Dari Rumus ke Visual: Papan Digital Ubah Cara Siswa Memahami Sains
Pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah mulai mengubah pola belajar sains dari hafalan rumus menjadi pemahaman proses. Melalui simulasi visual, konsep abstrak seperti teori kinetik gas kini lebih mudah dipahami siswa. Program ini merupakan bagian dari Digitalisasi Pembelajaran Kemendikdasmen untuk meningkatkan mutu dan pemerataan pendidikan.
RINGKASAN BERITA:
- Papan Interaktif Digital membantu siswa memahami konsep sains abstrak lewat simulasi visual.
- Seluruh sekolah di Sumatra Selatan dilaporkan sudah menerima bantuan PID.
- Digitalisasi Pembelajaran menyasar lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, INDRALAYA - Pembelajaran sains di sekolah yang selama ini identik dengan hafalan rumus mulai bergeser.
Melalui pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID), siswa kini diajak memahami proses ilmiah secara visual dan konkret, bukan sekadar mengingat teori di atas kertas.
Transformasi metode belajar ini merupakan bagian dari program Digitalisasi Pembelajaran yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mendorong pembelajaran bermakna berbasis deep learning.
Kepala SMAN 1 Indralaya, Pudyo Laksono, menuturkan bahwa keberadaan PID membantu guru menjelaskan materi yang sebelumnya sulit divisualisasikan. Salah satunya saat membahas teori kinetik gas dan hukum Boyle.
Menurut Pudyo, melalui papan interaktif digital, siswa dapat menyaksikan langsung simulasi pergerakan partikel, perubahan volume, hingga munculnya tekanan di dalam sistem.
Proses yang sebelumnya hanya dibayangkan kini dapat diamati secara nyata, sehingga pemahaman konsep menjadi lebih utuh.
Ia menambahkan, visualisasi tersebut membuat siswa lebih aktif berdiskusi dan lebih cepat menangkap hubungan antara tekanan, volume, dan suhu.
Pemanfaatan PID juga diterapkan secara kolaboratif di tingkat sekolah. Di SMAN 1 Indralaya, tim penjaminan mutu mengembangkan proyek percontohan sekaligus melakukan pengimbasan kepada guru-guru lain, termasuk penyusunan prosedur operasional agar perangkat dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan.
Hal senada disampaikan Kepala SMPN 1 Lubuk Liat, Marion.
Ia menilai PID memberikan variasi baru dalam pembelajaran yang sejalan dengan perkembangan teknologi.
Menurutnya, siswa tidak mengalami kesulitan beradaptasi karena sistem berbasis Android sudah akrab dalam keseharian mereka.
Sementara itu, Kepala SDN 6 Pemulutan Barat, Desi Huswinda, melihat PID sebagai sarana penting untuk menciptakan suasana kelas yang lebih hidup.
Ia menilai kehadiran papan interaktif digital membuka peluang yang lebih setara bagi siswa di wilayah pedesaan untuk menikmati pembelajaran berbasis teknologi.
Hingga kini, seluruh sekolah di Provinsi Sumatra Selatan dilaporkan telah menerima bantuan PID.
Pemanfaatannya diarahkan tidak hanya sebagai alat presentasi, tetapi sebagai medium interaktif yang mendorong daya pikir kritis dan pemahaman konseptual siswa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa Digitalisasi Pembelajaran bukan sekadar distribusi perangkat, melainkan strategi pemerataan layanan pendidikan, termasuk ke wilayah dengan tantangan geografis.
Ia menyebut, program ini telah menjangkau lebih dari 288.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pemerintah, lanjutnya, tidak hanya menyalurkan PID, tetapi juga membantu penyediaan listrik dan konektivitas internet, termasuk melalui dukungan jaringan satelit di daerah terpencil.
Melalui program ini, Kemendikdasmen berharap pembelajaran di kelas semakin relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus membekali siswa dengan pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan bermakna. (*)