Ancaman Krisis Energi, Stok BBM RI Diprediksi Hanya Bertahan 22 Hari Tanpa Pasokan
Ketergantungan impor minyak membuat ketahanan energi Indonesia rentan. Tanpa pasokan baru, stok BBM diperkirakan hanya bertahan 20–22 hari.
RINGKASAN BERITA:
- Cadangan BBM Indonesia diperkirakan hanya bertahan 20–22 hari tanpa pasokan baru.
- Ketergantungan impor minyak masih tinggi dengan produksi domestik jauh di bawah kebutuhan.
- Energi terbarukan seperti biodiesel, etanol, dan DME didorong sebagai solusi jangka panjang.
RIAUCERDAS.COM - Ketahanan energi Indonesia menghadapi ancaman serius seiring ketergantungan tinggi terhadap impor minyak.
Dalam kondisi tanpa pasokan baru, cadangan BBM nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 22 hari.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Deendarlianto, menyoroti kondisi tersebut sebagai risiko besar bagi berbagai sektor strategis.
“Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” katanya dikutip dari laman UGM, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, kebutuhan minyak Indonesia saat ini mencapai 1,5 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
Ketimpangan ini menyebabkan ketergantungan signifikan terhadap impor, termasuk minyak tanah dari kawasan Timur Tengah yang mencapai 20–25 persen.
Situasi semakin kompleks akibat faktor geopolitik seperti potensi gangguan di Selat Hormuz, serta ancaman fenomena El Nino yang diprediksi BMKG terjadi pada semester kedua 2026.
Deendarlianto mengapresiasi langkah pemerintah dalam mendorong energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang.
Salah satunya melalui kebijakan B50 yang akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026, yaitu pencampuran bahan bakar nabati ke dalam solar untuk mengurangi ketergantungan impor.
Selain itu, ia menilai wacana kebijakan seperti Work From Home (WFH) perlu dikaji lebih mendalam karena tidak semua sektor dapat beralih ke sistem digital, terutama bidang sains dan teknologi yang memerlukan interaksi langsung.
Ia juga mendorong diversifikasi energi melalui pengembangan etanol berbasis sorgum dan ketela sebagai pengganti bensin, serta Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif Liquefied Petroleum Gas (LPG).
“Ketika harga gas naik karena rantai pasoknya terganggu, dikembangkanlah energi terbarukan. Permasalahan ini menjadi momentum kebangkitan energi, kebangkitan riset perguruan tinggi di bidang energi,” tekan Deen.
Di sisi lain, dampak El Nino juga diperkirakan memengaruhi sektor energi dan pertanian, termasuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) serta penggunaan solar untuk pompa air saat musim kemarau.
Sebagai solusi, ia menyebut potensi energi terbarukan seperti mikroalga, biodiesel, dan energi surya sebagai alternatif yang dapat dikembangkan.
Deendarlianto menegaskan bahwa penguatan sektor energi harus diiringi dengan implementasi kebijakan nasional yang konsisten, termasuk melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun industri energi dalam negeri agar tidak terus bergantung pada impor.
“Kalau industrinya tumbuh dan berasal dari dalam negeri, akan membuat ekonomi negara berputar lebih cepat. Namun, jangan sampai memiliki kebijakan energi nasional tetapi tetap mendorong impor,” tambahnya. (*)


