Hasil TKA Belum Pulih, Mendikdasmen Prioritaskan Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar

Kemendikdasmen menegaskan penguatan literasi dan numerasi sebagai prioritas nasional setelah capaian kemampuan dasar siswa dinilai belum menunjukkan pemulihan signifikan.

Hasil TKA Belum Pulih, Mendikdasmen Prioritaskan Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyampaikan sambutan saat hadir kegiatan Pencanangan Kolaborasi multipihak penguatan literasi dan numerasi, Kamis (9/4/2026) di Jakarta. (Sumber: Kemendikdamen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Hasil TKA 2026 menunjukkan kemampuan dasar siswa belum pulih signifikan
  • Pemerintah fokus perkuat literasi dan numerasi sejak kelas awal SD
  • Tiga strategi utama: peningkatan kompetensi, kebiasaan membaca, dan budaya literasi.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Hasil evaluasi terbaru yang menunjukkan kemampuan dasar siswa belum pulih menjadi alasan utama pemerintah memprioritaskan penguatan literasi dan numerasi dalam sistem pendidikan nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa capaian kemampuan membaca dan berhitung siswa Indonesia masih stagnan berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 maupun asesmen internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA).

“Kita belum sepenuhnya pulih dari persoalan mendasar terkait rendahnya kemampuan literasi dan numerasi. Ini menjadi perhatian utama,” tegasnya dalam kegiatan pencanangan kolaborasi multipihak penguatan literasi dan numerasi di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Menurut Abdul Mu'ti, tantangan seperti learning loss dan learning poverty tidak boleh dilihat sebagai hambatan, melainkan momentum untuk mempercepat transformasi pendidikan.

“Berbagai tantangan bukanlah akhir, tetapi justru menjadi pemicu untuk bekerja lebih baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penguatan literasi dan numerasi merupakan bagian dari amanat konstitusi sekaligus mendukung visi pembangunan sumber daya manusia unggul yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Fokus utama program ini diarahkan pada jenjang pendidikan dasar, khususnya kelas awal sekolah dasar sebagai fondasi pembelajaran.

Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dinilai menjadi kunci dalam penguasaan ilmu pengetahuan di tahap berikutnya.

Dalam implementasinya, pemerintah akan mengedepankan tiga pendekatan utama.

Pertama, peningkatan kompetensi melalui pembelajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa. 

Kedua, pembiasaan membaca melalui penyediaan bahan bacaan yang menarik dan relevan.

Ketiga, pembentukan budaya membaca sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami dan mengolah informasi. Numerasi juga bukan sekadar angka, tetapi kemampuan berpikir logis dan sistematis,” jelasnya.

Selain itu, Mendikdasmen juga menyoroti pentingnya metode pembelajaran yang tepat di lapangan, mengingat masih adanya praktik yang belum optimal dalam mengembangkan kemampuan dasar siswa secara menyeluruh.

Melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, dan mitra pembangunan, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara nyata.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia dan mendukung target Indonesia Emas 2045 melalui pendidikan yang lebih inklusif dan berorientasi pada kompetensi.

Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menekankan bahwa literasi dan numerasi tidak hanya sekadar keterampilan akademik, tetapi juga menentukan kemampuan berpikir kritis siswa.

“Bagi Tanoto Foundation, literasi dan numerasi bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi fondasi yang menentukan apakah seorang anak dapat terus belajar, berpikir kritis, dan berkembang di masa depan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis data dan praktik pembelajaran efektif akan menjadi kunci dalam memastikan intervensi tepat sasaran.

Country Representative UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, turut menegaskan pentingnya kolaborasi untuk menjamin hak anak memperoleh pendidikan berkualitas.

“Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Upaya kolektif bersama yang kita lakukan hari ini merupakan investasi penting agar anak-anak dapat mencapai masa depannya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi global, di mana sebagian besar anak masih menghadapi krisis pembelajaran, termasuk kesulitan memahami teks sederhana di usia dini.

Sementara itu, Senior Program Officer for Global Education Gates Foundation India, Satish Menon, menyebut kolaborasi ini akan menjangkau setidaknya 45.000 siswa melalui pendekatan terukur dan berbasis praktik terbaik global.

“Inisiatif ini menunjukkan bahwa kemitraan yang kuat dapat mendorong perubahan nyata. Dengan kepemimpinan pemerintah, dukungan mitra, dan pemanfaatan data yang efektif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan dampak pendidikan yang berkelanjutan dan bermakna bagi masa depan anak-anak,” ujarnya.

Dalam implementasinya, terdapat tiga fokus utama yang dikembangkan, yakni penguatan kemampuan berpikir dasar melalui pemahaman teks dan logika, peningkatan kebiasaan membaca melalui akses bahan bacaan, serta penguatan budaya numerasi berbasis pemahaman, bukan hafalan.

Melalui sinergi antara pemerintah dan mitra pembangunan, program ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas pendidikan nasional sekaligus mendukung terwujudnya generasi unggul menuju visi Indonesia Emas 2045. (*)