BRIN Kembangkan Implan Tulang Titanium Antibakteri, Kurangi Ketergantungan Produk Impor

BRIN mengembangkan implan pelat tulang berbasis paduan titanium yang lebih biokompatibel, antibakteri, dan terjangkau. Riset ini ditujukan untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional yang saat ini masih didominasi produk impor.

BRIN Kembangkan Implan Tulang Titanium Antibakteri, Kurangi Ketergantungan Produk Impor
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Metalurgi BRIN, Cahyo Sutowo menunjukkan hasil riset material implan tulang berbasis paduan titanium. (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN mengembangkan implan titanium antibakteri untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada alat kesehatan impor.
  • Material baru menggunakan tambahan unsur tembaga yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan implan.
  • Desain clavicle plate dibuat ergonomis dan disesuaikan dengan anatomi masyarakat Indonesia.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mempercepat pengembangan alat kesehatan dalam negeri melalui riset material implan tulang berbasis paduan titanium.

Teknologi tersebut dikembangkan untuk menghasilkan implan yang lebih aman, antibakteri, dan memiliki harga lebih terjangkau dibanding produk impor.

Penelitian difokuskan pada pengembangan implan pelat klavikula atau clavicle plate yang digunakan untuk menangani patah tulang selangka.

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Metalurgi BRIN, Cahyo Sutowo mengatakan penguasaan teknologi material titanium menjadi langkah strategis untuk mendukung kemandirian industri alat kesehatan nasional.

“Pengembangan material titanium untuk alat kesehatan bukan hanya soal inovasi material, tetapi juga upaya membangun kemandirian teknologi nasional agar kebutuhan implan medis dapat dipenuhi dari dalam negeri dengan harga yang lebih terjangkau,” ujar Cahyo dikutip dari laman BRIN, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, kebutuhan implan tulang di Indonesia terus meningkat dan diperkirakan mencapai 80.000 hingga 100.000 keping setiap tahun.

Namun, lebih dari 90 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi melalui impor.

BRIN melihat kondisi itu sebagai peluang untuk menghadirkan alternatif material implan yang lebih kompetitif dan sesuai kebutuhan nasional.

Dalam riset tersebut, BRIN mengembangkan paduan titanium tipe beta low-cost sebagai pengganti material konvensional seperti stainless steel 316L dan Ti6Al4V.

Material dikembangkan melalui penambahan unsur molibdenum (Mo), niobium (Nb), besi (Fe), dan tembaga (Cu) guna menghasilkan sifat mekanik dan biologis yang lebih baik.

Cahyo menjelaskan unsur tembaga pada paduan titanium memberikan kemampuan antibakteri melalui aktivitas oligodinamik yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme di permukaan implan.

“Material yang dikembangkan diharapkan memiliki ketahanan mekanik dan korosi yang baik, mudah dibentuk, aman bagi tubuh, serta memiliki kemampuan antibakteri untuk mengurangi risiko infeksi pascaoperasi,” terangnya.

Dalam pengembangannya, tim peneliti melakukan berbagai tahapan karakterisasi, mulai dari pengujian struktur mikro, sifat mekanik, ketahanan korosi pada simulated body fluid (SBF), hingga pengujian biokompatibilitas dan aktivitas antibakteri.

Selain pengembangan material, penelitian juga mencakup desain clavicle plate yang dibuat lebih ergonomis dan disesuaikan dengan anatomi masyarakat Indonesia.

Implan pelat klavikula sendiri merupakan perangkat medis untuk menstabilkan fragmen tulang pada kasus patah tulang selangka agar proses penyembuhan berjalan optimal.

Cedera tersebut cukup umum terjadi, terutama akibat trauma langsung pada bahu dan kecelakaan lalu lintas.

Untuk mendukung implementasi produk, BRIN menggandeng PT Eka Ormed Indonesia sebagai mitra industri manufaktur dan distributor alat kesehatan.

Selain itu, BRIN juga menjajaki kerja sama dengan dokter spesialis ortopedi dari Departemen Medik Ortopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) terkait pengembangan desain pelat klavikula sesuai kebutuhan klinis pasien Indonesia.

Cahyo menilai riset ini penting karena mengintegrasikan inovasi metalurgi dengan kebutuhan klinis di lapangan sekaligus mendorong hilirisasi industri metalurgi nasional.

Saat ini penelitian memasuki tahap pengembangan desain produk dan manufaktur prototipe. Tahapan berikutnya akan mencakup uji in-vivo, optimasi proses manufaktur, hingga uji pra-klinis dan klinis.

“Harapannya, penelitian ini dapat menghasilkan produk implan pelat klavikula buatan dalam negeri yang kompetitif, aman, dan mampu meningkatkan kemandirian industri alat kesehatan Indonesia,” tandasnya.(*)