Pakar Ingatkan Bahaya PMK dan Antraks Saat Memilih Hewan Kurban untuk Iduladha

Menjelang Iduladha, masyarakat diminta lebih cermat memilih hewan kurban dengan memperhatikan kondisi kesehatan fisik, bukan hanya ukuran tubuh atau harga. Dosen UMM Prof. Lili Zalizar mengingatkan pentingnya mengenali ciri hewan sehat agar ibadah kurban sah dan daging aman dikonsumsi.

Pakar Ingatkan Bahaya PMK dan Antraks Saat Memilih Hewan Kurban untuk Iduladha
dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang, Lili Zalizar. (Sumber: UMM)

RINGKASAN BERITA: 

  • Dosen UMM mengingatkan bahaya PMK dan Antraks pada hewan kurban.
  • Hewan kurban sehat harus bebas pincang, kudis, dan gangguan mata.
  • Hewan yang kelelahan sebelum disembelih bisa menghasilkan daging berkualitas buruk akibat sindrom DFD

RIAUCERDAS.COMMenjelang Hari Raya Iduladha, masyarakat diingatkan untuk mewaspadai penyakit berbahaya pada hewan kurban seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks.

Hewan yang terindikasi penyakit tersebut tidak layak dijadikan kurban karena dapat membahayakan kesehatan dan menurunkan kualitas daging.

Peringatan itu disampaikan dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian-Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Lili Zalizar, dalam edukasi mengenai pemilihan hewan kurban sehat menjelang Iduladha.

Menurut Lili, masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada ukuran tubuh hewan atau harga yang mahal.

Kondisi kesehatan hewan justru menjadi aspek utama agar ibadah kurban sesuai syariat dan aman dikonsumsi.

“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujarnya dikutip dari laman UMM, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, hewan yang mengalami cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan untuk kurban.

Selain itu, pembeli juga perlu memperhatikan kondisi mata dan kulit hewan.

Hewan kurban yang sehat ditandai dengan mata jernih serta tidak mengalami gangguan penglihatan seperti mata keruh atau muncul selaput putih.

Kulit hewan juga harus bersih dan bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies.

“Kalau untuk kurban, pilih yang kulitnya mulus dan tidak kudisan karena kita ingin mengurbankan hewan yang terbaik,” tambahnya.

Lili juga mengingatkan masyarakat agar mengenali gejala PMK pada hewan.

Penyakit tersebut biasanya ditandai keluarnya lendir berlebihan dari mulut, luka pada gusi dan lidah, serta adanya radang dan luka di sela kuku kaki.

Sementara itu, hewan yang terpapar Antraks umumnya mengalami kejang-kejang disertai pendarahan dari hidung atau anus.

Menurutnya, daging dari hewan tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi.

“Kalau ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” kata dia.

Selain kondisi fisik, kesehatan hewan juga bisa dilihat dari nafsu makan dan tingkat kebugarannya.

Hewan yang aktif makan dan berbadan gemuk dinilai lebih baik karena menghasilkan daging lebih banyak.

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan usia hewan telah memenuhi syariat, yakni minimal dua tahun untuk sapi dan satu tahun bagi kambing atau domba.

Di akhir keterangannya, Lili menyoroti pentingnya masa istirahat hewan sebelum penyembelihan, terutama bagi ternak yang baru menempuh perjalanan jauh.

Menurut Lili, hewan yang stres dan kelelahan dapat mengalami sindrom DFD (Dark, Firm, Dry) yang membuat kualitas daging menjadi gelap, keras, dan kering.

Melalui edukasi tersebut, Lili berharap masyarakat semakin teliti memilih hewan kurban agar ibadah yang dijalankan tidak hanya sah secara agama, tetapi juga menjamin kualitas pangan yang dikonsumsi bersama. (*)