Menag Libatkan 4.700 Pengawas Madrasah Kawal Kurikulum Berbasis Cinta di Seluruh Indonesia

Sebanyak 4.700 pengawas madrasah akan menjadi garda terdepan dalam mengawal implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di berbagai daerah. Komitmen tersebut ditandai dengan peluncuran Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi KBC oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Menag Libatkan 4.700 Pengawas Madrasah Kawal Kurikulum Berbasis Cinta di Seluruh Indonesia
Peluncuran Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi KBC yang diperkenalkan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Bandung, Selasa (9/6/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA: 

  • Sebanyak 4.700 pengawas madrasah dilibatkan untuk mengawal implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di seluruh Indonesia.
  • Kementerian Agama meluncurkan Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi KBC beserta Buku Saku KBC terintegrasi MDS.
  • Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menekan perundungan, tawuran, kekerasan, dan intoleransi melalui penguatan pendidikan karakter.

RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Kementerian Agama melibatkan 4.700 pengawas madrasah di seluruh Indonesia untuk memastikan pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) berjalan efektif di satuan pendidikan.

Langkah tersebut diwujudkan melalui peluncuran Gerakan Satu Pengawas Satu Madrasah Praktik Baik Implementasi KBC yang diperkenalkan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, di Bandung, Selasa (9/6/2026).

Program tersebut menempatkan pengawas madrasah sebagai aktor utama dalam mendampingi sekaligus mengawasi penerapan kurikulum yang menitikberatkan pada penguatan karakter, kasih sayang, dan harmoni sosial di lingkungan pendidikan.

“Pengawas adalah orang-orang terbaik yang mengawal mutu pendidikan madrasah. Pendidikan harus melahirkan cinta, bukan kebencian,” ujar Nasaruddin Umar.

Sebagai bagian dari gerakan tersebut, Kementerian Agama juga meluncurkan Buku Saku Kurikulum Berbasis Cinta untuk pengawas madrasah.

Buku panduan ini telah terintegrasi dengan sistem Madrasah Digital Supervision (MDS) yang digunakan sebagai instrumen pendampingan dan pengawasan implementasi KBC.

Menurut Nasaruddin, pengawas memiliki posisi strategis dalam memastikan berbagai program penguatan karakter dapat diterapkan secara konsisten di madrasah.

Ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pengembangan dari konsep ekoteologi yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, lingkungan, dan Tuhan.

“Kalau semua kitab suci, termasuk Al-Qur’an, dipadatkan menjadi satu kata, maka kata itu adalah cinta,” katanya.

Menag meyakini penerapan KBC dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan di lingkungan madrasah dan pesantren.

Melalui pendekatan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang, berbagai persoalan seperti tawuran, perundungan, kekerasan fisik, hingga intoleransi diharapkan dapat terus ditekan.

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar juga menyampaikan apresiasi kepada para pengawas madrasah yang selama ini berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam.

Menurutnya, berbagai prestasi yang diraih madrasah di tingkat nasional maupun internasional tidak terlepas dari peran pengawas yang secara konsisten melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap satuan pendidikan.

Melalui gerakan nasional tersebut, Kementerian Agama berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dapat berjalan berkelanjutan dan menjadi fondasi dalam membentuk lingkungan pendidikan yang lebih inklusif, humanis, dan berkarakter. (*)