Pakar Epidemiologi Tegaskan Hantavirus Tak Semudah COVID-19 Menyebar

Ramainya perbincangan mengenai Hantavirus di media sosial memicu kekhawatiran publik akan munculnya pandemi baru. Namun, pakar epidemiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan karakteristik penularan Hantavirus berbeda dengan COVID-19 karena tidak menyebar langsung dari manusia ke manusia.

Pakar Epidemiologi Tegaskan Hantavirus Tak Semudah COVID-19 Menyebar
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Pakar epidemiologi menegaskan Hantavirus tidak menular langsung dari manusia ke manusia seperti COVID-19 sehingga peluang menjadi pandemi besar lebih terbatas.
  • Penularan Hantavirus umumnya terjadi melalui paparan urin, air liur, kotoran, atau debu yang terkontaminasi hewan pengerat.
  • Menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan daya tahan tubuh menjadi langkah utama untuk mencegah infeksi Hantavirus.

RIAUCERDAS.COMKekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan munculnya pandemi baru akibat Hantavirus dinilai perlu disikapi secara proporsional.

Meski kewaspadaan tetap diperlukan, virus tersebut memiliki pola penularan yang berbeda dengan COVID-19 sehingga risiko penyebaran masif dinilai jauh lebih rendah.

Spesialis Ahli Bidang Epidemiologi sekaligus Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Minsarnawati, S.K.M., M.Kes., mengatakan masyarakat tidak perlu panik menyikapi informasi yang beredar mengenai Hantavirus.

Menurutnya, virus tersebut umumnya ditularkan melalui hewan pengerat dan bukan melalui kontak langsung antarmanusia seperti COVID-19.

"Kalau Covid itu penularannya langsung dari manusia ke manusia. Sementara Hantavirus perantaranya adalah hewan pengerat seperti tikus dan celurut," jelasnya dikutip dari laman Kemenag, Minggu (14/6/2026).

Ia menerangkan bahwa perbedaan jalur penularan menjadi faktor utama yang membuat Hantavirus tidak mudah menyebar secara luas dalam waktu singkat.

Selama ini, penularan pada manusia terjadi akibat paparan urin, air liur, kotoran, atau debu yang telah terkontaminasi hewan pengerat yang membawa virus.

"Kalau Corona kan dari manusia ke manusia melalui saluran pernafasan, sementara Hantavirus selama ini yang terjadi masih sebatas antarhewan, kemudian menular ke manusia," kata dia.

Menurut Minsarnawati, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap Hantavirus tidak terlepas dari pengalaman panjang menghadapi pandemi COVID-19.

Kondisi tersebut membuat informasi mengenai penyakit menular baru kerap menimbulkan kecemasan meskipun karakteristik masing-masing virus berbeda.

Berdasarkan data Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, kasus Hantavirus telah ditemukan di berbagai kawasan dunia, termasuk Amerika, Asia, Eropa, dan Afrika.

Indonesia juga pernah melaporkan kasus Hantavirus, namun jenis yang ditemukan berbeda dengan varian yang memiliki tingkat kematian tinggi di kawasan Amerika.

Secara umum, Hantavirus terbagi menjadi dua kelompok utama. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa.

Jenis ini merupakan tipe yang pernah teridentifikasi di Indonesia.

Sementara itu, kelompok kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika.

Dibandingkan HFRS, HPS diketahui memiliki tingkat fatalitas yang lebih tinggi.

Minsarnawati juga menyinggung pemberitaan mengenai seorang warga negara Indonesia yang berada dalam satu kapal pesiar dengan penumpang yang terkonfirmasi Hantavirus.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan kesehatan, warga tersebut dinyatakan tidak terinfeksi.

Ia menjelaskan bahwa risiko seseorang mengalami infeksi tidak hanya ditentukan oleh tingkat paparan, tetapi juga dipengaruhi kondisi daya tahan tubuh masing-masing individu.

Dalam ilmu epidemiologi, kondisi tersebut dikenal sebagai susceptible host atau tingkat kerentanan seseorang terhadap penyakit.

"Bisa jadi kita bertiga sama-sama kontak dengan kotoran tikus, tetapi mungkin saya yang terkena, sementara yang lain tidak karena daya tahan tubuhnya lebih kuat," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut sejumlah kelompok memiliki risiko paparan yang lebih tinggi dibanding masyarakat umum.

Mereka antara lain petugas kebersihan, pengelola sampah, petani, hingga petugas laboratorium yang sering berinteraksi dengan hewan pengerat atau lingkungan yang berpotensi terkontaminasi.

Karena itu, langkah pencegahan menjadi aspek paling penting dalam mengurangi risiko penularan.

Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan area yang kotor, serta menyimpan makanan dengan baik agar tidak menarik keberadaan tikus di sekitar tempat tinggal.

"Kuncinya adalah menjaga kebersihan lingkungan kita. Tikus itu suka pada lingkungan yang kotor," tuturnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, cukup beristirahat, dan menghindari kebiasaan begadang guna menjaga daya tahan tubuh.

Apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, sakit kepala, lemas, mual, diare, atau memiliki riwayat kontak dengan tikus maupun lingkungan yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Menurut Minsarnawati, kewaspadaan tetap penting dalam menghadapi berbagai ancaman penyakit menular.

Namun masyarakat diharapkan tidak terjebak dalam spekulasi yang dapat memicu kepanikan, melainkan fokus pada langkah-langkah pencegahan yang terbukti efektif. (*)