Milad ke-18, Umri Pasang Target Jadi Universitas Muhammadiyah Terbaik

Memasuki usia ke-18 tahun, Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menegaskan ambisinya menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah terbaik di Indonesia dan memiliki daya saing di tingkat Asia Tenggara. Komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian Tasyakuran Milad Ke-18 Umri yang diikuti ratusan civitas akademika.

Milad ke-18, Umri Pasang Target Jadi Universitas Muhammadiyah Terbaik
Suasana Tasyakuran Milad Ke-18 Universitas Muhammadiyah Riau, Jumat (5/6/2026).

RINGKASAN BERITA: 

  • Umri menargetkan menjadi universitas Muhammadiyah terbaik di Indonesia dan diperhitungkan di tingkat Asia Tenggara.
  • Kampus memiliki 14.498 mahasiswa, 33 program studi, serta terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
  • Umri menyiapkan pembangunan auditorium berkapasitas 3.000 orang dan Rumah Sakit Muhammadiyah sebagai bagian dari pengembangan jangka panjang.

RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menjadikan momentum Milad ke-18 sebagai titik awal memperkuat langkah menuju perguruan tinggi berdaya saing nasional dan internasional.

Di usia yang dinilai sebagai fase kedewasaan institusi, Umri menargetkan diri menjadi universitas Muhammadiyah terbaik di Indonesia sekaligus mampu bersaing di kawasan Asia Tenggara.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Tasyakuran Milad Ke-18 Umri yang digelar Jumat (5/6/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Umri Tumbuh dan Berdampak untuk Semesta” itu diikuti ratusan civitas akademika dan dirangkaikan dengan Baitul Arqom bagi dosen serta tenaga kependidikan.

Rektor Umri, Dr. H. Saidul Amin, M.A., mengatakan usia 18 tahun menjadi momentum penting untuk mengevaluasi perjalanan institusi sekaligus menentukan arah pengembangan di masa depan.

“Sehingga kita harapkan 18 tahun adalah titik untuk bisa menjadikan Umri lebih baik di masa mendatang,” ujarnya.

Menurut Saidul, dalam jangka pendek Umri menargetkan menjadi perguruan tinggi Muhammadiyah terbaik di Indonesia.

Sementara dalam jangka panjang, kampus tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu universitas yang diperhitungkan di tingkat Asia Tenggara.

“Kita ingin Umri bukan hanya terbaik di PTMA tapi juga diperhitungkan dari 4.300 perguruan tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, visi tersebut menjadi alasan dirinya kerap menyebut Umri sebagai Universitas Muhammadiyah Republik Indonesia.

Sebab, pengembangan kampus tidak lagi diarahkan hanya pada skala regional, tetapi menuju level nasional hingga internasional.

Saat ini, Umri tercatat memiliki sekitar 14.498 mahasiswa, didukung 286 dosen dan 135 tenaga kependidikan. Selain itu, jumlah program studi telah berkembang menjadi 33 program studi.

Untuk menghadapi perubahan zaman, Saidul meminta setiap fakultas terus mengembangkan program studi yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Menurutnya, perguruan tinggi harus mampu beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan tuntutan dunia kerja yang terus berubah.

“Jadi kalau kita tidak mempersiapkan diri, maka tidak mustahil prodi sekarang menjadi prodi yang tidak punya tempat di masa depan,” ujarnya.

Selain penguatan akademik, Umri juga terus memperluas infrastruktur kampus. Luas aset tanah yang sebelumnya sekitar tiga hektare kini telah berkembang menjadi lebih dari enam hektare.

Jika rencana pembangunan rumah sakit terealisasi, luas lahan kampus diproyeksikan mencapai sekitar 11 hektare.

Saidul juga mengungkapkan rencana pembangunan auditorium berkapasitas besar sebagai upaya mendukung berbagai kegiatan berskala nasional.

Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut penting agar Riau memiliki peluang menjadi tuan rumah agenda besar Muhammadiyah.

“Selama tidak punya auditorium yang setidaknya bisa menampung 3.000 orang, jangan bermimpi kita akan jadi tuan rumah tanwir atau muktamar,” katanya.

Selain auditorium, pembangunan Rumah Sakit Muhammadiyah juga menjadi salah satu prioritas pengembangan kampus.

Kehadiran rumah sakit tersebut diharapkan dapat memperluas kontribusi Umri kepada masyarakat sekaligus mendukung pengembangan pendidikan di bidang kesehatan.

Di sektor ekonomi kampus, Umri terus mengembangkan sumber pendapatan nonakademik melalui Badan Usaha Milik Kampus (BUMK).

Saat ini, BUMK Umri telah memiliki 12 unit usaha yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari layanan pendidikan anak, klinik kesehatan, pusat perbelanjaan, kafe, apotek, lembaga riset hingga perkebunan kelapa sawit.

Menurut Saidul, penguatan unit usaha tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan kampus terhadap pendapatan dari uang kuliah mahasiswa sehingga biaya pendidikan dapat lebih terjangkau di masa mendatang.

“Orang bisa mendapat pendidikan layak tapi dengan SPP murah,” ujarnya.

Melalui berbagai pengembangan tersebut, Umri berharap dapat memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi yang unggul, mandiri, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat, sejalan dengan cita-cita menjadi universitas yang tumbuh dan berdampak untuk semesta. (*)