Pakar Peringatkan Bahaya Paralon untuk Kue Putu, Berpotensi Lepaskan Zat Beracun
Penggunaan pipa PVC atau paralon sebagai cetakan kue putu mendapat sorotan dari pakar IPB University. Bahan yang tidak dirancang untuk suhu tinggi itu dinilai berisiko melepaskan senyawa berbahaya ke makanan saat proses pengukusan berlangsung.
RINGKASAN BERITA:
- Pakar IPB menyebut pipa PVC tidak dirancang untuk penggunaan pada suhu pengukusan kue putu.
- Suhu tinggi berpotensi memicu perpindahan zat berbahaya, termasuk timbal (Pb) dan senyawa yang bersifat karsinogenik.
- Cetakan bambu dinilai lebih aman sekaligus menjaga nilai tradisional kuliner kue putu.
RIAUCERDAS.COM - Fenomena penggunaan pipa PVC atau paralon sebagai cetakan kue putu mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Praktik yang kini mulai banyak ditemukan di sejumlah pedagang itu dinilai memiliki risiko terhadap keamanan pangan karena bahan tersebut tidak diperuntukkan bagi proses pengolahan makanan bersuhu tinggi.
Pakar dari IPB University, Prof. Eko Hari Purnomo, mengingatkan bahwa pipa PVC sebaiknya tidak digunakan sebagai alat pencetak maupun pengukus kue putu.
Menurutnya, penggunaan paralon menggantikan bambu berpotensi menyebabkan perpindahan komponen plastik ke dalam makanan yang dikonsumsi masyarakat.
“Pipa paralon pada dasarnya dikembangkan untuk mengalirkan bahan dalam kondisi dingin, terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius, sehingga tidak didesain untuk digunakan pada suhu tinggi,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, proses pembuatan kue putu membutuhkan pengukusan menggunakan uap air bersuhu sekitar 100 derajat Celsius.
Suhu tersebut diperlukan agar pati beras sebagai bahan utama mengalami proses gelatinisasi yang umumnya terjadi pada kisaran 80 derajat Celsius.
Menurut Prof. Eko, kondisi panas saat pengukusan dapat memicu migrasi atau perpindahan komponen tertentu dari pipa PVC ke dalam makanan.
Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu.
"Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius,” ujarnya.
Ia menambahkan, suhu tinggi berpotensi melepaskan zat tambahan yang digunakan dalam proses pembuatan PVC, termasuk stabiliser yang mengandung timbal (Pb).
Paparan timbal diketahui dapat berdampak pada kesehatan, salah satunya mengganggu fungsi ginjal.
Selain itu, terdapat kemungkinan perpindahan monomer penyusun PVC yang bersifat karsinogenik atau berpotensi memicu kanker apabila masuk ke dalam makanan.
Sebagai alternatif, Prof. Eko menyarankan pedagang tetap menggunakan cetakan tradisional berbahan bambu yang selama ini telah digunakan dalam pembuatan kue putu.
Selain lebih aman, penggunaan bambu juga dinilai mampu mempertahankan nilai budaya dari kuliner tradisional tersebut.
“Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi,” terangnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait keamanan pangan.
Menurutnya, edukasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga produsen, konsumen, serta institusi pendidikan.
“Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen," ungkapnya.
Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat. (*)