Pisang Liar Indonesia Jadi Kunci BRIN Atasi Ancaman Penyakit Global
Indonesia menyimpan sepertiga kekayaan spesies pisang liar dunia. Potensi genetik istimewa ini kini dimaksimalkan oleh BRIN, didukung oleh LPDP dan Gates Foundation, melalui teknologi genom termutakhir untuk menciptakan varietas pisang tanpa biji yang kebal terhadap penyakit layu Fusarium dan virus mematikan BBTV.
RINGKASAN BERITA:
- Indonesia merupakan "surga" genetik pisang liar dengan menguasai sekitar 30 dari 70 spesies yang ada di muka bumi.
- Berbeda dengan pisang konsumsi, pisang liar yang penuh biji (seperti pisang klutuk) ternyata menyimpan DNA tangguh pelindung penyakit.
- Riset rekayasa genom pisang ini mendapat perhatian global, disokong langsung melalui kolaborasi riset bersama LPDP dan Gates Foundation.
RIAUCERDAS.COM, CIBINONG - Kekayaan keanekaragaman hayati Nusantara kembali membuktikan perannya di kancah global. Siapa sangka, sepertiga dari total keragaman spesies pisang liar yang hidup di bumi ternyata berhabitat asli di Indonesia.
Kekayaan inilah yang kini tengah dieksplorasi oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai senjata utama untuk menyelamatkan komoditas pisang dari ancaman kepunahan akibat serangan penyakit layu Fusarium serta banana bunchy top virus (BBTV).
Langkah strategis demi mengamankan stabilitas pasokan pangan tersebut dibongkar dalam sebuah diskusi publik bertema Pemuliaan Pisang Liar untuk Ketahanan Pangan.
Agenda yang diinisiasi oleh Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN ini berlangsung di area Capacity Building & Expo, Gedung ICC, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong.
Peneliti dari Pusat Riset Botani Terapan BRIN yang tergabung dalam Kelompok Riset Genetika Hayati Tumbuhan, Fajarudin Ahmad, menerangkan bahwa nenek moyang pisang yang hidup bebas di alam membawa materi DNA istimewa.
Tidak seperti pisang meja yang biasa dikonsumsi masyarakat macam Cavendish, varietas mas, maupun Ambon yang identik tanpa biji, varian liar justu berwujud sebaliknya.
Karakteristik alami yang berbiji seperti pada pisang klutuk ini membuatnya sangat ideal dijadikan indukan subur penangkal patogen saat proses persilangan.
Spesies-spesies pembawa gen super semacam Musa acuminata hingga Musa balbisiana sangat mudah dijumpai tumbuh subur berdekatan dengan area perkebunan warga, pinggiran aliran air, hingga batas pedesaan dan hutan yang mendapat limpahan cahaya matahari serta suplai air mumpuni.
Di wilayah Pulau Jawa, keluarga dekat pisang komersial ini bahkan mempertontonkan corak warna buah yang sangat beragam.
"Dari sekitar 70 spesies pisang liar di dunia, sekitar 20 hingga 30 spesies berada di Indonesia. Artinya, sepertiga spesies pisang liar dunia terdapat di Indonesia," terang Fajarudin dikutip dari laman BRIN, Minggu (12/7/2026).
Selama ini, metode persilangan tradisional untuk menciptakan bibit unggul selalu membentur berbagai jalan buntu.
Fajarudin membeberkan deretan hambatan teknis tersebut, mulai dari merosotnya angka kesuburan bibit persilangan, perlunya area tanam yang sangat masif hanya demi memanen biji, rendahnya daya hidup embrio, hingga fenomena rumitnya memisahkan sifat bawaan tertentu akibat terjadinya pertukaran letak kromosom.
Solusinya, BRIN mengembangkan pendekatan pemuliaan berbasis struktur genom.
Pendekatan ini dirancang untuk mempertahankan fertilitas tetua dan diharapkan menghasilkan hibrida steril tanpa biji dengan tingkat vigor yang tinggi.
Pada pisang triploid, seperti Cavendish (AAA) dan Pome (AAB), pendekatan tersebut dilakukan melalui pembentukan tiga breeding pool (A1, A2, dan A3), serta didukung pemanfaatan teknologi double haploid (DH) dan backcrossing untuk meningkatkan ketepatan perbaikan sifat tetua.
Proyek perakitan varietas masa depan ini tak pelak memikat atensi dunia internasional.
Saat ini, tim peneliti tengah menggeber tahap pendataan, pengumpulan spesimen unggul Musa acuminata, hingga eksekusi pemuliaan berbasis teknologi modern berkat kucuran dana patungan antara lembaga pengelola dana abadi LPDP bersama yayasan filantropi raksasa, Gates Foundation.
"Kita perlu memaksimalkan pemanfaatan sumber hayati asli Indonesia ini. Ke depan, saya berharap kolaborasi riset terkait pisang ini tidak hanya berhenti di lingkup BRIN, melainkan bisa diperluas dengan menjalin kerja sama bersama berbagai universitas," tandasnya. (*)