Kemendikdasmen Buka Seleksi Sekolah Nasional Terintegrasi 21 Juli 2026
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mulai menjalankan Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai bagian dari percepatan peningkatan mutu pendidikan. Sebanyak 17 SNT akan mulai menerima murid pada tahun ajaran 2026/2027, dengan proses seleksi berlangsung pada 21–24 Juli 2026.
RINGKASAN BERITA:
- Seleksi murid baru Sekolah Nasional Terintegrasi berlangsung pada 21–24 Juli 2026, dengan pengumuman hasil pada 3 Agustus.
- Pemerintah menargetkan membangun 500 Sekolah Nasional Terintegrasi hingga 2029, dengan 17 sekolah mulai beroperasi tahun ajaran 2026/2027.
- SNT menggabungkan jenjang SMP dan SMA serta dilengkapi fasilitas modern dan kurikulum yang disesuaikan dengan potensi daerah.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadwalkan pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Program Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) pada 21–24 Juli 2026.
Sebanyak 17 sekolah yang mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027 akan menerima murid baru melalui proses seleksi yang diklaim objektif, transparan, inklusif, berkeadilan, dan akuntabel.
Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 3 Agustus 2026, sedangkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan dimulai pada 10 Agustus 2026.
Program SNT merupakan implementasi Instruksi Presiden Nomor 20 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan.
Pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan SNT secara bertahap hingga 2029.
Pada 2026, pembangunan dilakukan di 37 lokasi. Sebanyak 17 lokasi ditargetkan mulai memberikan layanan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027, sementara 20 lokasi lainnya memasuki tahap pembangunan tahun ini dan direncanakan menerima murid baru pada 2027.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengatakan Program SNT tidak hanya berfokus pada pembangunan gedung sekolah, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan berkualitas sekaligus menjadi pusat peningkatan mutu pendidikan di daerah.
“SNT merupakan ikhtiar negara untuk mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta murid secara optimal, serta menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya,” terang Abdul Mu'ti di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, SNT mengintegrasikan layanan jenjang SMP dan SMA dalam satu ekosistem pendidikan berkelanjutan.
Integrasi tersebut mencakup proses pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, hingga sistem penjaminan mutu.
Abdul Mu'ti menjelaskan penyelenggaraan SNT dibangun melalui tiga transformasi utama, yakni transformasi infrastruktur, transformasi sumber daya manusia, serta transformasi pembelajaran dan karakter.
“Keberhasilan SNT tidak hanya diukur dari capaian murid yang belajar di dalamnya, melainkan dari semakin berkembangnya guru, meningkatnya kolaborasi antarsekolah, dan bertumbuhnya mutu pendidikan di wilayah tersebut,” kata dia.
Untuk mendukung operasional 17 SNT yang mulai berjalan tahun ajaran ini, pemerintah telah menyiapkan kelas transisi di bangunan baru, termasuk di Ibu Kota Nusantara (IKN), Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kemendikdasmen, maupun fasilitas belajar yang disediakan pemerintah daerah.
Calon murid yang diterima berasal dari daerah tempat SNT berada sebagai upaya memperluas akses pendidikan bermutu bagi masyarakat setempat.
Mendikdasmen juga mengimbau masyarakat agar memperoleh informasi terkait SNT melalui kanal resmi Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dinas pendidikan, maupun portal resmi SNT.
Ia menegaskan tidak ada pihak yang dapat menjanjikan kelulusan ataupun mengambil keuntungan dari proses penerimaan murid.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Gogot Suharwoto, mengatakan SNT dirancang dengan berbagai fasilitas modern, seperti smart classroom, green school, laboratorium berstandar internasional, future library and learning commons, studio seni kreatif, pusat pengembangan guru, pusat olahraga, hingga layanan transportasi antarputar dalam wilayah kabupaten.
Selain itu, SNT akan menerapkan tiga lapis kurikulum, yaitu kurikulum nasional, kurikulum kekhasan sekolah, dan kurikulum berbasis konteks lokal yang disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah.
“Nantinya setiap SNT memiliki kekhasan sesuai potensi daerah masing-masing. Pendekatan pembelajaran berbasis STEAMS dipadukan dengan pembelajaran mendalam yang didukung oleh digitalisasi pembelajaran dan pengayaan tingkat global,” ujar Gogot.
Sementara itu, Deputi III Kantor Staf Presiden, Yan Hiksas, menyatakan Program SNT menjadi bagian dari upaya negara menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global.
“Kita yakin bahwa Indonesia ke depan tidak hanya mengandalkan sumber daya alam yang hebat, tapi juga adalah manusia-manusia yang kreatif, inovatif, yang tentu saja saya yakin akan dipersiapkan dalam sekolah nasional terintegrasi,” tandasnya. (*)