Kasus PMK Muncul Jelang Idul Adha, Pakar Ingatkan Vaksin Bukan Solusi Utama
Munculnya kasus baru Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Idul Adha mendorong percepatan vaksinasi di sejumlah daerah. Namun pakar menegaskan, vaksin PMK bersifat respons wabah dan tidak dapat disamakan dengan vaksin rutin pada penyakit hewan lainnya.
RINGKASAN BERITA:
-
Kasus PMK kembali ditemukan menjelang Idul Adha, 30 sapi terjangkit di Ngawi.
-
Vaksin PMK hanya dilakukan saat wabah dan tidak direkomendasikan di wilayah bebas kasus.
-
Biosekuriti dan imunitas ternak menjadi kunci utama pencegahan PMK.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Kewaspadaan terhadap Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali meningkat seiring ditemukannya kasus baru pada ternak sapi menjelang Idul Adha.
Kasus terbaru tercatat di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, dengan 30 ekor sapi terdeteksi terjangkit PMK pada Selasa (10/2/2026).
Menyusul temuan tersebut, vaksinasi PMK kembali digencarkan di beberapa wilayah.
Meski demikian, pakar kesehatan hewan mengingatkan bahwa vaksin PMK memiliki karakteristik khusus dan tidak bisa diterapkan sebagai program pencegahan rutin di wilayah bebas kasus.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., menjelaskan bahwa vaksin PMK hanya direkomendasikan saat terjadi wabah.
Pada kondisi normal tanpa kasus, vaksinasi justru tidak dianjurkan.
Menurutnya, vaksin PMK tidak sepenuhnya mencegah hewan dari infeksi.
Fungsi utamanya adalah menekan tingkat keparahan gejala klinis sehingga ternak yang terinfeksi tidak mengalami kondisi berat.
Ia menambahkan, hewan yang telah divaksin masih berpotensi tertular virus PMK, namun gejalanya cenderung ringan atau bahkan tidak terlihat.
Kondisi ini dapat menimbulkan risiko baru karena ternak tampak sehat, tetapi tetap berpotensi menularkan virus.
Selain vaksinasi, sumber penularan PMK juga perlu menjadi perhatian serius.
Dr. Tri menyoroti peran babi sebagai salah satu reservoir virus PMK yang kerap luput dari pengawasan di lingkungan peternakan.
Virus PMK, kata dia, dapat berkembang dengan konsentrasi tinggi di dalam tubuh babi dan dikeluarkan meskipun tanpa gejala klinis yang jelas.
Jika berada di sekitar ternak rentan seperti sapi, kondisi tersebut sangat berpotensi memicu munculnya wabah baru.
Ketika suatu wilayah telah dinyatakan bebas PMK, strategi pengendalian seharusnya berfokus pada penguatan biosekuriti, bukan vaksinasi.
Langkah ini mencakup pengelolaan kebersihan kandang, pakan, serta lingkungan sekitar peternakan.
Dr. Tri menegaskan, hingga saat ini belum tersedia obat yang mampu membunuh virus PMK.
Oleh karena itu, imunitas ternak dan manajemen kesehatan yang konsisten menjadi kunci utama dalam pencegahan penyakit tersebut.
Ia juga mengimbau para peternak untuk segera melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan gejala yang mengarah pada PMK.
Deteksi dan penanganan dini dinilai sangat penting agar penyebaran virus dapat dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lain. (*)