Gandeng NRG PALLAS Belanda, BRIN Siapkan Standar Bahan Bakar Nuklir Nasional
BRIN menggandeng NRG PALLAS Belanda dalam penyusunan standar bahan bakar nuklir nasional melalui forum diskusi ilmiah. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat penguasaan teknologi, kompetensi periset, dan kesiapan Indonesia mendukung pengembangan PLTN.
RINGKASAN BERITA :
- BRIN menggandeng NRG PALLAS Belanda untuk menyusun standar bahan bakar nuklir nasional dan meningkatkan kompetensi periset.
- BRIN menyatakan telah berhasil memfabrikasi satu pin bahan bakar untuk reaktor PWR sebagai langkah menuju kemandirian pasokan bahan bakar reaktor.
- Kerja sama diarahkan pada pengembangan teknologi uji pascairadiasi, pelatihan periset, dan penyusunan peta jalan strategis pengembangan bahan bakar nuklir Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat langkah pengembangan teknologi bahan bakar nuklir dengan menggandeng lembaga riset nuklir NRG PALLAS Belanda.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada peningkatan standar bahan bakar nuklir nasional sekaligus penguatan kompetensi periset Indonesia melalui forum Focus Group Discussion (FGD).
FGD bertajuk General Requirement for The Characterization of New Materials (Fuels & Cladding) and Fuel Material Irradiation Capability diselenggarakan Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN di Gedung 20 Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Senin (6/7/2026).
Dalam diskusi tersebut, Research Consultant NRG PALLAS Belanda, Fitriana Nindiyasari, menekankan bahwa penyusunan rencana penelitian yang matang menjadi faktor utama dalam pengembangan bahan bakar nuklir, terutama pada proses pengujian pascairadiasi yang membutuhkan biaya besar.
“Mengkualifikasi material untuk uji pasca iradiasi, rencananya harus sudah matang, karena iradiasi memerlukan biaya yang tidak sedikit. Fleksibilitas dalam rencana tetap harus ada, tapi tujuan akhir harus menjadi prioritas,” jelas Fitriana dikutip dari laman BRIN, Rabu (8/7/2026).
Ia juga menyatakan kesiapan NRG PALLAS untuk bekerja sama dengan BRIN dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi nuklir melalui pendampingan, konsultasi, hingga pemanfaatan perangkat lunak dan analisis data laboratorium.
“Kami siap melakukan pendampingan serta memberikan konsultasi untuk peneliti dari Indonesia. Kita juga bisa kerja sama dalam penggunaan software atau analisis data untuk penghitungan hasil-hasil labnya,” kata Fitriana.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan dapat menghasilkan produk bernilai tambah apabila mampu memenuhi standar internasional.
“Untuk memaksimalkan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia harus dapat meningkatkan kualifikasi pada berbagai bidang khususnya jika ingin memenuhi standar pasar Eropa dan Amerika,” terangnya.
Sementara itu, Kepala PRTBNLR BRIN, Maman Kartaman, mengatakan penguasaan teknologi bahan bakar nuklir terus diperkuat sebagai bagian dari dukungan terhadap pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam mencapai target Net Zero Emission tahun 2060.
Ada dua jenis reaktor daya pendingin air, High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) dan Pressurized Water Reactor (PWR).
'Meskipun HTGR masih skala riset di lab, tapi untuk PWR kita telah berhasil memfabrikasi satu pin, artinya kita sudah siap ketika nanti Indonesia mengarah pada kemandiran pasokan bahan bakar reaktor,” ujar Maman.
Ia menambahkan, kemampuan melakukan Post-Irradiation Examination (PIE) atau pengujian material dan bahan bakar pascairadiasi sesuai standar internasional menjadi salah satu kompetensi yang perlu terus dikembangkan oleh periset BRIN.
“Kita sedang mengembangkan standar baru untuk pengujian mekanik khususnya dengan ukuran yang kecil (mini specimen). Semakin kecil ukurannya maka semakin berkurang limbah yang dihasilkan,” tuturnya.
Maman menjelaskan BRIN saat ini juga berpartisipasi dalam IAEA Coordinated Research Project (CRP) terkait uji pascairadiasi bersama NRG PALLAS sebagai mitra Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
“Kita perlu sharing dengan ekspert dari NRG PALLAS terkait bagaimana mengkualifikasi sampel yang telah kita lakukan pengujian. Apakah sudah sesuai standar nasional di negara kita maupun regulasi internasional,” ungkapnya.
Ke depan, BRIN berharap kerja sama dengan NRG PALLAS dapat diperkuat melalui pelatihan, pertukaran pengetahuan, hingga pembentukan payung hukum resmi yang memungkinkan periset Indonesia memperoleh pengalaman melakukan riset PIE menggunakan fasilitas hot cell milik NRG PALLAS.
Selain itu, BRIN juga menargetkan penyusunan peta jalan strategis pengujian iradiasi yang mencakup tahapan pengembangan berdasarkan Technical Readiness Level (TRL), identifikasi data kritis melalui uji pascairadiasi, serta penguatan pemahaman terhadap rantai pasok dan pengelolaan limbah bahan bakar nuklir inovatif. (*)