Inflasi Gaya Hidup Bikin Orang Sulit Menabung
Kesulitan menabung tidak selalu disebabkan oleh kecilnya pendapatan. Dosen Ekonomi Syariah UMY, Satria Utama, menyebut perilaku konsumtif, kenaikan gaya hidup, dan tidak adanya tujuan keuangan yang jelas menjadi faktor utama yang membuat banyak orang gagal menyisihkan uang untuk masa depan.
RINGKASAN BERITA:
- Kesulitan menabung lebih sering disebabkan oleh perilaku konsumtif daripada rendahnya pendapatan.
- Fenomena lifestyle inflation membuat kenaikan gaji tidak otomatis meningkatkan jumlah tabungan.
- Menetapkan tujuan keuangan yang jelas dan menjadikan tabungan sebagai prioritas dinilai penting untuk membangun kondisi finansial yang sehat.
RIAUCERDAS.COM - Banyak orang dengan penghasilan tetap masih mengalami kesulitan menabung meski pendapatan mereka relatif mencukupi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah keuangan tidak selalu berkaitan dengan besarnya gaji, melainkan lebih dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola uang yang dimiliki.
Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, S.E.I., M.E.I., menilai fenomena tersebut menjadi persoalan yang umum terjadi, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah.
Menurutnya, banyak orang merasa seluruh pendapatannya habis untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehingga tidak ada dana yang tersisa untuk ditabung.
Kata dia, permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan.
Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan.
"Mereka menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ungkap Satria dikutip dari laman UMY, Kamis (25/6/2026).
Satria menjelaskan bahwa akar persoalan tersebut sering kali bukan terletak pada jumlah pendapatan yang diterima setiap bulan.
Sebaliknya, kebiasaan mengelola keuangan yang kurang sehat justru menjadi faktor dominan yang menghambat terbentuknya tabungan.
Salah satu fenomena yang banyak terjadi adalah lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup.
Kondisi ini muncul ketika kenaikan penghasilan diikuti dengan peningkatan pengeluaran konsumtif sehingga tidak ada perubahan signifikan pada jumlah tabungan.
Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung.
Permasalahannya, tutur Satria, bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi.
"Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” ucap Satria.
Selain perilaku konsumsi, ia juga menyoroti pentingnya menetapkan tujuan keuangan yang jelas.
Menurutnya, banyak orang menabung tanpa target yang spesifik sehingga motivasi untuk mempertahankan kebiasaan tersebut mudah melemah ketika menghadapi berbagai kebutuhan lain.
“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi. Mereka akan mudah berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.
Tantangan berikutnya adalah belum optimalnya perlindungan keuangan yang dimiliki masyarakat.
Ketika muncul pengeluaran tak terduga, seperti biaya kesehatan atau perbaikan kendaraan, tabungan sering kali menjadi sumber dana utama yang akhirnya menguras simpanan yang telah dikumpulkan.
Menurut Satria, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa menabung tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memperoleh penghasilan, tetapi juga kemampuan mengatur prioritas dan menjaga stabilitas keuangan.
Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa.
Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit terwujud.
"Menabung harus menjadi prioritas sejak awal. Jangan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” kata Satria.
Ia menambahkan, disiplin dalam mengelola keuangan menjadi faktor paling penting untuk membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan.
Seseorang perlu memiliki tujuan yang jelas, mengendalikan gaya hidup, serta konsisten menjalankan rencana keuangan yang telah dibuat.
“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Faktor yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” tutupnya. (*)