BRIN Kembangkan PUMMA, Alat Murah Pendeteksi Tsunami
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PUMMA, perangkat pemantau muka air laut berbiaya rendah yang telah beroperasi selama enam tahun di perairan Indonesia. Alat ini terbukti mampu mendeteksi tsunami akibat letusan Gunung Api Hunga Tonga pada 2022 dan kini dikembangkan untuk mendukung mitigasi bencana pesisir serta pemantauan banjir rob.
RINGKASAN BERITA:
- PUMMA mampu mendeteksi tsunami akibat letusan Gunung Api Hunga Tonga pada 2022 dan mengirimkan 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang.
- Alat buatan BRIN ini dapat memperbarui data muka air laut setiap 15 detik dan mengirim informasi anomali dalam waktu kurang dari lima menit.
- Selain untuk deteksi tsunami, PUMMA kini dimanfaatkan untuk pemantauan banjir rob dan mendukung perlindungan wilayah pesisir Indonesia.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia terus dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Salah satu inovasi yang kini menjadi andalan adalah PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut), alat pemantau muka air laut yang telah beroperasi di sejumlah wilayah pesisir Indonesia selama enam tahun terakhir.
Perangkat yang dikenal secara internasional sebagai Inexpensive Device for Sea-Level Measurement (IDSL) tersebut dirancang untuk memantau perubahan permukaan laut secara langsung dan memberikan informasi secara cepat ketika terjadi anomali yang berpotensi memicu bencana.
Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Semeidi Husrin, mengatakan PUMMA dikembangkan untuk menjawab tantangan sistem peringatan dini tsunami di Indonesia yang memiliki karakteristik berbeda dibanding negara lain.
“PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan,” ujarnya dikutip dari laman BRIN, Selasa (2/6/2026).
Menurut Semeidi, Indonesia memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik serta pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan sistem pemantauan yang mampu mendeteksi perubahan muka laut secara langsung menjadi semakin penting.
Salah satu keunggulan PUMMA adalah kemampuannya memperbarui data setiap 15 detik secara hampir waktu nyata (near-real time).
Selain itu, alat tersebut ditempatkan di pulau-pulau kecil yang berfungsi sebagai pelampung alami atau natural offshore buoy sehingga mampu mendeteksi kenaikan muka air laut lebih cepat dari lokasi yang dekat dengan sumber bencana.
“Salah satu keunggulan PUMMA adalah penempatannya yang memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy atau pelampung alami di tengah laut. Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit,” terangnya.
Kemampuan alat tersebut telah diuji dalam peristiwa nyata.
Saat tsunami yang dipicu letusan Gunung Api Hunga Tonga mencapai wilayah perairan Indonesia pada Januari 2022, sistem PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang.
Hingga periode 2020–2021, delapan unit IDSL telah dipasang di sejumlah daerah, yakni Lampung, Banten, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatra Barat, dan Jakarta.
Tidak hanya berfungsi untuk mendeteksi tsunami, PUMMA kini juga mulai dimanfaatkan dalam pemantauan banjir rob dan pengelolaan wilayah pesisir.
Salah satu penerapannya dilakukan di kawasan Muara Gembong, Bekasi, guna mendukung pembangunan infrastruktur perlindungan pantai yang lebih tepat sasaran.
Semeidi mengungkapkan bahwa istilah "murah" pada nama PUMMA tidak semata-mata merujuk pada biaya pembuatannya yang rendah, melainkan menggambarkan konsep efisiensi tanpa mengurangi kualitas dan keandalannya.
Bahkan, terdapat usulan agar nama tersebut diubah menjadi perangkat multiguna karena cakupan pemanfaatannya yang semakin luas.
Selama beroperasi di berbagai wilayah pesisir, seluruh unit PUMMA juga tercatat aman dari aksi vandalisme.
Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari pendekatan sosialisasi yang melibatkan masyarakat sehingga muncul rasa memiliki dan kesadaran untuk menjaga perangkat tersebut.
Ke depan, BRIN berharap jaringan pemantauan PUMMA dapat diperluas hingga wilayah Indonesia bagian timur yang saat ini masih memiliki keterbatasan cakupan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat sistem mitigasi bencana dan memberikan perlindungan yang lebih merata bagi masyarakat pesisir di seluruh Indonesia. (*)