Fenomena Fake Rich Middle Class, Pakar: Gaya Hidup Mapan Tapi Keuangan Rapuh
Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, menjelaskan fenomena fake rich middle class yang menggambarkan kelompok masyarakat dengan gaya hidup konsumtif namun memiliki fondasi keuangan yang rapuh. Fenomena ini dipengaruhi faktor ekonomi, tekanan sosial, serta rendahnya literasi keuangan.
RINGKASAN BERITA:
-
Fenomena fake rich middle class menggambarkan gaya hidup mapan tetapi kondisi finansial rapuh.
-
Faktor pemicu antara lain lifestyle inflation, kemudahan kredit konsumsi, serta tekanan sosial dan media sosial.
-
Pakar IPB menekankan pentingnya literasi keuangan, tabungan, dan investasi untuk memperkuat kelas menengah.
RIAUCERDAS.COM - Istilah fake rich middle class atau kelas menengah kaya semu belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Fenomena ini menggambarkan kelompok masyarakat yang tampak mapan dari gaya hidupnya, tetapi sebenarnya memiliki kondisi keuangan yang tidak stabil.
Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, mengatakan fenomena tersebut berkaitan dengan perkembangan kelas menengah di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurutnya, dalam dua dekade terakhir pertumbuhan ekonomi telah mendorong munculnya kelompok kelas menengah yang semakin besar.
“Bank Dunia mendefinisikan kelas menengah sebagai kelompok dengan daya beli yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus mengakses konsumsi nonesensial seperti rekreasi, pendidikan, dan teknologi. Namun di balik peningkatan daya beli tersebut, muncul fenomena yang disebut fake rich middle class,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan istilah tersebut merujuk pada kelompok masyarakat yang secara kasat mata terlihat memiliki gaya hidup mapan, seperti menggunakan gawai terbaru, sering berlibur, atau rutin mengunjungi kafe dan pusat perbelanjaan.
Namun di balik itu, kondisi finansial mereka sebenarnya cukup rentan karena minim tabungan, investasi, maupun perlindungan keuangan.
Dr Tanti menyebut fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan psikologis.
Salah satu faktor utama adalah pola pertumbuhan ekonomi yang lebih mendorong konsumsi dibandingkan pembentukan aset.
“Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan. Di sisi lain, akses terhadap kredit konsumsi seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay-later semakin mudah,” jelasnya.
Selain faktor ekonomi, tekanan sosial juga menjadi pemicu. Dalam masyarakat perkotaan yang kompetitif, konsumsi sering kali dijadikan simbol status sosial.
Hal ini sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh ekonom Thorstein Veblen, yaitu ketika konsumsi tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga sebagai cara menunjukkan status sosial, kekayaan, atau prestise.
Di era digital, media sosial turut memperkuat tekanan tersebut.
Berbagai konten mengenai gaya hidup mewah seperti liburan, restoran mahal, hingga barang bermerek sering dijadikan tolok ukur kesuksesan.
Menurut Dr Tanti, kondisi tersebut memunculkan fenomena demonstration effect, yaitu kecenderungan seseorang meniru gaya hidup kelompok lain yang dianggap lebih sukses atau memiliki status sosial lebih tinggi.
“Keinginan untuk terlihat sukses sering membuat seseorang menampilkan kemakmuran, meskipun kondisi finansial sebenarnya belum stabil,” tambahnya.
Ia juga menyoroti rendahnya literasi keuangan sebagai faktor yang memperparah fenomena tersebut.
Banyak masyarakat belum memahami pentingnya dana darurat, pengelolaan utang, serta investasi jangka menengah dan panjang.
Menurutnya, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan jika tidak disertai pengelolaan keuangan yang baik.
“Penguatan kelas menengah memerlukan fondasi yang lebih kokoh. Kelas menengah yang kuat bukan hanya ditandai oleh kemampuan konsumsi, tetapi juga kemampuan membangun aset, mengelola risiko, dan menjaga stabilitas finansial dalam jangka panjang,” tuturnya. (*)