Delegasi Singapura Pelajari Strategi Pelalawan Tangani Karhutla

Pemerintah Kabupaten Pelalawan membuka peluang kolaborasi internasional dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui audiensi dengan Singapore Institute of International Affairs (SIIA). Pertemuan membahas pembangunan berkelanjutan, strategi mitigasi karhutla, hingga rencana edukasi bersama untuk memperkenalkan upaya Indonesia kepada masyarakat Singapura.

Delegasi Singapura Pelajari Strategi Pelalawan Tangani Karhutla
SIIA Singapura mengkaji langsung strategi penanggulangan karhutla yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Pelalawan. (Sumber: BPBD Pelalawan)

RINGKASAN BERITA:

  • SIIA Singapura mengkaji langsung strategi penanggulangan karhutla yang diterapkan Pemerintah Kabupaten Pelalawan.
  • Pemkab Pelalawan mengandalkan konsep penanganan karhutla berbasis klaster dengan melibatkan perusahaan, masyarakat, TNI, dan Polri.
  • Kerja sama yang dijajaki diharapkan menjadi sarana edukasi internasional sekaligus mengurangi stigma negatif terhadap penanganan karhutla di Riau.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Pemerintah Kabupaten Pelalawan memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui penjajakan kerja sama dengan lembaga riset internasional asal Singapura, Singapore Institute of International Affairs (SIIA).

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mendukung mitigasi karhutla, tetapi juga memperkuat pemahaman dunia internasional terhadap langkah yang telah dilakukan daerah.

Pembahasan tersebut mengemuka saat Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pelalawan, Zulfan, S.Pi, M.Si didampingi Sanusi, Sp menerima kunjungan kerja delegasi SIIA di Aula Hotel Novotel Pekanbaru, Riau, Kamis (16/7/2026).

Pertemuan kedua pihak berfokus pada pembahasan pembangunan berkelanjutan di daerah sekaligus strategi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pelalawan.

Ketua SIIA, Simon Tay, mengatakan audiensi tersebut bertujuan memperoleh gambaran langsung mengenai implementasi pembangunan berkelanjutan dan efektivitas penanganan karhutla di Kabupaten Pelalawan.

“Tujuan kita melakukan audiensi bersama Kabupatem Pelalawan ini adalah untuk mengkaji secara langsung terkait langkah nyata dan upaya dari Kabupaten Pelalawan terhadap penanggulangan kebakaran hutan dan lahan,” ujar Simon.

Ia menjelaskan, SIIA memiliki mandat untuk memperkuat hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara dan ASEAN.

Untuk Indonesia, kajian lembaga tersebut dipusatkan pada wilayah yang berdekatan dengan Singapura, seperti Provinsi Riau dan Jambi, karena dinilai memiliki peran strategis dalam isu iklim kawasan.

Simon juga berharap pembahasan tersebut dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret antara SIIA dan Pemerintah Kabupaten Pelalawan.

Menurutnya, kemitraan itu dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Singapura mengenai berbagai langkah yang telah ditempuh Indonesia dalam mengatasi karhutla.

Sementara itu, Kalaksa BPBD Kabupaten Pelalawan, Zulfan, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan SIIA terhadap upaya pelestarian lingkungan di daerahnya.

Ia menegaskan, komitmen pemerintah daerah dalam mencegah dan menangani karhutla menjadi prioritas, mengingat lebih dari 60 persen wilayah daratan Kabupaten Pelalawan merupakan lahan gambut yang memerlukan penanganan serius.

Sebagai salah satu strategi, Pemkab Pelalawan menerapkan konsep penanggulangan karhutla berbasis klaster.

Melalui program tersebut, pemerintah menggandeng perusahaan, khususnya yang bergerak di sektor perkebunan dan pertanian, untuk bersama-sama melakukan langkah antisipasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Selain itu, pemerintah daerah juga menjalankan berbagai upaya mitigasi, seperti sosialisasi kepada masyarakat dan petani mengenai bahaya karhutla, patroli rutin, deteksi dini di wilayah rawan kebakaran, pemberdayaan Masyarakat Peduli Api, penyediaan sarana dan prasarana penanggulangan.

Kemudian, pelibatan TNI, Polri, perusahaan serta masyarakat, peningkatan kapasitas Tim Reaksi Cepat (TRC), hingga koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Riau dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

“Untuk itu memang perlu perhatian khusus dan langkah serta kerja sama yang baik antara pemerintah, pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, hingga kerja sama internasional dengan negara tetangga agar penanggulangan ini kian membaik ke depannya,” kata Zulfan.

Ia menambahkan, kajian dan kerja sama mitigasi bencana dalam jangka panjang sangat penting untuk menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Zulfan berharap kolaborasi edukasi bersama Singapura dapat membantu mengubah stigma negatif masyarakat internasional terhadap penanganan karhutla di Provinsi Riau, khususnya Kabupaten Pelalawan. (*)