Sampah Makanan Melonjak saat Idulfitri, Pakar Soroti Budaya Konsumsi dan Sistem Sampah
Tradisi jamuan melimpah saat Idulfitri memicu peningkatan sampah makanan. Pakar IPB menilai budaya konsumsi dan sistem pengelolaan sampah menjadi faktor utama penyebabnya.
RINGKASAN BERITA:
- Tradisi jamuan berlimpah saat Idulfitri memicu peningkatan sampah makanan.
- Budaya konsumsi dan sistem pengelolaan sampah menjadi penyebab utama food waste.
- Perencanaan konsumsi dan pemilahan sampah penting untuk mengurangi dampak lingkungan.
RIAUCERDAS.COM - Di balik tradisi menjamu tamu dengan hidangan berlimpah saat Idulfitri, tersimpan persoalan yang kian mengemuka, yakni meningkatnya sampah makanan rumah tangga.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Meti Ekayani, menilai kondisi ini sebagai cerminan paradoks dalam pola konsumsi masyarakat.
Menurut Meti, keinginan untuk menghormati tamu sering kali mendorong keluarga menyiapkan makanan dalam jumlah berlebih, yang pada akhirnya tidak habis dikonsumsi.
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Kamis (19/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam budaya masyarakat Indonesia—yang juga ditemukan di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah—menyediakan makanan berlimpah dianggap sebagai bentuk penghormatan.
Namun, praktik tersebut kerap berujung pada pemborosan.
“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelasnya.
Kurangnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga turut memperparah kondisi ini.
Banyak keluarga tidak menghitung kebutuhan riil, sehingga memasak atau membeli makanan melebihi jumlah yang diperlukan.
Fenomena ini semakin terlihat selama Ramadan hingga Idulfitri.
Saat berbuka puasa, masyarakat cenderung membeli berbagai jenis makanan karena dorongan sesaat, meski tidak semuanya dikonsumsi.
“Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” katanya.
Selain itu, perubahan pola aktivitas juga berkontribusi terhadap pemborosan.
Tidak jarang anggota keluarga berbuka puasa di luar, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah.
“Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.
Lebih jauh, Meti menekankan bahwa persoalan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan makanan, tetapi juga meningkatkan beban pengelolaan sampah di perkotaan.
Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mendorong perubahan perilaku masyarakat.
“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul ,angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.
Berbeda dengan beberapa negara maju yang telah menerapkan sistem berbasis volume sampah, Indonesia dinilai masih tertinggal dalam mendorong pengurangan sampah dari sumbernya.
Di sisi lain, kebiasaan tidak memilah sampah juga menjadi persoalan.
Sampah makanan yang tercampur dengan sampah anorganik membuat material yang masih bernilai ekonomi tidak dapat dimanfaatkan kembali.
“Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Meti mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui perencanaan konsumsi yang lebih matang serta kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Limbah makanan juga dapat diolah kembali agar memiliki nilai guna.
“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” tutupnya. (*)



