Pakar Ungkap 80 Persen Penderita Autoimun adalah Perempuan, Stres Jadi Pemicu Dominan

Pakar Reumatologi FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, mengungkap sekitar 80 persen penderita autoimun merupakan perempuan. Selain faktor hormonal, stres disebut menjadi pemicu dominan munculnya penyakit autoimun yang dapat menyerang berbagai organ tubuh dan berpotensi mengancam nyawa.

Pakar Ungkap 80 Persen Penderita Autoimun adalah Perempuan, Stres Jadi Pemicu Dominan
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Pakar UGM menyebut sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, terutama pada usia reproduksi.
  • Stres dinilai menjadi pemicu dominan muncul maupun kambuhnya penyakit autoimun, termasuk pada kalangan mahasiswa.
  • Peneliti UGM mengembangkan obat herbal dengan harapan dapat memulihkan fungsi sistem imun, bukan sekadar menekannya.

RIAUCERDAS.COMSebagian besar penderita penyakit autoimun merupakan perempuan.

Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, menyebut sekitar 80 persen kasus autoimun terjadi pada perempuan, terutama usia reproduksi, dengan stres menjadi salah satu pemicu dominan munculnya penyakit tersebut.

Menurut Nyoman, perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap autoimun karena dipengaruhi faktor hormonal.

Hormon estrogen berperan terhadap sistem kekebalan tubuh sehingga perubahan atau ketidakseimbangan hormon dapat memicu munculnya penyakit autoimun.

Kondisi ini juga perlu menjadi perhatian bagi perempuan yang merencanakan kehamilan karena dapat membahayakan ibu hamil.

Ia menjelaskan, autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel tubuh sendiri sebagai musuh.

Akibatnya, sel-sel imun justru menyerang organ tubuh, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati hingga organ lainnya.

"Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia," terang Nyoman dilansir dari laman UGM, Selasa (21/7/2026).

Nyoman mengatakan, tidak semua penderita autoimun langsung mengalami gejala.

Namun, pada kondisi berat, penyakit tersebut dapat berakibat fatal hingga mengancam nyawa.

Selain dipengaruhi faktor genetik, autoimun juga dipicu oleh berbagai faktor lingkungan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, dan stres.

Menurutnya, banyak pasien justru semakin tertekan setelah mencari informasi mengenai penyakitnya melalui internet tanpa pemahaman yang memadai.

"Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun," kata dia.

Ia menambahkan, tekanan psikologis menjadi salah satu faktor dominan yang memicu autoimun.

Kondisi tersebut tidak hanya dialami pekerja, tetapi juga mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik.

"Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul," terangnya.

Nyoman menjelaskan autoimun terbagi menjadi dua kelompok, yakni autoimun organ spesifik dan autoimun sistemik.

Autoimun organ spesifik menyerang satu organ tertentu, seperti penyakit Hashimoto pada kelenjar tiroid, diabetes melitus tipe 1 akibat serangan pada pankreas, maupun autoimun yang menyerang ginjal.

Sementara itu, autoimun sistemik menyerang banyak organ sekaligus.

Salah satu contoh yang paling sering ditemukan adalah lupus yang dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga organ lainnya.

Selain lupus, terdapat pula rheumatoid arthritis, scleroderma, dan berbagai penyakit rematik autoimun lainnya.

Meski lebih banyak dialami perempuan, Nyoman mengatakan laki-laki juga dapat mengalami autoimun, seperti ankylosing spondylitis.

Namun secara umum, sekitar 80 persen penderita merupakan perempuan dan 20 persen laki-laki.

Ia mengingatkan tiga pemicu utama kekambuhan autoimun yang perlu dihindari, yakni kelelahan, stres, dan paparan sinar matahari berlebihan.

"Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan," pesannya.

Menurut Nyoman, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa makanan tertentu menjadi penyebab utama kambuhnya autoimun karena setiap pasien memiliki pemicu yang berbeda.

Karena itu, ia menyarankan pasien mengenali respons tubuh terhadap makanan yang dikonsumsi.

Ia juga menilai tantangan penanganan autoimun bukan hanya terletak pada pengobatan, tetapi juga pemahaman pasien terhadap penyakitnya.

Sebagian pasien menghentikan pengobatan setelah merasa sehat, sementara sebagian lainnya justru mengalami depresi setelah mengetahui diagnosis autoimun.

Selain itu, penggunaan obat imunosupresan juga menjadi tantangan karena obat tersebut menekan sistem kekebalan tubuh yang sebenarnya berfungsi melindungi tubuh dari infeksi.

"Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing," ungkap dr. Nyoman.

Berangkat dari kondisi tersebut, Nyoman mengembangkan penelitian mengenai obat herbal sebagai alternatif terapi di masa depan.

"Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya," tuturnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk menjalani hidup dengan lebih tenang serta menghindari faktor-faktor pemicu, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat genetik autoimun.

"Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih," tandasnya. (*)