Interactive Flat Panel Ubah Cara Belajar Siswa di SLB Banda Aceh

Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di SLB YPCC Banda Aceh menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi siswa berkebutuhan khusus. Teknologi ini membantu guru menyesuaikan metode pembelajaran sesuai karakter belajar setiap anak, mulai dari tunanetra hingga siswa autisme.

Interactive Flat Panel Ubah Cara Belajar Siswa di SLB Banda Aceh
Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di SLB YPCC Banda Aceh menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi siswa berkebutuhan khusus. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Interactive Flat Panel membuat pembelajaran siswa berkebutuhan khusus di SLB YPCC Banda Aceh lebih interaktif dan sesuai karakter belajar masing-masing.
  • Guru menyebut teknologi ini membantu siswa tunanetra dan autisme lebih fokus, percaya diri, serta mudah memahami materi.
  • Kemendikdasmen memprioritaskan digitalisasi sekolah pada 2026 untuk daerah terdampak bencana, wilayah 3T, dan sekolah dengan kerusakan berat.

RIAUCERDAS.COM, BANDA ACEH - Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di SLB YPCC Banda Aceh membawa perubahan dalam proses pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus.

Perangkat digital tersebut membantu guru menyajikan materi yang lebih interaktif dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar setiap murid, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup.

Bagi siswa dengan hambatan penglihatan, IFP memberikan kemudahan dalam mengakses materi melalui audio, video, serta tampilan yang dapat diperbesar untuk siswa low vision.

Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan semangat belajar sekaligus rasa ingin tahu peserta didik.

Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPCC Banda Aceh, Novi Widiastuti, mengatakan penggunaan IFP memberikan perubahan yang signifikan dalam kegiatan belajar mengajar.

"Interactive Flat Panel sangat membantu pembelajaran, terutama bagi murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual," ujar Novi.

Anak-anak, katanya, menjadi lebih semangat, antusias, dan rasa ingin tahunya meningkat.

"Karena pembelajaran tidak hanya disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui media yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penglihatan masing-masing," tuturnya.

Ia menjelaskan, sebelum menggunakan IFP proses pembelajaran lebih banyak mengandalkan buku Braille, speaker, dan laptop.

Kini, guru memiliki lebih banyak pilihan media yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

"Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille.

Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi," tambahnya.

Hal serupa dirasakan Guru Kelas IIIQ, Anggawinata.

Menurutnya, perpaduan gambar, video, suara, dan animasi membuat siswa, khususnya anak autisme, lebih mudah memahami materi dibandingkan metode pembelajaran konvensional.

"Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar. Perkembangannya luar biasa," ujar Anggawinata.

Ia menambahkan, fleksibilitas IFP memungkinkan guru menyesuaikan materi sesuai karakter belajar setiap anak.

"Ada yang lebih mudah memahami gambar, ada yang lebih paham lewat video atau audio. Semuanya bisa disesuaikan sehingga belajar tidak lagi monoton. Anak-anak juga lebih aktif karena dapat langsung berinteraksi melalui layar sentuh," tambahnya.

Meski memberikan banyak manfaat, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan pengawasan guru, terutama saat digunakan oleh siswa autisme.

"Guru harus selalu mendampingi ketika anak menggunakan IFP. Saat anak sedang tantrum, ada risiko mereka merusak layar tanpa disadari. Karena itu pengawasan yang intens dan kesiapsiagaan guru menjadi bagian penting agar pembelajaran tetap aman dan efektif,” ujarnya.

Novi dan Anggawinata berharap jumlah Interactive Flat Panel dapat ditambah di setiap ruang kelas agar semakin banyak siswa berkebutuhan khusus memperoleh pengalaman belajar yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pada 2025 sebanyak 271 sekolah di Kota Banda Aceh telah menerima bantuan IFP.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyampaikan apresiasi kepada sekolah yang telah menerima bantuan digitalisasi pendidikan tersebut.

Selanjutnya, tutur Mu'ti, prioritas Kemendikdasmen pada 2026 adalah digitalisasi untuk sekolah yang berdampak bencana terutama di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Prioritas kedua adalah sekolah-sekolah yang di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) dan prioritas sekolah yang rusak berat.

"Kami tentu berusaha semaksimal mungkin agar program prioritas bapak presiden ini dapat berjalan dengan sebaik-baiknya,” pungkas Abdul Mu'ti. (*)