Hari Kartini 2026, Menag Tekankan Keteladanan Bukan Sekadar Simbol

Menteri Agama menegaskan peringatan Hari Kartini harus dimaknai melalui keberanian berpikir dan bertindak, bukan hanya seremonial semata.

Hari Kartini 2026, Menag Tekankan Keteladanan Bukan Sekadar Simbol
Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Menag menegaskan peringatan Hari Kartini harus dimaknai lebih dari sekadar simbol.
  • Kartini dinilai sebagai pelopor kesadaran kemerdekaan perempuan Indonesia.
  • Pemikiran Kartini mencakup aspek sosial hingga keagamaan yang progresif.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Kartini tahun 2026 di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia dimaknai sebagai momentum memperkuat nilai keberanian berpikir dan bertindak, bukan sekadar perayaan simbolik. 

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya meneladani semangat perubahan yang diwariskan tokoh perempuan Indonesia tersebut.

Menurutnya, sosok Raden Ajeng Kartini memiliki peran besar dalam membangun kesadaran baru terkait posisi perempuan di ruang publik dan kehidupan sosial.

“Raden Ajeng Kartini adalah sosok luar biasa yang dapat kita sebut sebagai pelopor kesadaran kemerdekaan perempuan Indonesia. Di usia muda, beliau sudah berani mempertanyakan berbagai kondisi sosial di lingkungannya,” ujar Menag, Selasa (21/4/2026).

Menag menjelaskan, Kartini pada masanya telah berani mengkritisi berbagai praktik sosial yang membatasi perempuan, seperti tradisi pingitan dan terbatasnya akses pendidikan.

Pengalaman tersebut membentuk pandangan kritisnya terhadap pentingnya kesetaraan dan keadilan.

Selain aspek sosial, pemikiran Kartini juga menyentuh dimensi keagamaan.

Menurut Nasaruddin Umar, Kartini memiliki cara pandang progresif dalam memahami ajaran agama secara lebih mendalam.

“Beliau tidak puas hanya membaca Al-Qur'an secara tekstual tanpa memahami maknanya. Beliau mendorong adanya tafsir Al-Qur'an agar agama tidak hanya menjadi dogma teologis, tetapi menjadi way of life (pegangan hidup) dan penuntun bagi masyarakat,” lanjutnya.

Ia menambahkan, latar belakang Kartini sebagai bagian dari kalangan priyayi justru menjadi ruang lahirnya keberanian berpikir berbeda.

Kartini dinilai mampu melihat realitas sosial secara kritis dan menawarkan perspektif baru di zamannya.

“Seorang tokoh besar lahir dari keberanian untuk berpikir berbeda, berani mengambil sikap, dan berani menghadapi tantangan zamannya. Itulah yang ditunjukkan oleh Kartini,” tuturnya.

Menag juga mengajak seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Kemenag untuk menjadikan nilai-nilai Kartini sebagai inspirasi dalam bekerja, tanpa memandang latar belakang maupun gender.

“Yang perlu kita teladani adalah keberanian berpikir, kepekaan sosial, dan semangat untuk terus memberi manfaat. Ini relevan bagi kita semua dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Peringatan Hari Kartini tahun ini tidak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga momentum memperkuat komitmen menghadirkan ruang yang inklusif, adil, dan memberdayakan seluruh elemen masyarakat. (*)