WHO Ingatkan Pola Penularan Virus Nipah, Risiko Menular dari Hewan hingga Antarmanusia
RINGKASAN BERITA:
- Virus Nipah menular dari kelelawar ke manusia melalui hewan perantara dan makanan terkontaminasi
- Penularan antarmanusia berisiko tinggi, terutama di fasilitas kesehatan
- Indonesia diminta waspada karena berada di wilayah sebaran alami kelelawar Pteropus
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti pola penularan Virus Nipah sebagai faktor utama yang perlu diwaspadai menyusul laporan dua kasus terkonfirmasi di West Bengal, India.
Penyakit zoonosis ini dinilai berpotensi menyebar lintas negara apabila kewaspadaan dan pencegahan tidak dilakukan sejak dini.
NPO Epidemiologist WHO Health Emergency Programme (WHE) WHO Indonesia, dr. Endang Widuri Wulandari, menjelaskan bahwa Virus Nipah memiliki mekanisme penularan yang kompleks, dimulai dari hewan ke manusia hingga antarmanusia.
“Virus Nipah merupakan penyakit emerging dan re-emerging dengan tingkat kematian yang tinggi, sehingga pemahaman masyarakat terhadap cara penularannya menjadi sangat krusial,” kata dr. Endang dalam webinar perkembangan terkini Virus Nipah di Jakarta, Senin (2/2/2026).
Virus Nipah disebabkan oleh virus RNA dari famili Paramyxoviridae dengan inang alami kelelawar buah (Pteropus sp.).
Penularan awal ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar, babi, dan kuda, yang berperan sebagai hewan perantara.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi, seperti nira atau air aren mentah yang tercemar air liur atau urin kelelawar, serta buah yang telah tergigit hewan tersebut.
Penularan antarmanusia menjadi perhatian serius, khususnya melalui kontak dengan darah dan cairan tubuh pasien terinfeksi.
WHO mencatat sekitar 10 persen kasus melibatkan tenaga kesehatan, yang menunjukkan tingginya risiko penularan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi rata-rata 3 hingga 14 hari, namun dalam kondisi tertentu dapat berlangsung hingga 45 hari.
Gejala awal sering kali tidak spesifik, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan, sehingga kerap sulit dibedakan dari penyakit lain.
Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut seperti pneumonia atau ARDS, serta gangguan sistem saraf berupa ensefalitis.
WHO mencatat tingkat kematian Virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, sementara sekitar 20 persen pasien yang selamat berisiko mengalami gangguan neurologis jangka panjang.
Meski hingga kini belum terdapat laporan kasus konfirmasi pada manusia di Indonesia, dr. Endang mengingatkan bahwa Indonesia berada di wilayah sebaran alami kelelawar Pteropus.
Bahkan, bukti keberadaan virus pada populasi kelelawar telah ditemukan di sejumlah daerah.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah telah menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 yang mengatur peningkatan kewaspadaan masyarakat.
Upaya tersebut meliputi memasak nira atau air aren hingga matang, mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, memasak daging ternak secara sempurna, menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan hewan berisiko, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mencurigakan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah serta lembaga kesehatan guna mencegah disinformasi terkait Virus Nipah. (*)