71 Ribu Pelajar Terindikasi Gangguan Mental, SMP Paling Rentan
Pemeriksaan terhadap 148 ribu pelajar di Bandung menemukan 71 ribu siswa terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental, dengan angka tertinggi di tingkat SMP. Psikolog UGM menilai paparan media sosial dan lemahnya penguatan nilai keluarga menjadi faktor risiko utama.
RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 48,19 persen pelajar terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.
- Tingkat SMP/MTs mencatat angka tertinggi dengan dominasi gejala ansietas.
- Psikolog UGM menekankan peran keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam pencegahan holistik.
RIAUCERDAS.COM - Sebanyak 71.433 pelajar terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental.
Hal ini berdasarkan pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung pada Agustus–Oktober 2025.
Temuan paling tinggi terjadi pada jenjang SMP/MTs, dengan dominasi gejala ansietas ringan hingga depresi berat.
Dari total 148.239 siswa yang diperiksa, tercatat 48,19 persen mengalami masalah kesehatan jiwa.
Pada tingkat SMP/MTs, sebanyak 76,46 persen siswa mengalami gejala ansietas ringan, 7,89 persen terindikasi ansietas berat, 15,23 persen menunjukkan gejala depresi ringan, dan 7,42 persen terindikasi depresi berat.
Sementara itu, di jenjang SD/MI, dari 80.724 peserta, sebanyak 43.390 siswa atau 53,75 persen terindikasi mengalami persoalan kesehatan jiwa yang didominasi ansietas ringan dan depresi ringan.
Pada tingkat SMA/MA, angka temuan mencapai 25,79 persen, sedangkan di SLB sebesar 48,51 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, akademisi dan psikolog dari Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, menyoroti kerentanan generasi Alpha terhadap tekanan psikologis.
Ia menyebut generasi ini tumbuh di era digital dengan paparan informasi yang sangat luas dan cepat.
“Dunia maya memberikan insecurity yang sangat besar. Anak-anak semakin banyak tahu banyak hal, sayangnya beberapa informasi yang didapatkan justru membuat insecurity semakin tinggi,” kata dia dimutip dari situs UGM, Rabu (25/2/2026).
Menurut Diana, terjadi pergeseran nilai dalam proses tumbuh kembang anak.
Ia menilai algoritma media sosial kini berperan besar membentuk pola pikir generasi muda, bahkan melampaui peran keluarga.
“Ada pergeseran nilai. Media sosial sekarang didominasi oleh hal-hal instan, hedonisme, pamer kekayaan, pamer gaya hidup orang terkaya. Jika keluarga tidak menanamkan nilai dari rumah, maka fungsi keluarga itu akan diambil alih oleh apa yang mereka lihat di dunia maya,” ungkapnya.
Ia menegaskan pencegahan harus dimulai dari keluarga dengan meningkatkan pemahaman orang tua tentang kesehatan mental anak.
Anak dengan kondisi mental yang sehat, kata Diana, mampu mengenali potensi diri, memiliki tujuan hidup, mengelola stres, produktif, dan memberi manfaat bagi orang lain.
“Saya pikir orang tua perlu memahami ciri-ciri kesehatan mental bagi anak, sehingga ketika melihat anak menunjukkan perubahan perilaku, mereka memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara memberikan pertolongan,” ucapnya.
Diana juga menekankan bahwa persoalan ini membutuhkan pendekatan menyeluruh.
Pemerintah diminta menghadirkan edukasi keterampilan berkeluarga, sekolah menerapkan pendekatan School-Based Mental Health, serta keluarga memperkuat peran sebagai fondasi utama kesehatan mental anak.
“Pelayanan kesehatan juga harus siap ketika kesadaran masyarakat mulai meningkat,” tegasnya.
Ia menambahkan sistem kesehatan mental perlu dibangun sejak dini melalui promosi dan pencegahan secara komprehensif.
“Kita harus membangun sistem kesehatan mental yang kuat. Promosi dan prevensi secara holistik harus dilakukan. Jangan sampai generasi kita tumbuh dengan kerentanan yang tidak tertangani,” tutupnya. (*)