Nilai Ekonomi Benih Lobster Indonesia Bisa Tembus Rp9 Triliun
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Dr Thomas Nugroho, menilai Indonesia memiliki peluang besar meningkatkan nilai ekonomi sektor lobster melalui hilirisasi dan penguatan industri dalam negeri. Potensi benih bening lobster (BBL) diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta ekor dengan nilai ekonomi sekitar Rp9 triliun.
RINGKASAN BERITA:
- Potensi benih bening lobster Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta ekor dengan nilai ekonomi sekitar Rp9 triliun.
- Harga BBL yang dibeli nelayan Rp10.000–15.000 per ekor dapat meningkat hingga Rp70.000 bahkan Rp150.000 per ekor di negara tujuan.
- IPB menilai hilirisasi dan penguatan industri pembesaran lobster di dalam negeri menjadi kunci meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan nelayan.
RIAUCERDAS.COM - Potensi ekonomi benih bening lobster (BBL) Indonesia diperkirakan mencapai sekitar Rp9 triliun, namun sebagian besar nilai tambah komoditas tersebut masih dinikmati negara tujuan ekspor.
Kondisi ini mendorong pentingnya penguatan industri pembesaran lobster di dalam negeri agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih besar oleh masyarakat dan negara.
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Dr Thomas Nugroho, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan kontribusi ekonomi sektor lobster melalui kebijakan yang berorientasi pada hilirisasi dan pengembangan industri nasional.
Menurutnya, lobster hingga saat ini masih menjadi komoditas krustasea dengan nilai ekonomi yang relatif lebih rendah dibandingkan udang dan rajungan.
Pada 2024, nilai perdagangan lobster Indonesia tercatat sekitar 90 juta dolar AS.
Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan negara pesaing, termasuk Vietnam yang menjadi salah satu pemain utama dalam industri lobster.
Thomas menjelaskan, ketimpangan nilai ekonomi dapat dilihat dari rantai perdagangan benih lobster.
Di tingkat nelayan, harga benih bening lobster berkisar antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per ekor.
Namun setelah masuk pasar Vietnam, nilainya dapat meningkat menjadi Rp40.000 hingga Rp70.000 per ekor.
Bahkan, berdasarkan sejumlah hasil riset, harga benih lobster di negara tujuan dapat mencapai Rp150.000 per ekor.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dalam bisnis lobster justru berada pada tahapan distribusi dan pembesaran, bukan pada pelaku usaha yang berada di sektor hulu.
"BBL bukan sekadar sumber daya perikanan, tetapi memiliki nilai ekonomi tinggi yang mampu menciptakan berbagai aktivitas ekonomi mulai dari penangkapan, pengumpulan, logistik, transportasi hingga perdagangan internasional," ujar Thomas dikutip dari laman IPB University, Jumat (5/6/2026).
Ia mengungkapkan bahwa potensi benih lobster Indonesia diperkirakan melebihi 200 juta ekor.
Dengan asumsi nilai rata-rata Rp40.000 per ekor, perputaran ekonomi yang dihasilkan dapat mencapai sekitar Rp9 triliun.
Besarnya nilai tersebut menjadikan BBL sebagai komoditas strategis yang tidak hanya berkaitan dengan sektor perikanan, tetapi juga melibatkan jaringan perdagangan, arus keuangan, hingga berbagai aspek regulasi dan perizinan.
Thomas menilai tata kelola yang kuat menjadi faktor penting agar potensi ekonomi tersebut dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat dan negara.
Menurutnya, sejumlah aspek perlu diperkuat, mulai dari transparansi perizinan, pengawasan yang lebih efektif, integrasi sistem logistik, hingga koordinasi antarlembaga.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kebocoran ekonomi sekaligus mengurangi potensi praktik perburuan rente dalam tata niaga lobster.
"Transformasi dari ekspor benih menuju kedaulatan industri lobster menjadi langkah penting agar nilai tambah, penerimaan negara, dan kesejahteraan nelayan dapat meningkat secara berkelanjutan," tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan riset, inovasi teknologi, serta pengembangan industri pembesaran lobster di dalam negeri akan membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pusat produksi lobster bernilai tinggi di tingkat global.
Selain meningkatkan daya saing industri perikanan nasional, langkah tersebut juga dinilai dapat memperkuat implementasi ekonomi biru yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan penerimaan negara. (*)