Kemdiktisaintek Soroti Ancaman Pinjol Ilegal, Literasi Keuangan Mahasiswa Diperkuat
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Otoritas Jasa Keuangan memperkuat literasi keuangan generasi muda guna menghadapi ancaman pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan kejahatan finansial digital.
RINGKASAN BERITA:
- OJK menyoroti ancaman pinjaman online ilegal dan penipuan digital yang menyasar generasi muda.
- Kemdiktisaintek menilai literasi finansial penting untuk menghadapi disrupsi global dan teknologi.
- Bulan Literasi Keuangan 2026 melibatkan mahasiswa, pemerintah, dan industri jasa keuangan secara nasional.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Maraknya penipuan digital dan pinjaman online ilegal menjadi perhatian utama dalam Kick Off Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 yang digelar Otoritas Jasa Keuangan di Gedung Dhanapala, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai bagian dari penguatan kapasitas generasi muda di era digital.
Acara tersebut merupakan rangkaian Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 dan dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, perwakilan kementerian dan lembaga anggota SATGAS PASTI, serta pelaku industri jasa keuangan.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK M Ismail Riyadi mengatakan literasi keuangan menjadi benteng penting bagi masyarakat dalam menghadapi risiko kejahatan finansial berbasis digital.
“Literasi keuangan bukan hanya soal memahami uang, tetapi bagaimana masyarakat mampu membangun ketahanan finansial dan melindungi diri dari berbagai risiko kejahatan keuangan digital,” terangnya.
Menurut Ismail, perkembangan teknologi membuat modus penipuan digital, investasi ilegal, dan pinjaman online alias Pinjol ilegal terus berkembang.
Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai layanan dan produk keuangan perlu diperkuat secara berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menilai generasi muda harus memiliki kemampuan adaptasi yang kuat di tengah disrupsi global dan kemajuan teknologi.
“Literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan global yang sangat cepat,” katanya.
Fauzan menjelaskan pemahaman finansial tidak hanya berkaitan dengan cara memperoleh penghasilan, tetapi juga kemampuan mengelola pengeluaran, menabung, berinvestasi, hingga memahami risiko keuangan.
Ia menegaskan investasi terbaik bagi generasi muda adalah peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang mampu mendorong inovasi serta daya saing bangsa.
“Belajar dan meningkatkan keterampilan merupakan investasi yang memberikan hasil terbaik. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan pemahaman finansial yang baik, maka akan lahir inovasi dan kontribusi nyata untuk pembangunan bangsa,” jelasnya.
Melalui Bulan Literasi Keuangan 2026, pemerintah bersama OJK dan industri jasa keuangan mendorong penguatan edukasi finansial secara nasional sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. (*)