Krisis Lingkungan di Indonesia Berakar dari Krisis Moral Manusia
Dosen Fakultas Filsafat UGM Dr. Arqom Kuswanjono menilai berbagai persoalan lingkungan di Indonesia tidak hanya dipicu faktor alam, tetapi juga berakar pada krisis moral manusia. Menurutnya, keserakahan dan eksploitasi alam tanpa memperhatikan keseimbangan menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan.
RINGKASAN BERITA :
- Dosen UGM menyebut krisis lingkungan di Indonesia merupakan krisis moral yang dipicu keserakahan manusia.
- Eksploitasi alam tanpa memperhatikan hukum alam dinilai menjadi penyebab utama banjir, longsor, dan kerusakan ekologis.
- Masyarakat diajak memandang bumi sebagai titipan bagi generasi mendatang, bukan warisan yang bebas dieksploitasi.
RIAUCERDAS.COM - Kerusakan lingkungan yang terus terjadi di Indonesia dinilai tidak semata-mata merupakan persoalan ekologis, tetapi juga mencerminkan krisis moral manusia.
Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Arqom Kuswanjono, S.Ag., M.A., mengatakan berbagai bencana ekologis yang dipicu aktivitas manusia berawal dari perilaku yang mengabaikan tanggung jawab terhadap alam.
Arqom menjelaskan, perlu dibedakan antara peristiwa alam dan bencana yang muncul akibat tindakan manusia.
Menurutnya, gempa bumi, letusan gunung api, dan fenomena alam lainnya merupakan bagian dari mekanisme alam.
Namun, kerusakan lingkungan yang dipicu aktivitas manusia lebih tepat dipahami sebagai bencana moral.
"Bencana moral merupakan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Banjir, longsor, dan berbagai kerusakan lingkungan memang ada pengaruh faktor alam, tapi di dalamnya juga terdapat persoalan moralitas. Manusia, karena keserakahannya, terus merusak alam," ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (10/7/2026).
Dosen Departemen Filsafat Agama itu menilai keserakahan menjadi akar utama krisis lingkungan.
Menurutnya, eksploitasi sumber daya alam demi keuntungan ekonomi dilakukan tanpa mempertimbangkan keseimbangan yang telah dibentuk oleh hukum alam.
"Alam itu sebenarnya bisa mengelola dirinya sendiri lewat hukum alam. Ketika ada intervensi manusia yang merasa bebas menguasai alam, dan ingin merekayasa alam tanpa memperhatikan hukum-hukum alam, maka terjadilah kerusakan," kata dia.
Arqom menambahkan, manusia cenderung tidak pernah merasa cukup terhadap apa yang dimiliki sehingga terus mengeksploitasi alam secara berlebihan.
Padahal, ia menilai sumber daya alam pada dasarnya mampu memenuhi kebutuhan manusia apabila dimanfaatkan secara bijaksana.
Ia mengutip pernyataan Mahatma Gandhi yang menyebut, "Alam semesta cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia."
Dalam perspektif teologi, Arqom menilai masih banyak pihak yang keliru memahami kedudukan manusia sebagai makhluk yang diberi amanat untuk mengelola bumi.
Menurutnya, posisi tersebut bukanlah pembenaran untuk menguasai dan mengeksploitasi alam, melainkan tanggung jawab untuk menjaga serta merawatnya.
"Manusia itu harus mencontoh sifat Tuhan, yakni pengasih dan penyayang. Menguasai alam bukan berarti kemudian manusia punya kebebasan untuk merusak. Manusia diberi kuasa atas burung, hutan, dan alam semesta bukan untuk merusaknya, tetapi untuk menjaganya," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran filosofis mengenai hubungan manusia dengan alam.
Menurut Arqom, pemahaman bahwa manusia merupakan bagian dari alam harus menjadi dasar pembentukan pengetahuan, pendidikan, hingga etika lingkungan.
"Dari ontologi muncul epistemologi. Setelah mengetahui posisi manusia dengan alam, lalu manusia membangun pengetahuan dan kesadaran terhadap alam yang pada ujungnya membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan," kata dia.
Selain itu, Arqom menyoroti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan.
Berbagai aktivitas seperti penebangan hutan, pembangunan industri, hingga kegiatan yang memicu polusi dan perubahan iklim kerap dilakukan atas nama kemajuan.
Karena itu, ia mengajak masyarakat modern belajar dari masyarakat adat yang dinilai masih menjaga hubungan harmonis dengan alam.
"Kadang-kadang manusia harus belajar dari masyarakat pedalaman. Mereka lebih santun kepada alam. Yang perlu dipelajari bukan mitologinya, tetapi kesantunan mereka terhadap alam," ungkap Arqom.
Menutup pemaparannya, Arqom mengingatkan bahwa alam harus dipandang sebagai titipan bagi generasi mendatang, bukan sebagai warisan yang dapat dieksploitasi tanpa batas.
"Ketika alam rusak, bukan hanya alam yang rusak, tapi manusia sendiri juga akan rusak. Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita, bukan warisan yang boleh kita habiskan," tandasnya. (*)