Teknologi Panel Surya Ubah Nasib Petani Krandegan, Panen Padi Kini Tiga Kali Setahun

Pemanfaatan panel surya untuk sistem irigasi di Desa Krandegan, Purworejo, berhasil meningkatkan produktivitas pertanian dari satu kali menjadi tiga kali panen per tahun. Teknologi ini juga menghapus biaya operasional solar yang sebelumnya mencapai ratusan juta rupiah setiap tahun.

May 25, 2026 - 15:25
 0
Teknologi Panel Surya Ubah Nasib Petani Krandegan, Panen Padi Kini Tiga Kali Setahun
Pemanfaatan panel surya untuk sistem irigasi di Desa Krandegan, Purworejo, berhasil meningkatkan produktivitas pertanian dari satu kali menjadi tiga kali panen per tahun. Rektor UIN Suska melihat langsung fasilitas ini. (Sumber: uin-suska.ac.id)

RINGKASAN BERITA:

  • Teknologi panel surya membuat petani Krandegan bisa panen padi tiga kali setahun.
  • Biaya operasional solar hingga Rp200 juta per tahun kini hilang sepenuhnya.
  • Inovasi irigasi tenaga surya ini meningkatkan nilai ekonomi petani sekitar Rp5 miliar per tahun.

RIAUCERDAS.COM, PURWOREJO - Transformasi besar terjadi di sektor pertanian Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Teknologi panel surya yang digunakan untuk menggerakkan pompa irigasi kini mampu mengubah pola tanam petani dari satu kali panen menjadi tiga kali panen dalam setahun.

Di kawasan persawahan seluas 70 hektar itu, sebanyak 60 modul surya berkapasitas 18 kWp dipasang di tepi Sungai Dulang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian sepanjang tahun.

Sistem tersebut menggerakkan pompa berdaya 11 kW yang menyedot air sungai dari kedalaman sekitar empat meter.

Keberadaan teknologi energi terbarukan tersebut sekaligus mengakhiri ketergantungan petani terhadap mesin diesel yang sebelumnya menghabiskan biaya operasional hingga Rp200 juta per tahun.

Sebelumnya, petani di Desa Krandegan menghadapi ancaman gagal panen akibat keterbatasan irigasi.

Ketika bantuan bahan bakar untuk pompa diesel terancam dihentikan pada 2021, petani hanya memiliki pilihan kembali bertani tadah hujan atau meninggalkan sawah mereka.

Situasi itu kemudian mendorong lahirnya kolaborasi antara Pemerintah Desa Krandegan dan tim pengabdi dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau melalui Program Studi Teknik Elektro.

Tim yang terdiri dari Kunaifi, Alex Wenda, dan Zulfatri Aini menyusun rancangan teknis pengembangan pompa irigasi tenaga surya yang kemudian dipresentasikan Kepala Desa Krandegan, Dwinanto kepada berbagai pihak hingga memperoleh dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pada 2022, panel dan pompa pertama mulai dipasang.

Sejak saat itu, produktivitas pertanian meningkat signifikan dan kekhawatiran petani terhadap kekurangan air perlahan hilang.

Empat tahun kemudian, perusahaan energi asal Singapura, Agros memberikan hibah tambahan berupa panel surya dan pompa baru untuk memperbesar kapasitas irigasi.

Peresmian bantuan tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Bumi 2026 pada 21 Mei lalu dan dihadiri Wakil Bupati Purworejo, Dion Agassi Setiabudi bersama ratusan undangan lainnya.

“Negara yang masih mengandalkan sumber energinya pada minyak bumi akan berhadapan dengan masalah besar. Energi terbarukan, seperti yang diimplementasikan di Krandegan ini, adalah solusi inovatif untuk ketahanan energi dan pangan desa,” ujar Dion Agassi Setiabudi.

Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, menyebut dampak ekonomi yang dirasakan petani sangat besar sejak penggunaan pompa tenaga surya diterapkan.

“Produktivitas padi di Krandegan meningkat dari satu kali panen per tahun menjadi tiga kali panen. Nilai tambah ekonomi yang diterima petani mencapai sekitar Rp5 miliar per tahun. Biaya bahan bakar tidak ada lagi,” katanya.

Salah seorang anggota kelompok tani juga mengaku pengeluaran operasional pertanian kini jauh lebih ringan dibanding sebelumnya.

“Dulu kami bayar solar hampir Rp500 ribu per hari. Sekarang praktis tidak keluar biaya, paling cuma bersihin panel sesekali,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Leny Nofianti menyampaikan bahwa inovasi tersebut menjadi bukti penerapan ilmu pengetahuan langsung di tengah masyarakat.

“Apa yang kita lihat di Krandegan adalah aplikasi langsung dari ekosistem keilmuan yang dibangun selama 16 tahun,” ujar Leny.

Ia menilai transformasi desa dapat tercapai ketika teknologi berkembang dari kebutuhan masyarakat dan mampu menjawab persoalan nyata di lapangan. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow