Riset Alumni PTKIN Ungkap Tantangan Santri Berbahasa Inggris

Empat alumni PTKIN menerbitkan riset internasional yang mengkaji pembelajaran bahasa Inggris di pesantren. Penelitian tersebut menemukan santri umumnya menguasai komunikasi dasar, namun masih menghadapi tantangan dalam kemampuan debat, argumentasi, dan berpikir kritis sehingga diperlukan pendekatan pengajaran yang lebih interaktif dan kontekstual.

Riset Alumni PTKIN Ungkap Tantangan Santri Berbahasa Inggris
Alumni Jurusan Bahasa Inggris UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yakni Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah yang melakukan penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education (IJOLTE) Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Riset internasional menemukan santri umumnya menguasai komunikasi dasar bahasa Inggris, tetapi masih menghadapi tantangan dalam debat, argumentasi spontan, dan penalaran kritis.
  • Penelitian mengungkap pembelajaran bahasa Inggris di pesantren masih didominasi aktivitas percakapan harian dan pidato atau muhadharah yang masing-masing mencapai 35 persen.
  • Peneliti merekomendasikan model pembelajaran yang lebih interaktif melalui diskusi, pemecahan masalah, dan berbagi opini untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tingkat tinggi santri.

RIAUCERDAS.COM, CIREBON - Kemampuan santri dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dinilai masih perlu diperkuat pada aspek berpikir kritis dan argumentasi.

Temuan itu terungkap dalam riset kolaboratif empat alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang dipublikasikan dalam International Journal of Language Teaching and Education (IJOLTE) Volume 10 Nomor 1 Tahun 2026.

Penelitian berjudul "Contextualizing English Speaking Instruction in Indonesian Pesantren: A Needs Analysis" tersebut dilakukan oleh alumni Jurusan Bahasa Inggris UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, yakni Muhammad Haikal Attabik, Mailiza Zainiza, Anggraeni Khusuma Dewi, dan Agung Ahdiansyah, dengan bimbingan dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Nunik Sugesti.

Muhammad Haikal Attabik menjelaskan penelitian itu berupaya memotret kebutuhan pembelajaran bahasa Inggris di lingkungan pesantren sekaligus menawarkan pendekatan baru yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.

Menurutnya, hasil penelitian dapat menjadi referensi akademik yang relevan bagi pengembangan pendidikan pesantren, terutama setelah tata kelola pesantren kini berada di bawah Direktorat Jenderal Pesantren.

Penelitian dilakukan di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, menggunakan metode campuran (mixed-methods) untuk mengkaji kebutuhan pembelajaran berbicara bahasa Inggris serta faktor lingkungan yang memengaruhinya.

“Jadi, esensi temuan riset yang kami lakukan mengungkapkan bahwa interaksi bahasa asing di pesantren saat ini masih dominan pada situasi komunikatif yang bersifat rutin dan prosedural, seperti percakapan harian (35%) dan aktivitas pidato atau muhadharah (35%),” kata Haikal di Cirebon, Senin (22/6/2026).

Ia mengatakan intensitas penggunaan bahasa asing di lingkungan pesantren memang cukup tinggi.

Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghasilkan kemampuan komunikasi yang lebih kompleks.

“Santri memang terbukti cakap dalam komunikasi dasar, tapi mereka menghadapi tantangan besar pada aktivitas berbicara tingkat tinggi seperti debat, argumentasi spontan, dan penalaran kritis,” kata dia.

Temuan lain dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa metode pengajaran yang selama ini diterapkan masih lebih berorientasi pada ketepatan tata bahasa dibandingkan pengembangan kemampuan komunikasi aktif.

Agung Ahdiansyah menilai pendekatan yang terlalu menitikberatkan pada struktur bahasa dapat berdampak pada kepercayaan diri peserta didik saat berkomunikasi.

“Secara psikologis, fokus berlebih pada kebenaran struktur kalimat dapat memicu kecemasan di kalangan santri, sehingga dapat membatasi keberanian mereka dalam mengeksplorasi gagasan secara terbuka,” ujar Agung.

Berdasarkan hasil penelitian, para peneliti merekomendasikan adanya perubahan pendekatan dalam pembelajaran bahasa Inggris di pesantren.

Model pembelajaran yang lebih menekankan interaksi dan konteks dinilai dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta keterampilan komunikasi tingkat lanjut.

Beberapa metode yang disarankan antara lain diskusi pemecahan masalah (problem-solving), forum berbagi pendapat, dan aktivitas yang mendorong santri mengemukakan argumentasi secara aktif.

Meski demikian, pendekatan baru tersebut tetap diharapkan berjalan selaras dengan karakteristik dan nilai-nilai khas pesantren yang telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikan keagamaan di Indonesia.

“Tentunya, dengan tetap mempertahankan karakteristik lokal dan nilai-nilai luhur kepesantrenan, materi pembelajaran bahasa ke depan diharapkan dapat dikembangkan secara bertahap untuk melatih cara berpikir kritis santri,” tuturnya.

Penelitian ini menjadi salah satu kontribusi akademik alumni PTKIN dalam memperkaya kajian pendidikan pesantren sekaligus memberikan rekomendasi bagi pengembangan pembelajaran bahasa asing yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masa depan. (*)