Musim Hujan Picu Lonjakan Penyakit Kencing Tikus, Dokter Ingatkan Gejala Kerap Terkecoh
Kasus leptospirosis atau penyakit kencing tikus menunjukkan tren peningkatan pada awal 2026 seiring masih tingginya curah hujan. Dokter mengingatkan gejala penyakit ini kerap menyerupai infeksi lain, sehingga masyarakat diminta lebih waspada terhadap paparan lingkungan berisiko.
RINGKASAN BERITA:
-
Kasus leptospirosis meningkat seiring masih berlangsungnya musim hujan.
-
Gejala penyakit kencing tikus kerap menyerupai DBD dan tifus.
-
Paparan air tergenang menjadi faktor risiko utama penularan.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Penyakit leptospirosis kembali menjadi perhatian di awal 2026. Masih berlangsungnya musim hujan dinilai meningkatkan risiko penularan penyakit zoonosis ini, yang ditularkan dari hewan ke manusia melalui lingkungan yang terkontaminasi.
Secara global, leptospirosis dilaporkan terjadi hampir di seluruh dunia, terutama di wilayah tropis dan subtropis.
Setiap tahun, lebih dari satu juta kasus tercatat dengan sekitar 60 ribu kematian.
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus di berbagai daerah sepanjang Juli hingga Agustus 2025.
Provinsi Jawa Tengah tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus tertinggi mencapai 1.014 kasus.
Disusul DI Yogyakarta sebanyak 703 kasus, Jawa Timur 487 kasus, Jawa Barat 220 kasus, Banten 149 kasus, dan DKI Jakarta 39 kasus per Juli 2025.
Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD., menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang paling sering menular ke manusia.
"Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans," tuturnya dilansir dari situs UGM pada Kamis (12/2/2026).
Bakteri tersebut tidak hanya dibawa oleh tikus, tetapi juga dapat menginfeksi berbagai mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba.
Menurut dr. Noviantoro, bakteri dapat bertahan lama di kandung kemih tikus dan dikeluarkan melalui urine, sehingga mencemari lingkungan dalam jangka waktu panjang.
Ia menambahkan, gejala leptospirosis kerap sulit dikenali karena mirip dengan penyakit infeksi lain.
Sebagian besar kasus menunjukkan gejala ringan seperti demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Namun, leptospirosis memiliki ciri khas berupa nyeri otot yang dominan pada betis, punggung, dan perut.
Pada kondisi yang lebih berat, leptospirosis dapat memicu perdarahan, gangguan fungsi hati yang ditandai dengan badan menguning, serta gagal ginjal akut yang menyebabkan penurunan produksi urine.
Kondisi ini berbahaya karena racun yang seharusnya dibuang melalui urine justru menumpuk di dalam tubuh.
Penularan bakteri terjadi melalui kulit yang terluka maupun selaput lendir seperti mata dan mulut.
Leptospira interrogans dapat bertahan lama di lingkungan lembap dan air tergenang, seperti got, kolam, sungai berarus lambat, dan genangan air lainnya.
Situasi inilah yang menjadikan musim hujan sebagai faktor risiko utama.
Karena itu, masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan air tergenang serta menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat berada di lingkungan berisiko.
Dokter juga menekankan pentingnya menyampaikan riwayat paparan lingkungan kepada tenaga medis jika mengalami gejala.
Leptospirosis kerap sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan tifus, baik secara klinis maupun pemeriksaan laboratorium.
Oleh sebab itu, pemantauan medis yang ketat menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius.
Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak panik apabila mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis.
Pemeriksaan dini dan kepatuhan terhadap anjuran medis dinilai sangat menentukan keberhasilan penanganan penyakit ini. (*)