Santri Tunarungu Kembangkan Usaha Batik Lewat Program PKW Kemendikdasmen

Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 Kemendikdasmen membantu peserta, termasuk santri tuna rungu dan tuna wicara di Jepara, mengembangkan keterampilan membatik hingga merintis usaha berbasis budaya lokal.

May 22, 2026 - 08:06
 0
Santri Tunarungu Kembangkan Usaha Batik Lewat Program PKW Kemendikdasmen
Ajibatin Ni’mah, santri tunarungu dan tunawicara alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara tengah membatik. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Santri tunarungu dan tunawicara di Jepara mengembangkan usaha batik melalui program PKW 2025.
  • Produk batik peserta mengangkat motif khas Jepara dan mulai dipasarkan secara daring.
  • Program PKW 2026 di Jepara akan diperluas dengan jumlah peserta meningkat menjadi 30 orang.

RIAUCERDAS.COM, JEPARA - Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) 2025 yang digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) membuka peluang kemandirian bagi peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas.

Melalui pelatihan membatik, sejumlah peserta mulai merintis usaha batik berbasis budaya lokal di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Ajibatin Ni’mah atau Mbak Aik, santri tunarungu dan tunawicara alumni Pondok Pesantren Tahfidz Tuli Irhamnyy Robby Jepara.

Meski memiliki keterbatasan komunikasi, Mbak Aik tetap aktif mengikuti pelatihan membatik dalam program PKW 2025 yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juni 2025.

Pendamping pelatihan PKW 2025, Muhammad Zainal Abidin mengatakan, Mbak Aik sebenarnya telah mengenal dasar membatik sejak masih sekolah dan kini memperdalam kemampuannya melalui program tersebut.

“Untuk komunikasinya menggunakan bahasa isyarat dan kebetulan saya mendampingi untuk membantu komunikasi. Mbak Aik mulai belajar membatik sejak sekolah, lalu dilanjutkan melalui pelatihan PKW untuk mengasah kemampuan lebih dalam tentang batik,” ujar Abidin.

Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan lanjutan hingga Maret 2026 agar keterampilan yang dimiliki dapat berkembang menjadi usaha mandiri.

Direktur Kursus dan Pelatihan Kemendikdasmen, Yaya Sutarya menyebut model pembelajaran PKW dirancang secara inklusif agar peserta dengan keterbatasan fisik tetap bisa mengikuti proses belajar secara optimal.

”Direktorat Kursus dan Pelatihan telah merancang model pembelajarannya bersifat inklusif, sehingga peserta didik yang memiliki keterbatasan secara fisik tetap mampu mengikuti proses belajar, serta dapat mewujudkan cita-citanya di masa depan,” kata Yaya.

Saat ini, Mbak Aik masih menempuh pendidikan di pondok pesantren sambil terus mengembangkan kemampuan membatik di sela kegiatan mengaji.

Karya batiknya bersama tim pendamping mulai dipasarkan secara daring melalui toko digital bernama “Santui Jepara” yang merupakan singkatan dari Santri Tuli.

Abidin menilai program PKW turut membantu meningkatkan rasa percaya diri peserta disabilitas agar mampu berkarya dan mandiri secara ekonomi.

“Kami berharap ke depan ada lebih banyak pelatihan khusus bagi teman-teman disabilitas, karena mereka membutuhkan arahan dan pendampingan untuk membangun kepercayaan diri,” tuturnya.

Cerita serupa juga datang dari Tsabita Durratul Hikmah, alumni SMKN 2 Jepara yang mengikuti PKW 2025.

Berbekal pengalaman belajar seni batik di sekolah, Tsabita bersama rekannya membangun usaha kelompok bernama Batik Catur Wastawa.

Produk mereka dipasarkan secara daring dengan mengangkat motif khas Jepara seperti Lung-lungan Jepara yang terinspirasi dari seni ukir tradisional daerah tersebut.

“Dengan adanya pelatihan, saya jadi lebih mendalami tentang batik dan mendapatkan pengetahuan tentang bahan serta proses produksinya,” ujar Tsabita.

Instruktur PKW 2025 dan 2026 Dekranasda Kabupaten Jepara, Titik Susanti menjelaskan, pelatihan tahun ini diikuti 15 peserta dari berbagai sekolah dan daerah, termasuk peserta disabilitas.

Pelatihan dilaksanakan menggunakan metode blended learning selama 32 hari dengan total 250 jam pembelajaran.

“Anak-anak mengangkat budaya lokal dari daerah masing-masing. Ada yang membuat motif ukiran Jepara, terumbu karang, ikan, kura-kura, sampai keindahan pesisir Bandengan,” terang Titik.

Ia menilai kemampuan peserta dalam membatik sudah cukup baik, namun masih diperlukan penguatan pada aspek pemasaran dan pengembangan usaha.

“Kalau membuat batik, anak-anak sudah terampil. Tantangannya memang di pemasaran. Karena itu kami berharap ada program lanjutan terkait marketing, manajemen usaha, dan strategi pemasaran produk,” katanya.

Program PKW di Jepara dijadwalkan kembali berlanjut pada 2026 dengan jumlah peserta meningkat menjadi 30 orang.

Melalui program tersebut, Kemendikdasmen berharap semakin banyak wirausaha muda berbasis budaya lokal yang tumbuh, sekaligus memperluas akses pelatihan keterampilan bagi kelompok rentan dan peserta didik berkebutuhan khusus. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow