membekali peserta dengan keterampilan analisis bioinformatika dan pengolahan data RNA sequencing untuk mendukung penelitian penyakit.
RINGKASAN BERITA:
- UGM menggelar pelatihan bioinformatika yang memanfaatkan zebrafish sebagai hewan model penelitian tuberkulosis dan kanker.
- Peserta mendapatkan praktik langsung analisis data RNA sequencing menggunakan RStudio.
- Workshop menghadirkan Prof. Herman Spaink dari Universitas Leiden yang membahas teknologi live imaging dan peran TLR2 dalam penelitian penyakit.
RIAUCERDAS.COM - Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat kapasitas peneliti di bidang biomedis melalui pelatihan analisis bioinformatika yang dipadukan dengan pemanfaatan ikan zebra (zebrafish) sebagai hewan model penelitian.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya riset inovatif di bidang penyakit infeksi, kanker, dan pengembangan terapi.
Pelatihan berlangsung dalam workshop bertajuk Fish Disease Models and Bioinformatics yang menghadirkan Prof. Herman Spaink dari Universitas Leiden sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Spaink menjelaskan bahwa ikan zebra (Danio rerio) telah banyak dimanfaatkan sebagai hewan model dalam penelitian biomedis karena memiliki kesamaan genetik dengan manusia meski berukuran kecil dan berkembang biak dengan cepat.
"Ikan ini digunakan sebagai hewan model untuk mempelajari penyakit, khususnya tuberkulosis dan kanker serta konsep konversi dosis obat dari zebrafish ke manusia sebagai salah satu pendekatan dalam penelitian translasional," ujar Herman Spaink dikutip dari laman UGM, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, semakin luasnya penggunaan zebrafish dalam penelitian membuat kemampuan analisis bioinformatika menjadi kebutuhan penting, terutama untuk mendukung penelitian penyakit dan pengolahan data transkriptomik.
Selain membahas penggunaan hewan model, Spaink juga memaparkan penerapan teknologi live imaging yang memungkinkan peneliti mengamati perkembangan penyakit secara langsung (real-time), termasuk menjelaskan peran Toll-like Receptor 2 (TLR2) dalam respons imun terhadap infeksi.
"Teknologi ini mampu memberikan gambaran mengenai perkembangan zebrafish sebagai salah satu platform penting dalam memahami mekanisme penyakit sekaligus mendukung pengembangan terapi baru," terangnya.
Dosen Fakultas Biologi UGM, Dr. Luthfi Nurhidayat, mengatakan workshop tersebut memberikan pengalaman kepada peneliti dan laboran dalam mengintegrasikan pendekatan eksperimental dengan metode komputasional pada penelitian biologi modern.
Menurut Luthfi, penyelenggaraan Fish Disease Models and Bioinformatics menjadi bagian dari komitmen Fakultas Biologi UGM dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang ilmu hayati, memperluas kolaborasi akademik internasional, serta mendukung transfer pengetahuan dan teknologi.
"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi peserta sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi riset yang inovatif di bidang penyakit infeksi, biomedis, dan bioinformatika," ujarnya.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai penggunaan hewan model yang dipadukan dengan perangkat bioinformatika.
Selain itu, mereka mengikuti sesi praktik (hands-on) analisis data transkriptomik menggunakan RStudio.
Dalam sesi tersebut, peserta mempelajari tahapan analisis data RNA sequencing (RNA-seq), mulai dari pengolahan data, analisis ekspresi gen diferensial, hingga interpretasi hasil penelitian. (*)