Ancaman Diam-Diam Suhu Ekstrem: Produktivitas Padi dan Jagung Tertekan

Kenaikan suhu di atas normal selama pancaroba April 2026 mulai menunjukkan dampak nyata pada tanaman pangan. Meski belum selalu tercatat sebagai gagal panen, gejala penurunan kualitas dan produktivitas sudah terlihat di lapangan.

Ancaman Diam-Diam Suhu Ekstrem: Produktivitas Padi dan Jagung Tertekan
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA : 

  • Dampak suhu ekstrem sudah muncul sebagai penurunan kualitas hasil sebelum tercatat sebagai gagal panen.
  • Jagung menjadi komoditas paling rentan dengan potensi penurunan hingga 7,4 persen per kenaikan 1°C.
  • Kombinasi suhu tinggi dan kekurangan air menjadi ancaman terbesar bagi produktivitas pertanian saat ini.

RIAUCERDAS.COMFenomena suhu di atas normal pada masa pancaroba April 2026 tidak hanya menjadi isu cuaca semata, tetapi mulai memicu tanda-tanda awal penurunan kualitas hasil pertanian di berbagai wilayah.

Dampaknya bahkan disebut bisa terjadi sebelum tercatat sebagai penurunan produksi secara resmi.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, M.P., mengungkapkan bahwa kondisi panas berlebih berpotensi mengganggu produktivitas komoditas pangan utama, terutama padi dan jagung yang sedang berada pada fase pertumbuhan krusial.

“Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif. Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil,” ujar Oki dikutip dari laman UMY, Minggu (19/4/2026).

Ia menjelaskan, peningkatan suhu global meski hanya 1 derajat Celsius dapat berdampak signifikan terhadap hasil panen.

Padi berpotensi turun 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan sekadar teori, melainkan sudah relevan dengan situasi saat ini.

“Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat,” kata dia.

Sejumlah komoditas disebut paling rentan terhadap suhu ekstrem, di antaranya padi, jagung, cabai, dan tomat.

Pada padi, suhu tinggi saat fase pembungaan hingga pengisian gabah dapat menyebabkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak berkembang optimal.

Sementara pada jagung, sensitivitas tinggi terjadi saat fase tasseling, silking, hingga awal pembentukan biji.

Adapun cabai rentan pada fase awal perkembangan benih setelah anthesis yang berdampak pada penurunan fruit set dan kualitas hasil.

Tomat juga menghadapi risiko gangguan serupa akibat menurunnya viabilitas serbuk sari.

Komoditas perkebunan seperti kopi, khususnya di dataran tinggi, turut masuk dalam daftar yang perlu diwaspadai terhadap dampak suhu ekstrem.

Oki menambahkan, indikasi awal dampak suhu tinggi sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan.

Tanaman cenderung cepat layu saat siang hari, mengalami gangguan pembungaan, serta penurunan mutu hasil.

“Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah,” tutur Oki.

Kondisi ini semakin diperparah ketika suhu tinggi terjadi bersamaan dengan minimnya ketersediaan air.

Pada masa pancaroba dengan curah hujan yang cenderung menurun, tanaman menghadapi tekanan ganda yang lebih berat.

“Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat,” imbuhnya.

Sebagai upaya mengurangi risiko, petani disarankan melakukan penyesuaian waktu tanam, mengoptimalkan penggunaan air, serta memberi perhatian khusus pada fase berbunga tanaman.

Penggunaan varietas yang lebih tahan terhadap suhu tinggi juga menjadi langkah penting.

Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat dukungan melalui penyediaan informasi cuaca yang lebih operasional, akses terhadap benih tahan panas, serta peningkatan infrastruktur irigasi guna menjaga ketahanan produksi pangan. (*)