Suhu Bumi Naik 0,35 Derajat, Pakar UGM Peringatkan Risiko Siklon hingga Gagal Panen Meningkat
Kenaikan suhu Bumi yang semakin cepat memicu cuaca ekstrem, mulai dari siklon hingga kekeringan. Pakar klimatologi UGM mengingatkan dampaknya bisa meluas hingga sektor pangan dan kehidupan masyarakat.
RINGKASAN BERITA:
- Pemanasan global kini meningkat hampir dua kali lebih cepat dibanding era 1970-an
- Risiko siklon, banjir, dan angin kencang diprediksi makin sering terjadi
- Kemarau panjang berpotensi mengganggu produksi pangan dan pola tanam petani.
RIAUCERDAS.COM - Laju pemanasan global yang kian cepat dalam satu dekade terakhir mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kehidupan di Bumi.
Kenaikan suhu sebesar 0,35 derajat Celsius tidak hanya meningkatkan intensitas cuaca ekstrem, tetapi juga memicu ancaman serius seperti siklon, banjir, hingga potensi gagal panen di berbagai wilayah.
Pakar klimatologi dari Universitas Gadjah Mada, Emilya Nurjani, mengungkapkan bahwa peningkatan suhu global saat ini hampir dua kali lebih cepat dibandingkan era 1970-an.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada mencairnya es di Kutub Utara dan meningkatnya volume air laut.
Menurutnya, perubahan ini berpotensi mengurangi ketinggian wilayah dataran rendah serta meningkatkan frekuensi bencana hidrometeorologi.
“Jika suhu udara makin tinggi menyebabkan suhu muka laut semakin tinggi, maka bentuk lainnya adalah siklon yang akan sering terjadi. Kalau siklon sering terjadi maka dampak berikutnya adalah banjir, kemudian misalnya angin kencang, kemudian juga perubahan tinggi lainnya,” jelas Emilya, dilansir dari laman UGM, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan suhu turut mempercepat proses penguapan air yang kemudian meningkatkan pembentukan awan dan curah hujan.
Namun di sisi lain, perubahan pola musim juga memicu kemarau yang lebih panjang dan kering di beberapa wilayah.
Kondisi ini dinilai berisiko besar terhadap sektor pertanian. Pola tanam menjadi terganggu, terutama pada musim tanam ketiga yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
“Karena kalau kemaraunya panjang maka akan berdampak pada sektor pertanian. Petani akan sulit untuk menanam padi, terutama di pola masa tanam yang ketiga,” jelasnya.
Emilya menambahkan, faktor utama kenaikan suhu Bumi berasal dari aktivitas manusia, terutama penggunaan bahan bakar fosil yang meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca.
Hal ini menyebabkan radiasi matahari lebih banyak terserap oleh permukaan Bumi.
“Nah suhu yang makin panas itu kemudian juga menimbulkan dampak kenaikan suhu terhadap permukaan bumi,” katanya.
Peningkatan suhu juga memperkuat proses evaporasi dan transpirasi, sehingga jumlah uap air di atmosfer meningkat.
Akibatnya, intensitas hujan bisa menjadi lebih tinggi dan memicu genangan, terutama pada periode tertentu.
Namun, pada musim kemarau yang dipengaruhi fenomena monsoon Australia, pembentukan awan justru berkurang sehingga menyebabkan kondisi kering berkepanjangan.
“Proses pembentukan awan pada saat musim kemarau itu menjadi berkurang sehingga kita mengalami musim kemarau,” ungkap Emilya.
Sebagai langkah antisipasi, ia mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan strategi mitigasi sederhana seperti penampungan air hujan atau rainwater harvesting.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.
“Jadi air digunakan sesuai dengan fungsinya. Misal untuk kebutuhan air domestik kita bisa menggunakan air tanah, tetapi kalau misalnya untuk kebutuhan yang lain, maka kita bisa menggunakan air permukaan atau jenis air lainnya. Karena memang air tanah sendiri pun juga semuanya kan input-nya dari air hujan,” pungkasnya.
Dengan tren pemanasan global yang terus meningkat, upaya mitigasi dan adaptasi dinilai menjadi kunci untuk mengurangi dampak yang lebih luas, terutama bagi sektor pangan dan keselamatan masyarakat. (*)


