Musim Kemarau 2026 Picu Upwelling, BRIN Prediksi Stok Ikan di Perairan Indonesia Melonjak

BRIN mengungkap fenomena upwelling saat awal kemarau 2026 berpotensi meningkatkan kesuburan laut. Kondisi ini diprediksi memicu lonjakan stok ikan pelagis di perairan Indonesia.

Musim Kemarau 2026 Picu Upwelling, BRIN Prediksi Stok Ikan di Perairan Indonesia Melonjak
Ilustrasi aktivitas nelayan. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Upwelling saat awal kemarau meningkatkan kesuburan laut.
  • Potensi lonjakan stok ikan diprediksi terjadi pertengahan 2026.
  • Fenomena ini bisa menopang ketahanan pangan saat daratan terdampak kekeringan.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada April 2026 menjadi perhatian para peneliti oseanografi.

Di tengah potensi kekeringan di daratan, kondisi ini justru membawa dampak positif bagi sektor kelautan melalui fenomena Upwelling.

Peneliti Ahli Utama pada Badan Riset dan Inovasi Nasional, Widodo Pranowo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau memicu Angin Timuran yang kuat, sehingga mendorong massa air permukaan menjauh dari pantai.

Kondisi ini kemudian digantikan oleh air laut dari lapisan dalam yang kaya nutrien seperti nitrat dan fosfat.

“Massa air yang terangkat ini membawa ‘pupuk alami’. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita,” jelasnya.

Widodo mengungkapkan, fenomena upwelling di selatan Pulau Jawa memiliki karakteristik khas yang dikenal secara internasional sebagai RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).

Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam Majalah Indo-Maritime 2014, fenomena ini dipengaruhi oleh dinamika musim serta variabilitas iklim global.

Penelitian tersebut juga memanfaatkan teknologi Argo Float, yakni robot penyelam otomatis yang mampu merekam data temperatur dan salinitas hingga kedalaman 2.000 meter secara real-time.

Hasil analisis menunjukkan bahwa lapisan Thermocline yang terangkat ke permukaan menjadi indikator penting dalam menentukan daerah penangkapan ikan.

Wilayah perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara diketahui menjadi habitat penting bagi sejumlah ikan ekonomis, seperti Tuna Sirip Biru Selatan, cakalang, dan tuna mata besar.

Selain itu, fenomena El Niño juga disebut dapat memperkuat intensitas upwelling jika terjadi pada 2026.

Widodo memprediksi pertumbuhan fitoplankton akan mulai terjadi pada April–Mei, meningkat pada Juni, dan mencapai puncaknya pada Juli–Agustus 2026.

Kondisi tersebut diperkirakan akan menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru, khususnya di wilayah Selat Bali.

“Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya,” tambahnya.

Fenomena ini dinilai memiliki implikasi strategis terhadap ketahanan pangan nasional, terutama ketika sektor pertanian darat menghadapi ancaman kekeringan akibat musim kemarau panjang.

Karena itu, pemantauan dinamika laut dan atmosfer secara berkelanjutan menjadi langkah penting dalam menjaga ketersediaan sumber pangan dari sektor maritim. (*)