Pemerintah Targetkan 71.000 Sekolah Direvitalisasi pada 2026
Pemerintah mempercepat program revitalisasi sekolah dengan target menjangkau sedikitnya 71.000 satuan pendidikan pada 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghapus sekolah rusak berat di Indonesia sebelum 2028, sekaligus didukung transformasi digital pembelajaran dan penguatan kompetensi guru.
RINGKASAN BERITA:
- Pemerintah menargetkan 71.000 satuan pendidikan menerima program revitalisasi pada 2026.
- Target nasional: tidak ada lagi sekolah dengan kerusakan berat di Indonesia pada 2028.
- SD Negeri 3 Sembung Gede yang bangunannya ambruk langsung masuk daftar prioritas revitalisasi setelah ditinjau Wamendikdasmen.
RIAUCERDAS.COM, TABANAN - Pemerintah menargetkan sedikitnya 71.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia menerima program revitalisasi pada 2026 sebagai bagian dari upaya menuntaskan persoalan sekolah rusak berat sebelum 2028.
Target tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq saat meresmikan revitalisasi satuan pendidikan di Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (4/6/2026).
Program tersebut menjadi salah satu agenda besar pemerintah dalam pemerataan kualitas sarana pendidikan di berbagai daerah.
Menurut Fajar, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk melanjutkan revitalisasi terhadap sekitar 11.744 satuan pendidikan pada tahun ini.
Selain itu, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, jumlah penerima program akan ditambah sedikitnya 60.000 satuan pendidikan sehingga totalnya mencapai sekitar 71.000 sekolah dan lembaga pendidikan.
“Sejak era Orde Baru membangun SD Inpres, belum pernah ada lagi pembangunan atau perbaikan sekolah secara masif kecuali di era Bapak Prabowo ini,” ujar Fajar.
Ia menegaskan pemerintah menargetkan tidak ada lagi sekolah dengan kategori rusak berat pada 2028.
Sasaran tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Selain memperbaiki infrastruktur pendidikan, pemerintah juga mempercepat digitalisasi pembelajaran.
Pada 2025, sebanyak 288.000 unit Interactive Flat Panel (IFP) telah didistribusikan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 800.000 unit pada 2026.
Dalam kunjungannya ke Tabanan, Fajar lebih dahulu meninjau kondisi SD Negeri 3 Sembung Gede yang bangunannya ambruk dan telah dibongkar karena dinilai membahayakan keselamatan warga sekolah.
Akibat kerusakan tersebut, kegiatan belajar mengajar sementara dipindahkan ke ruang darurat, termasuk perpustakaan sekolah.
Menanggapi kondisi itu, Fajar langsung meminta jajarannya memasukkan sekolah tersebut ke dalam daftar prioritas penerima program revitalisasi tahun 2026.
“Tadi sebelum naik panggung, saya sampaikan kepada Bapak Wakil Bupati, sekolah tersebut langsung masuk daftar prioritas,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Fajar melakukan penandatanganan simbolis revitalisasi yang mewakili 22 penerima bantuan dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP hingga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
Pemerintah Kabupaten Tabanan juga mengungkapkan bahwa sebanyak 62 sekolah di wilayahnya menerima bantuan perbaikan pada tahun ini.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, menilai program revitalisasi sekolah memiliki dampak strategis bagi masa depan pendidikan.
“Revitalisasi sekolah bukan semata-mata pembangunan atau perbaikan gedung, melainkan investasi jangka panjang dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan inspiratif bagi peserta didik,” ujarnya.
Menurut Dirga, peningkatan kualitas pendidikan terus menjadi prioritas pembangunan daerah melalui pembenahan sarana pendidikan, peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan, penguatan literasi dan numerasi, pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan pendidikan berbasis budaya lokal.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan langsung oleh satuan pendidikan penerima bantuan.
Kepala SMP Negeri 2 Kediri, Ni Luh Putu Septawati, mengaku dua ruang kelas di sekolahnya mengalami kerusakan berat selama tiga tahun sebelum akhirnya mendapat bantuan perbaikan.
“Setelah tiga tahun menunggu dengan kerusakan yang terus memburuk, akhirnya sekolah kami menerima program revitalisasi," ungkap Septawati.
Kini ruang kelas tersebut telah kembali digunakan dalam kondisi yang lebih layak, sehingga meningkatkan semangat belajar siswa dan motivasi guru.
Hal serupa disampaikan Kepala SD Negeri 3 Marga, I Nyoman Adi Saputra.
Ia menyebut revitalisasi sekolah membawa dampak yang lebih luas dibanding sekadar perbaikan bangunan fisik.
“Revitalisasi bukan sekadar perbaikan bangunan, tetapi menghadirkan kembali harapan anak-anak murid dan guru. Ruang kelas yang lebih layak menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman, sementara lingkungan sekolah yang baik akan menumbuhkan semangat belajar dan semangat mengajar,” katanya.
Menutup kegiatan, Fajar menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga peningkatan kualitas guru dan transformasi pembelajaran.
Pemerintah, kata dia, terus memperkuat kompetensi tenaga pendidik agar mampu memanfaatkan teknologi dan menghadirkan proses belajar yang lebih berkualitas.
Ia juga mengajak pemerintah daerah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam menyukseskan berbagai program prioritas pendidikan demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi seluruh anak Indonesia. (*)