Banjir Aceh Tak Hentikan PAUD Permata Pidie Jaya, Anak-anak Kembali Belajar Berkat Bantuan Kemendikdasmen

Pemulihan pendidikan pascabanjir di Aceh terus dikebut. Di tengah keterbatasan fasilitas, PAUD Permata Pidie Jaya kembali melaksanakan pembelajaran dengan dukungan alat permainan edukatif dari Kemendikdasmen. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah menjaga hak belajar anak usia dini sekaligus mempercepat rehabilitasi satuan pendidikan terdampak.

Banjir Aceh Tak Hentikan PAUD Permata Pidie Jaya, Anak-anak Kembali Belajar Berkat Bantuan Kemendikdasmen
Alat Permainan Edukatif (APE) bantuan Kemendikdasmen pada PAUD Permata Pidie Jaya yang ditujukan mendukung kegiatan belajar pasca banjir yang melanda sejumlah kawasan di Aceh. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • PAUD Permata Pidie Jaya kembali membuka pembelajaran sejak 5 Januari 2026 meski dua ruang kelas masih dipakai pengungsi.
  • Kemendikdasmen menyalurkan APE untuk menjaga aktivitas belajar anak tetap aktif dan menyenangkan.
  • Pemerintah telah menggelontorkan bantuan besar-besaran pendidikan darurat dan menyiapkan rehabilitasi hingga 2027.

RIAUCERDAS.COM, ACEH - Aktivitas belajar anak usia dini di Kabupaten Pidie Jaya perlahan kembali bergerak.

Meski masih dalam kondisi pascabencana banjir, PAUD Permata Pidie Jaya telah membuka kembali kegiatan pembelajaran sejak 5 Januari 2026 dengan dukungan bantuan pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa keberlanjutan layanan pendidikan menjadi prioritas utama pemerintah di wilayah terdampak bencana.

Menurutnya, pembelajaran darurat dan percepatan rehabilitasi terus dilakukan agar anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya.

Dalam mendukung proses tersebut, PAUD Permata Pidie Jaya menerima bantuan Alat Permainan Edukatif (APE) yang dimanfaatkan sebagai sarana belajar.

Bantuan ini membantu guru menjaga kegiatan belajar tetap aktif dan menyenangkan, meskipun fasilitas sekolah belum sepenuhnya pulih.

Kepala PAUD Permata Pidie Jaya, Fitriani, mengatakan APE yang diterima langsung digunakan dalam aktivitas pembelajaran.

Ia menjelaskan, secara umum bangunan sekolah masih aman, namun banjir menyebabkan kerusakan ringan pada beberapa bagian, terutama pintu bawah yang sempat terendam lumpur.

Saat ini, sekolah hanya dapat memanfaatkan satu dari tiga ruang belajar yang dimiliki.

Dua ruang lainnya masih digunakan sebagai tempat pengungsian warga terdampak banjir. 

Meski demikian, pihak sekolah tetap berupaya agar proses belajar mengajar dapat terus berjalan.

PAUD Permata Pidie Jaya melayani 20 peserta didik dengan dukungan tiga guru dan satu tenaga kependidikan.

Pihak sekolah mengaku masih membutuhkan bantuan lanjutan, khususnya buku paket dan perlengkapan pembelajaran, mengingat sebagian siswa masih berada di pengungsian dan aktivitas sekolah belum sepenuhnya normal.

Di tingkat nasional, Kemendikdasmen terus menggulirkan program pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh.

Hingga kini, pemerintah telah menyalurkan puluhan ribu paket school kit, ratusan tenda belajar, ratusan ruang kelas darurat, bantuan operasional pendidikan darurat, tunjangan guru bencana, dukungan psikososial, serta ratusan ribu buku.

Pemerintah juga telah menerbitkan surat edaran dan petunjuk teknis pembelajaran di satuan pendidikan terdampak bencana yang mulai diterapkan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026.

Selain itu, percepatan rehabilitasi dilakukan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) di Aceh pada 15 Januari 2026.

Program rehabilitasi diprioritaskan untuk sekolah rusak sedang, pengadaan mebel, serta pembangunan area bermain dan APE luar untuk PAUD.

Total nilai bantuan PKS mencapai Rp54 miliar, dengan alokasi khusus untuk PAUD sebesar Rp3,2 miliar.

Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah memastikan pemulihan pendidikan berjalan beriringan dengan rehabilitasi infrastruktur, agar anak-anak Aceh dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman, layak, dan mendukung tumbuh kembang mereka. (*)