Tak Semua Barang Mewah Cocok Jadi Investasi, Akademisi Ungkap Syarat Aset Bernilai Tinggi
Minat masyarakat terhadap barang mewah sebagai instrumen investasi terus meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengingatkan hanya aset tertentu yang memiliki potensi menjaga atau meningkatkan nilai dalam jangka panjang.
RINGKASAN BERITA:
- Akademisi UMY menegaskan tidak semua barang mewah layak dijadikan instrumen investasi jangka panjang.
- Kelangkaan, reputasi merek, keaslian, dan pasar sekunder menjadi faktor utama yang menentukan nilai aset koleksi.
- Investor diingatkan memahami risiko investasi barang mewah, mulai dari barang palsu hingga perubahan tren pasar.
RIAUCERDAS.COM - Meningkatnya minat masyarakat menjadikan barang mewah sebagai alternatif investasi harus diimbangi dengan pemahaman yang tepat.
Akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan tidak semua produk premium layak dijadikan instrumen investasi karena hanya aset tertentu yang mampu mempertahankan atau meningkatkan nilainya dalam jangka panjang.
Dosen Program Studi Ekonomi UMY, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, mengatakan tren ini menunjukkan semakin tingginya literasi masyarakat mengenai pentingnya diversifikasi investasi di luar instrumen konvensional.
"Dahulu investasi identik dengan saham, obligasi, emas, atau properti. Kini muncul minat yang semakin besar terhadap alternative assets seperti jam tangan mewah, tas premium, karya seni, hingga mobil klasik," ujarnya, dikutip dari laman UMY, Senin (20/7/2026).
Fenomena tersebut juga tercermin dari perkembangan pasar global. Berbagai laporan ekonomi memproyeksikan nilai pasar preloved luxury internasional mencapai USD60,55 miliar pada 2029.
Tren itu didorong meningkatnya minat kelompok ultra-high-net-worth individuals yang memanfaatkan jam tangan mewah dan perhiasan premium sebagai aset dengan likuiditas tinggi.
Meski demikian, Susilo menekankan bahwa sebuah barang baru dapat disebut sebagai investasi apabila memiliki kemampuan menjaga atau meningkatkan nilainya dalam jangka panjang.
Ia menjelaskan, pasar collectible assets global mulai menunjukkan pemulihan.
Berdasarkan Knight Frank Wealth Report 2026, Knight Frank Luxury Investment Index (KFLII) hanya turun sekitar 0,4 persen sepanjang 2025, lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan investor semakin selektif dalam memilih aset koleksi yang memiliki prospek.
Menurutnya, nilai suatu barang dipengaruhi oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Semakin tinggi permintaan terhadap barang yang jumlahnya terbatas, semakin besar peluang kenaikan harganya.
"Faktor utama yang memengaruhi adalah kelangkaan (scarcity), reputasi merek (brand equity), keaslian serta riwayat kepemilikan (provenance), likuiditas pasar sekunder, hingga nilai sejarah dan budaya," jelasnya.
Susilo menambahkan, investor kini tidak hanya melihat popularitas merek, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kelangkaan serta nilai budaya yang dimiliki suatu produk.
Menurutnya, merek seperti Rolex, Patek Philippe, dan Hermès mampu mempertahankan nilainya karena memiliki kualitas tinggi, produksi terbatas, dan pasar sekunder yang kuat.
"Rolex, Patek Philippe, dan Hermès berhasil menciptakan economic moat melalui kualitas tinggi, produksi yang terbatas, dan pasar sekunder yang kuat," terang dia.
Ia juga menyoroti perbedaan karakter barang koleksi dengan produk teknologi seperti smartphone dan smartwatch.
Produk teknologi cenderung mengalami penurunan nilai lebih cepat karena siklus inovasi yang berlangsung singkat.
"Smartphone dan smartwatch memiliki siklus inovasi yang cepat sehingga nilainya cepat turun ketika model baru diluncurkan. Sebaliknya, jam mekanik memperoleh nilainya dari craftsmanship, sejarah merek, kualitas manufaktur, dan tingkat kelangkaannya," ujar Susilo.
Meski beberapa jam mekanik dinilai dapat berfungsi sebagai store of value, investasi pada barang koleksi tetap memiliki sejumlah risiko.
Mulai dari peredaran barang palsu, terbatasnya likuiditas pasar, biaya penyimpanan yang tinggi, perubahan tren kolektor, hingga risiko membeli saat harga sedang melonjak akibat hype pasar.
Karena itu, Susilo mengingatkan pentingnya literasi keuangan agar masyarakat, terutama generasi muda, mampu membedakan antara pembelian untuk kebutuhan, gaya hidup, atau investasi.
"Jika membeli untuk digunakan, itu merupakan kebutuhan. Jika membeli untuk menunjukkan status sosial, itu adalah gaya hidup. Namun, jika membeli berdasarkan analisis potensi kenaikan nilai dan memahami seluruh risikonya, maka itu merupakan investasi," tandasnya. (*)